Terikat dalam Taat

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan segenap kesyukuran atas segala limpahan karunia yang telah Allah berikan, atas tiap tetes kesejukan dalam kebersamaan denganNya dalam sujud penghambaan. Semoga Ia golongkan kita hambaNya yang pandai bersyukur meski dalam kesempitan dan menjadi bagian dari mereka yang bersabar dalam kelapangan. Semoga keduanya, syukur dan sabar telah, tengah, dan akan tetap menjadi kendaraan kita untuk berpulang pada Allah Ar-Rahmaan. Senandung cinta shalawat dan salam bagi manusia yang terjaga dari dosa, manusia mulia, idola sepanjang masa, syafa’at darinya semoga terlimpah bagi kita yang mengikut jejak langkahnya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

 

Alhamdulillah…, itulah kata yang tak lepas dari lisan, terlebih hati yang lemah. Allah-ku…, syukur sebab Kau masih berkenan membimbing langkah-langkah kecil kami di jalanMu. Menyusuri tiap pijak penghambaan kepadaMu, Rabb…, semoga istiqomah menjadi hiasan yang tak luput dalam perjalanan panjang. Allah-ku…, sabar sebab mencintaiMu pun perlu ilmu, iman dan taqwa membutuhkan perbekalan pengetahuan yang mengarahkan kami pada kelurusan dan menjadi acuan juga pedoman selama perjalanan. Allah-ku…, betapa kami ini tiada daya selain dariMu, namun baju kesombongan dengan angkuhnya kami kenakan dan melupakan bahwa hanya Engkau yang layak memakainya. Dan inilah yang mungkin menjadikan kami semakin lemah, sebab seringkali melupakan, melalaikanMu dalam perjalanan.

Allah…, kami sadari dengan sepenuh hati bahwa kami takkan pernah sendiri di jalan ini, tapi…, salahkah jika kami berharap ada kawan yang menemani, menggandeng tangan ini, menyeragamkan gerak langkah ini? Ketika kami sendiri, betapa semakin besar ujian yang Kau beri. Ataukah memang beginilah caraMu mencintai kami??? Membiarkan kami berlari dalam kelemahan dan memohon agar Kau menguatkan? Ya…, semoga prasangka ini mendatangkan kebaikan dan jawaban bahwa Kau menyayangi kami dengan beragam uji.

*****

Ukhtifillah rahimallah, bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana pula kabar keimananmu kini? Maafkan…, maafkan aku yang mungkin kini terkesan mengabaikan, sungguh…, ketiadaan sapaku tak berarti hilangnya bayangan wajah-wajah teduh kalian dalam untaian rabithah di penghujung malam. Kadang, terpikir untuk sekedar mengajakmu bercanda, melepas penat yang mungkin tengah melanda. Kadang, terbersit untuk sekedar mengirimkan pesan singkat dan menyapamu hangat atau sekedar memberikan semangat ketika kau penat. Tapi, lintasan pikiran itu seketika sirna. Ada ketakutan yang tak semestinya menyelinap. Aku takut sapaku mengganggumu, mengusik ketenanganmu, sebab…, tak jarang kudapati kau sangat menikmati keseharianmu. Ukh…, aku rindu… Rindu pada semangatmu, rindu pada nasehat yang kau sampaikan bijak kepadaku. Aku pun rindu pada air mata tawadhu yang mengalir tenang dalam kepedulianmu pada saudarimu yang lain, saat kita bercengkrama dalam diskusi yang diselingi senyum dan air mata. Tidakkah kau merasakannya?

Aku takkan menyalahkanmu, tenang saja. Sebab, saat ini yang harus kita lakukan adalah melihat kembali keteraturan hati-hati kita. Adakah ia masih dalam ketaatan padaNya ataukah perlahan menjauh dariNya? Ya…, keimanan kita yang paling berhak ditanyakan kabarnya kini. Semoga kita masih ingat, bahwa hati-hati kita terikat dalam taat.

Hajiah M. Muhammad

Senin, 18 Maret 2013/6 Jumadil Awwal 1434 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s