Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Cinta bagi segalanya. Semoga Ia karuniakan kepada kita kejernihan hati dan akal pikiran untuk memahami betapa skenario yang telah Ia tentukan di mega server lauh mahfudz adalah yang terindah bagi setiap hambaNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada qudwah hasanah, manusia mulia, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan semoga kita adalah bagian dari umatnya yang istiqomah meneladani sunnah-sunnahnya. Allahumma aamiin.

Tak terasa, lebih dari sepekan sudah berlalu dari hari bersejarah itu. Ya, Kamis, 31 Januari 2013 atau bertepatan dengan tanggal 19 Rabi’ul Awwal 1434 H, janji suci itu terucap dari lisannya. Dari seorang asing yang kini menjadi imam dalam pelayaran sebuah keluarga mungil. Semoga barakah senantiasa membersamai kapal kita, meski membadai gelombang kehidupan, namun Allah takkan menguji di luar batas kesanggupan. Semoga Ia mampukan kita bertahan dalam iman hingga kelak berpulang dengan jiwa yang tenang, berjumpa dengan Allah Ar-Rahmaan. Aamiin.

Aku terkenang perjalanan panjang yang harus ditempuh sebelum akhirnya kuyakinkan dalam hati bahwa telah Allah karuniakan kepadaku seorang pendamping hidup yang bersamanya, telah kugenapkan separuh agama, dan semoga Allah mampukan untuk menyempurnakan sisanya dengan iman dan taqwa.

Saudaraku, mungkin banyak yang bertanya, mengapa secepat ini? Begitu mudahnya seorang Hajiah untuk menikah. Ah, kau hanya melihat yang tampak dan lupa bahwa banyak kisah yang tersembunyi menyertainya. Insyaallah kali ini akan kembali berbagi, tentang proses panjang untuk bertahan dalam penjagaan dan persiapan menuju pernikahan. Semoga Allah mengampuni kekhilafan dalam penyampaian. Bismillah.

Sekitar pertengahan September tahun 2012, aku memberanikan diri untuk bertanya pada ibu, ‘Bu, apa yang membuat ibu bahagia?’, dan aku masih menyimpan jawaban ibu ketika itu, ‘Kebahagiaan terbesar adalah keberhasilan dan kesuksesan anak-anaknya dalam mengapai asa dan cita-cita mulia yang diridhai Allah dan memberikan ketenangan dan kedamaian serta kenyamanan lahir dan batin yaitu hati dan fikiran tentram’. Sungguh, jawaban ibu menggetarkan dinding-dinding hatiku. Lisan terkelu. Aliran darah terasa beku. Oh Allah, semoga senantiasa Kau jaga ibu dalam naungan cintaMu.

Aku tak pernah menyangka akan sehebat itu jawaban ibu, karena biasanya, ibu hanya mengukirkan senyum yang khas dengan tatap matanya yang sendu. Oh ibu, betapa kesyukuran menemaniku atas karunia Allah karena terlahir dari rahimu, ibu. Dan aku lanjutkan untuk bertanya padanya, ‘Bu, ada request khusus gak untuk calon menantu? Mau menantu yang gimana, Bu?’ . Kali ini, senyum ibu lebih merekah, terkembang di wajah teduhnya. ‘Ka…, mungkin dulu ibu pernah bilang tentang siapa yang boleh jadi suami Kakak nantinya, tapi sekarang…, ibu yakin Kakak gak akan salah pilih, ibu ridha kalau Allah ridha, dan Kakak pasti pilih menurut pilihan Allah’. Allahu akbar! Dan lagi-lagi aku terkagum dengan jawaban ibu.

Dan terpikir bahwa jawaban-jawaban ibu adalah satu kemudahan yang Allah berikan bagiku untuk melangkah lebih jauh, mengikhtiarkan doa-doaku untuk menikah. Singkat cerita, di pekan ketiga bulan November 2012, ada pesan dari seorang kawan yang menanyakan nomor kontak murobbi (guru ngaji.red). Senyum kecil terlukis di wajahku ketika membaca pesan itu, mungkin terkesan biasa saja, tapi ketika itu entah ada hal apa yang membuat senyum begitu ingin dilukiskan meski hanya sesaat. Dan dari kawanku itu, kudapati berita bahwa ada seorang ikhwan yang hendak berproses (ta’aruf) denganku, seorang Hajiah. Ah, ada rasa malu, minder atau entah rasa apa lagi yang menghinggapi hatiku kala itu, tapi satu hal yang terus kulakukan adalah berdzikir, mengingatNya. Bukankah hanya dengan mengingatNya hati kan tentram?

Setelah itu, kawanku menjadi perantara untuk memutuskan apakah aku melanjutkan ke tahap tukar biodata ataukah tidak. Dengan mengharap keridhaan dan keberkahan dariNya, kuputuskan untuk mengirimkan lembaran curriculum vitae ke alamat email seorang ikhwan. Ya, terkirimlah biodata yang telah lama tak kuperhatikan, rupanya ia harus kembali berselancar di dunia surat-menyurat maya untuk kesekian kalinya. Kawanku sampaikan bahwa ikhwan yang bersangkutan telah mengirimkan CV-nya ke email-ku, tapi aku tak lantas membukanya. Kuhubungi murobbi untuk membuka isi biodata ikhwan tersebut dan aku menanti tanggapan beliau, aku bisa saja memberikan jawaban apakah lanjut proses dengan ikhwan atau tidak. Itu adalah hak prerogatifku, tapi aku butuh nasehat dari murobbi, bagaimanapun aku menghormatinya sebagai guruku, sahabatku, mungkin lebih dari itu.

Tertunjuk tanggal 4 Desember 2012 sebagai tanggal kami dipertemukan, Masjid Al-Husna, Rempoa jadi saksi bisu perjalanan panjang ini. Hembusan angin sore itu terasa begitu bersahabat, sepanjang jalan dari kampus menuju masjid dzikir terlantunkan, mengikuti alunan simfoni degup jantung yang tak tentu ritmenya. Aku gugup. Mungkin memang gugup, namun dzikir kembali menentramkan hati yang mungkin gundah.

Apa saja yang dipertanyakan ketika dipertemukan itu? Ada siapa saja disana?
Mungkin dua pertanyaan di atas yang muncul di benak kalian, *sok tau heheh*… Ketika ta’aruf, ada beberapa poin yang ada dalam list pertanyaan yang siap kuajukan kepada calon pasangan. Tapi, aku hanya ingin menekankan pada satu hal terkait dakwah muslimah. Mengapa hal tersebut yang jadi penekanan? Banyak kudapati cerita tentang ‘kemunduran’ gerak langkah para akhwat selepas mereka menikah, entah karena permintaan suami yang menginginkan mereka fokus mengurusi rumah tangga ataukah memang keinginan akhwat yang merasa berat menjalankan amanah di luar amanah sebagai istri sekaligus ibu nantinya. Oleh sebab itu, perlu ada ketegasan dalam diri *khususnya muslimah* bahwa pernikahan bukanlah melemahkan langkah kita dalam dakwah, justru seharusnya pernikahan menjadi gerbang menuju langkah-langkah yang lebih tegap, lebih kokoh berpijak. Bukankah menikah berarti telah tergenapkan setengah agama? Maka bertaqwalah kepada Allah untuk menyempurnakan setengah yang lainnya. Dakwah adalah jalannya. Semoga Allah memampukan kita semua mendapatinya. Aamiin.

Setelah pertemuan sore itu, didampingi murobbi dan suaminya, dari pihak ikhwan ditemani seorang kawan, aku meminta waktu sekitar 3 hari untuk memberikan jawaban apakah lanjut ke proses selanjutnya untuk silaturahim keluarga ataukah tidak. Istikharah menjadi kawan, hampir setiap ba’da shalat wajib, tertunaikan shalat istikharah untuk mendapati jawaban dari Allah atas proses ta’aruf ketika itu. Ada nasehat dari seorang kawan bahwa keyakinan kita atas jawaban dari istikharah tak mesti lewat mimpi, bahkan seringkali tak melalui mimpi. Sebab keyakinan atas jawaban dari pilihan dalam shalat istikharah adalah kemantapan hati, tanpa kecenderungan duniawi, semua berdasarkan parameter dari Allah, Pemilik hati.

Tanggal 11 Desember 2012, menjadi hari dimana aku dikenalkan kepada anggota keluarga dari pihak ikhwan. Berjalan seorang diri menyusuri hiruk-pikuk jalan ibu kota, menuju rumah seorang ikhwan untuk dikenalkan kepada keluarganya, menjadi hal yang cukup membuatku kembali gugup. Beragam perasaan hadir menghinggapi hati dan pikiran pun seakan tak karuan. Tapi selalu kuingat, bahwa hanya dengan mengingatNya hati kan tentram, akal pun akan berpikir jernih, insyaallah. Sore itu, aku yang terbiasa bawel, tetiba menjadi pendiam, entah apa sebabnya, tapi rasa malu jauh lebih meliputiku kala itu. Alhamdulillah, disambut hangat anggota keluarga dari pihak ikhwan. Rupanya, gugup masih menggelayuti segenap ruang pikiranku, sampai akhirnya proses perkenalan itu diakhiri dengan lelah yang cukup, lumayan hampir seharian terbalut rasa malu dan gugup.

Jum’at, 15 Desember 2012, kini giliran ikhwan yang silaturahim ke rumah orang tuaku, tapi sebatas perkenalan, belum lamaran atau juga disebut khitbah. Alhamdulillah, kedua orang tuaku menerimanya dengan lapang dan memberikan kebebasan kepadaku untuk memutuskan apakah melanjutkan proses ke jenjang lamaran ataukah cukup sekian. Beberapa hari setelah silaturahim ikhwan ke keluargaku, ditentukanlah tanggal akad nikah, yaitu 31 Januari 2013. Dengan berbagai pertimbangan, mulai dari persiapan akad dan resepsi pernikahan, sampai urusan mahar. Ketika itu, belum ditentukan tanggal lamaran, dan ditentukanlah 31 Desember 2012 sebagai tanggal khitbah. Selama masa penantian hari akad nikah, ujian terasa semakin berat. Mungkin disinilah syetan semakin gencar untuk merusak niatanku untuk menikah, menggenapkan setengah agama. Sepanjang doa, tak luput pintaku, ‘Yaa Allah, jika pernikahan ini baik bagiku juga agamaku, mudahkanlah urusannya, berkahi segala yang ada di dalamnya. Sungguh tiada daya selain dariMu, kuatkan hati yang lemah, kokohkan jiwa yang rapuh. Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal mawla wani’mannashiir, laa hawla walaa quwwata illa billahil’aliyyil ‘adziim’. Doa yang menguatkan, amalan harian yang menjadi asupan, suplemen keimanan.

Hingga hari itu tiba, masih tak menyangka bahwa sesaat lagi, akan tiba masanya. Saat Allah mengizinkan kalimat suci itu terucap, saat banyak pasang mata menatap, menjadi saksi janji yang agung lagi mulia, mitsaqan ghalidzaa. Ketika segala yang haram berubah menjadi halal, ketika segala yang terhitung dosa akan menjadi kucuran pahala dan semoga mendatangkan barakahNya. Menjelang detik-detik ijab-qabul, tak lepas mushaf dari genggaman. Menenangkan jiwa dengan tilawah, sesekali beristighfar, memohon ampunan kepada Allahu ghafur. Sungguh, hari itu seakan degup jantung berdetak lebih cepat, darah mengalir lebih deras dan tak tertinggal, air mata yang siap dilepaskan dari bendungannya. Saya terima nikahnya Hajiah Nurdiani binti Muhammad Nuh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! Suara itu terdengar begitu tegas terucap dari lelaki shalih yang telah Allah pilihkan menjadi imamku kini. Di balik tiang mushallah As-Sulaiman, tersungkur dalam sujud, hati tak henti berdzikir tumpahkan kesyukuran. Air mata menderas, melepaskan segala rasa yang ingin dicurahkan. Alhamdulillah…, alhamdulillah… Allahu akbar!

Aku adalah pilihan Allah untuknya, dan ia adalah pilihanNya untukku.
Ridhalah aku dan dirinya atas pilihanNya itu.
Yakinlah kami…, ini yang terbaik, bagi kami, dan semoga bagi orang-orang di sekeliling kami. Inilah aku, dengan segala yang ada padaku. Kelemahan yang mungkin tak ia suka, dan keterbatasan yang kan membuatnya harus berusaha. Bersabarlah menemaniku nanti.
Aku pun akan bersabar mendampinginya, menerima kekurangannya.
ya…, bersabar menjalani kewajibanku yang menjadi haknya. Ini bukanlah janjiku, namun ialah kesungguhanku tuk menaati titah Rabbku. Semoga beroleh keberkahan bagiku, juga baginya, dan bagi kita semua. Aamiin.

Hajiah M. Muhammad
Senin, 11 Februari 2013//1 Rabi’ul Akhir 1434 H
Tersungkur sujud dalam kesyukuran, terlantun dzikir tapaki kesabaran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s