Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Kami tak sedang berkompetisi untuk menduduki sebuah posisi, justru kami bertanya dalam hati, mampukah kami memimpin jama’ah ini? Kita tidak sedang bersaing dengan siapapun untuk menduduki jabatan. Sebab, proses panjang ini adalah sarana bagi kita untuk menempa diri, menata hati, meluruskan niat di jalan ini. Bahwa segala kontribusi akan memberikan arti selama dilakukan untuk Allah, Pemilik hati.

Amanah bukanlah semata tentang dimana posisi kita berdiri, namun lebih jauh dari itu, kita dididik untuk melangkah dengan segala keterbatasan yang ada. Dan tak lupa, untuk mengerahkan segala anugerah yang telah Allah titipkan di pundak-pundak kita. Menjadi keniscayaan bahwa sekecil apapun langkah yang kita tapaki, jejak-jejak yang dilalui akan menggoreskan sejarah kebaikan dan kebermanfaatan, semoga.

Kereta dakwah akan tetap melaju dengan atau tanpa kita di dalamnya, tapi, apakah kita ingin menjadi orang-orang yang tertinggal? Sedangkan karunia Allah jauh lebih melimpah Ia berikan kepada mereka yang pergi, bergerak ke medan juang. Saudaraku, arah tujuan kita jangan berubah. Langkah harus semakin tegak karena Allah bersama kita. Ia menuntun langkah-langkah yang lemah, mengokohkan pijakan yang goyah, namun bersamaNya, segala yang sulit menjadi mudah, insyaallah.

Tak sedikit dari saudara-saudara kita yang perlahan mulai hilang, atau bergerak mundur dari barisan. Apakah kita rela melepaskannya? Tidak! Aku yakin, kita takkan pernah rela melepaskan genggaman tangan yang selama ini menemani perjuangan. Tapi, sunnatullah adalah kepastian. Tetaplah bergandengan tangan, dalam takwa dan keimanan. Sebab keduanya adalah bekal perjalanan panjang yang kan kita lalui bersama.

Saudaraku, bergantinya tampuk kepemimpinan adalah keniscayaan yang kan silih berganti mewarnai hiruk-pikuk perjalanan. Adalah keniscayaan bahwa tak selamanya kita menjadi prajurit, tak selamanya pula kita menjadi panglima. Oleh karena itu, bersiaplah dimana pun posisi kita. Bukanlah jabatan di kepengurusan yang menentukan bagaimana kiprah kita. Namun lebih dari itu, kita diamanahkan tugas mulia, bersabar dalam kesabaran untuk menunaikan amanah-amanah dakwah dimanapun posisi kita. Entah sebagai jundi atau qiyadah, semua punya amanah. Ya, lagi-lagi harus kuulangi. Entah sebagai jundi atau qiyadah, semua punya amanah.

Lakukan saja yang memang diamanahkan, tunaikan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Kita tak sedang berkompetisi untuk menentukan siapa yang akan memimpin siapa. Tapi, kita sedang berkompetisi untuk berlomba dalam kebaikan, berlomba dalam memberikan segala bentuk kontribusi dan amalan terbaik, yang kan kita persembahkan sebagai cinta pada Maha Cinta, Allah Ar-Rahmaan.. Allahu Ar-Rahiim…

Ikhwah fillah rahimallah… Apa yangg sebenarnya kita takutkan? Sehingga langkah-langkah kita di jalan ini terasa begitu berat. Adakah kita lupa? Bahwa Allah tiada pernah menyalahi janjiNya? Takkan Ia berikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya. Mari kita ingat kembali. Atau mungkin kita terlalu malu untuk mengakui bahwa ada rindu. Ya, akui saja bahwa ada rindu untuk berjumpa dengan saudara-saudara kita dalam dakwah. Maka dari itu, tetaplah dalam jama’ah kebaikan ini, dalam barisan ini. Dan kita kan melangkah beriringan, bergandengan tangan, saling mnguatkan, dan saling mendoakan. Baarakallaahufiikum. Semoga Allah menguatkan pijakan, mengistiqomahkan kita dalam keimanan. Allahumma aamiin.

Hajiah M. Muhammad
Ahad, 20 Januari 2013/7 Rabi’ul Awwal 1434 H
Laa hawla wala quwwata illa bilaahil ‘aliyyil ‘adziim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s