Sedikit Berbagi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

 

Entah, aku bingung harus memulai dari mana. Tapi, aku telah memulainya dengan menyebut nama Allah, maka dengan itu, semoga Ia mampukan aku tuk berbagi dengamu, ya…, denganmu yang tengah membaca tulisan sederhana ini. Siapapun dirimu.

 

Kali ini, mungkin akan sedikit berbeda dengan kebanyakan tulisan yang pernah kubuat. Mengapa? Karena ini akan mengajak kalian (terlebih diriku) untuk lebih dalam, untuk apa? Lanjutkan saja membaca, dan kita akan ketahui bersama apa yang hendak aku bagikan lewat tulisanku ini.

 

Harapanku, semoga apa yang kutuliskan di sini tak sekedar menambah wawasan, karena siapalah aku? Hanya seorang yang mencoba belajar dari berbagai pelajaran yang Allah hadirkan dalam kehidupan, baik kehidupanku ataupun kehidupan orang lain. Mari kita lanjutkan.

 

Baiklah, aku takkan berlama-lama. *sigh* Bismillah…

 

Pernah satu waktu saya bertanya kepada seorang kawan, tentang kesiapan untuk menikah. Yup! Mungkin setelah saya menyebutkan kata tadi, ada yang senyum-senyum sendiri, atau mungkin ada yang kaget, karena saya sangat jarang membuat tulisan dengan tema pernikahan. Tapi, bagi yang sudah lama menyimak beberapa tulisan saya yang lama, mungkin akan menemukan tulisan serupa. Ehehhe.., ah, sudahlah…, kita lanjutkan ya 😉

 

‘Ka, gimana sih kita bisa yakin kalau kita udah siap nikah?’, jawaban kakak itu adalah, ‘Baarakallaahufiik, semoga Allah memberkahimu. Shalihah…, kesiapan kita untuk melangkah kesana terkadang memang sulit diperkirakan, apalagi untuk diukur. Gak ada parameter untuk mengukur kesiapan seseorang, terlebih urusan menikah’, saya ngangguk-ngangguk menyimak jawaban beliau, dan beliau melanjutkan kata-katanya. ‘Banyak orang yang menyatakan dirinya siap untuk menikah, tapi hanya sedikit dari mereka yang benar-benar mantap dengan kesiapannya. Dan dari yang sedikit tadi pun, mungkin belum siap sepenuhnya dengan kesiapan yang mantap. Lantas, apa yang bisa kita jadikan ukuran untuk mengetahui sejauh mana kesiapan untuk melangkah kesana’. Dan aku hanya menyimaknya sambil pikiranku dipenuhi satu tanya, sudah siapkah aku?

 

Menangkap dari apa yang disampaikan kakak tadi, aku coba tuk membuat satu kesimpulan. Bahwa kesiapan seseorang untuk menikah adalah ketika ia dengan segenap hatinya ridha atas apa-apa yang telah Allah gariskan dalam perjalanan hidupnya. Ya, sengaja ditulis dengan cetak tebal karena memang, inilah poin yang ingin aku sampaikan lebih mendalam. Detail, insyaallah sesuai dengan yang aku ketahui dan pahami. Insyaallah. ^_^

 

Adalah keniscayaan yang kan mempengaruhi banyak hal yang akan kita persiapkan jika kita menggunakan parameter yang telah Allah tentukan, dan juga dengan tuntunan manusia mulia, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

 

‘Wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya (kecantikannya), dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang baik agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian niscaya kamu akan merugi’ (HR. Bukhari – Muslim)

 

‘Jika datang (melamar) kepada kalian seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar’ (HR. Tirmidzi)

 

Sekiranya dua hadits tersebut di atas dapat kita jadikan rujukan untuk menentukan calon pasangan. Terkadang, seseorang yang sudah menyatakan bahwa dirinya siap untuk menikah mengabaikan pesan yang Rasulullah sampaikan dalam dua haditsnya. Itulah sebabnya di awal saya menyatakan bahwa kesiapan kita untuk menikah dilihat dari keridhaan kita terhadap apapun ketentuan yang telah Allah tetapkan. Termasuk di dalamnya siap menerima segala yang ada pada calon pasangan.

 

Saya jadi terpikir sedikit tentang hal ini, bukanlah mencari pasangan hidup yang sempurna sehingga ia layak untuk dicinta, namun jadilah engkau manusia yang senantiasa memperbaiki diri meski takkan sempurna, yang dengannya kau akan semakin dekat denganNya dan Ia mencintaimu, menjadikanmu layak dicinta. Sederhana, siapalah kita mendambakan pasangan hidup yang baik sedangkan diri sendiri masih bermalas-malasan membenahi diri. Jika menginginkan pendamping hidup yang baik agamanya, sibukan diri dengan perbaikan diri. Sempurnakan tiap inchi penghambaan kita kepada Allah, bersabar dalam masa penantian dan pencarian. Dan terus berdoa kepadaNya, yakin bahwa janjiNya adalah kepastian dan Ia adalah sebaik-baik penepat janji.

 

Kepada semua, khususnya seorang Hajiah, mari kita terus belajar untuk memperbaiki diri, dan yakinlah bahwa jodoh kita takkan tertukar. Bukankah janjiNya telah Ia ukir dalam syair nan indah di Al-Qur’an? Telah tertulis di pelataran wahyu, bahwa keshalihan akan menjumpai keshalihan, insyaallah. ^_^

 

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. An-Nuur (24):26)

 

Rabb..karuniakan kepadaku pendamping hidup yang shalih,

berakhlak mulia dan mencintaMu

sehingga ketika ku mencintainya, menguatkan kecintaanku padaMu.

 

Rabb…karuniakan kepadaku pendamping hidup yang shalih,

berakhlak mulia serta teguh pendiriannya mencintaiMu,

sehingga ku mencintainya, meneguhkan kecintaanku padaMu.

 

Hajiah M. Muhammad

Ahad, 13 Januari 2013/1 Rabi’ul Awwal 1434 H

Dalam doa

Advertisements

5 thoughts on “Sedikit Berbagi

  1. oh,,, sebentar lagi toh ya? wah…. berarti kabar2 anginnya bner nih 🙂
    pantes… kurang yakin untuk bantu2 di syi’ar 🙂

    oke deh,
    selamat yak… semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah 🙂
    dan… terimakasih atas bantuannya selama ini di syi’ar
    semoga apa pun yang hajiah kerahkan untuk membantu team, diRidhoi dan menjadi barokah untuk kehidupan barunya nih… 🙂

    afwan jiddan, klw2 saya ada salah ya… dalam komunikasi yang mungkin lost control, atau reminder2 yang seperti memaksa…

    setiap jalan pasti ada hikmahnya 🙂

    ahlan wa swahlan ukhti…
    SUKSES!!! 😀

    1. bersyukur bs belajar bnyk dr antum… talk less do more, sering ‘cambuk’ an u/bergerak..
      dg cara kita masing2… semangat berkarya!
      insyaallah selama msh bisa berkontribusi, siap menarikan jemari untuk nulis…

      1. insyAllah,,, berdo’a, mohon dido’akan, dan mendo’akan… 🙂 (kyknya zaman sekarang gak nulis ya,,, lebih ke “siap menarikan jemari untuk mengetik…)

        okeh,,, jzklh,,, 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s