Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Inilah yang seringkali digaungkan oleh sebagian besar orang yang menyebutkan dirinya sebagai mahasiswa, pembela suara rakyat. Disuarakan oleh mereka yang bosan dengan janji-janji para pemimpin negeri ini, Indonesia. Beragam permasalahan bangsa hadir silih berganti, bahkan ada yang hadir lalu tiba-tiba hilang seakan ditelan arus perubahan zaman. Lalu mahasiswa hadir dengan suara-suara lantang di depan gedung wakil rakyat atas nama bangsa Indonesia, ada yang melakukan aksi damai dengan melakukan long march sepanjang jalan protokol, dan tak sedikit yang menyuarakan aspirasinya dengan tindakan-tindakan anarkis. Apakah mahasiswa memang identik dengan hal-hal tersebut?
Di waktu dan tempat yang berlainan, para mahasiswa sibuk mengukir prestasi, baik mereka yang bergerak di bidang akademik maupun non-akademik. Mereka bukan tak peduli terhadap segala permasalahan bangsa, mereka punya cara tersendiri untuk menjadikan dirinya agent of change bagi negara tercinta, Indonesia. Apakah lantas mereka dianggap tak memiliki jasa bagi bangsa, sedangkan mereka telah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia?!
Dari dua gambaran peristiwa tersebut di atas, dapatkah kita mengambil pelajaran? Bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk kemajuan dan kemandiriannya agar tidak bergantung pada negara lain, termasuk PBB mungkin. Akan tetapi, kepada siapa harapan itu digantungkan? Pemuda! Ya, pemuda! Di tangan merekalah Indonesia dapat mencapai cita-citanya, menjadi bangsa yang mandiri di segala bidang kemasyarakatan, ekonomi, politik, sosial, budaya, lingkungan atau bahkan energi.
Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, pepohonan tumbuh mengangkasa, lautan membelah cakrawala. Namun, karena ulah sekelompok manusia tak beretika, manusia-manusia yang demi kepentingannya, melakukan kerusakan terhadap alam Indonesia. Penebangan hutan secara membabi-buta, buang sampah sekehendak hatinya, hingga alam rusak oleh sebab ulah tangan manusia. Di belahan bumi yang lain, Indonesia masih memiliki orang-orang yang mencintainya dengan segenap upaya menjaga kelestariannya. Pemberdayaan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyatnya, pengolahan hasil pertanian dan perkebunan untuk kemandirian perekomonian bangsa. Ya, Indonesia masih memiliki jiwa-jiwa yang akan terus menjaganya, mewujudkan cita-citanya, menjadi negara yang maju, berdaulat, adil, dan makmur.
Ketika berbicara mengenai pemuda, banyak hal yang menarik dan hal-hal yang menyenangkan. Dalam fase kesatriaannya, kita akan menemukan berbagai macam hal tentang pencarian jati diri dalam menyusuri tiap lembaran mozaik masa depan yang masih terlihat samar. Sebuah pepatah mengatakan, “Negara yang tangguh salah satunya bisa dilihat dari sosok pemudanya”. Bahkan Rasulullah mengisyaratkan bahwa pemuda adalah salah satu dari lima pilar yang dibutuhkan untuk membangun negara tangguh selain pemimpin yang adil, ulama, wanita shalihah, dan umat yang baik.
Jika ada yang bertanya, “Mengapa harus pemuda? Maka jawabnya adalah, karena pemuda adalah pemimpin masa depan, sebagai potret bangsa di masa yang akan datang dan arena pemuda adalah agent of change (agen perubahan). Dalam perjalanan panjang yang dilakukan untuk mengemban tugas sebagai agent of change, diperlukan empat syarat utama sebagai penolong. Keempat syarat tersebut adalah iman, ikhlas, kemauan hati dan strategi pelaksanaan. Semua persyaratan tersebut hanya dapat ditopang oleh kaum muda. Sebab kaum mudalah yang menjadi tumpuan harapan perjuangan umat dari dahulu hingga sekarang. Seperti pernah diungkapkan oleh Umar Ibn Khaththab, beliau mengatakan bahwa sesungguhnya pada tangan pemuda itu urusan umat dan pada kaki mereka adalah kehidupannya.
Ada dua aspek mendasar yang harus dimiliki oleh seorang agen perubahan, terutama untuk menjadi problem solver, sebagai berikut; Pertama, antusiasme untuk bergerak yang luar biasa, yakin dan puas dengan bergerak, dan memberikan dedikasi tinggi dalam pergerakan dengan segala kemampuan dan instrumen yang dimilikinya. Semua ini merupakan syarat fundamental bagi para agen perubahan. Kedua, pengaruhnya yang sangat dalam terhadap para sahabat dan orang-orang di sekelilingnya, serta kesuksesan yang spektakuler dalam pendidikan dan kaderisasi. Membangun peradaban dengan gerakan nyata, membangun generasi-generasi yang cerdas, berketuhanan dan menginspirasi.
Pemuda tidak cukup hanya bertugas menjelaskan zaman, namun juga harus melampuinya dengan mengubah zaman, karenanya, di tengah zaman yang bergerak, masyarakat membutuhkan pemuda yang bergerak. Jadilah pemuda yang bergerak, karena hanya ada dua pilihan dalam kehidupan. BERGERAK ATAU MATI !! Jika semua pemuda bertekad untuk menjadi pemuda berkualitas, impian akan ketangguhan negara nantinya, besar kemungkinan akan terwujud. Karena di hadapan kita, akan muncul lagi pemuda-pemuda tangguh yang mengikut jejak Jenderal Soedirman, Soe Hok Gie dan pemuda lainnya. Dengan kemampuan mereka masing-masing, sehingga namanya terukir tinta emas dalam sejarah peradaban. Lantas, bagaimana dengan usia muda kita?! Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan diri dan jadilah penerang!!!

Hajiah M. Muhammad
15 November 2012//1 Muharram 1434 H
Resolusi sederhana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s