Bismillahirrahmaanirrahiim.

‘Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat dzolim dan sangat bodoh’ (QS. Al-Ahzab (33):72)

Ikhwahfillah rahimallah, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga kesyukuran senantiasa mengiringi perjalanan sehari-hari. Saudaraku, bagaimana kabar hatimu hari ini? Semoga kejernihan senantiasa membersamai penghambaan padaNya. Bagaimana pun kabarmu hari ini, semoga Allah senantiasa memberkahimu, menjagamu, mencurahkan segala karuniaNya kepadamu. Dan doakan aku di sini, agar Ia menggolongkanku ke dalam golongan orang-orang yang bertahan, istiqomah dalam ketaatan padaNya. Allahumma aamiin.

Ayat tersebut di atas, mengingatkanku ketika awal kepengurusan di komisariat dakwah…, dua fakultas keagamaan yang disatukan, Ushuluddin dan Dakwah.., menjadi warna yang sangat beragam sepanjang perjalanan mengemban amanah ini. Teringat ketika namaku disebutkan oleh tim formatur, mengemban amanah yang aku tak tahu apakah sanggup menunaikannya. Tubuh lemas, air mata terkuras. Sungguh, Allah pun turut serta memberikan amanah itu kepadaku, karena Ia tahu, bahwa aku mampu. Ya, amanah ini bukan semata kesepakatan tim formatur ketika musyawarah kala itu, melainkan ada peran serta Allah di dalamnya. Bagaimana tidak? Allah adalah pihak yang paling mengetahui kemampuan masing-masing hambaNya, pun dengan diriku. Satu hal yang kuyakini hingga kini, bahwa amanah ini bukanlah beban, melainkan ujian…, tangga-tangga keimanan yang harus kutapaki untuk mendekatiNya, untuk lebih dekat denganNya.

Tiap kali mengingat sepanjang perjalananku…, apakah yang telah kulakukan? Apakah yang telah kuberikan untuk dakwah ini? Apakah yang telah kuberikan untukNya? Untuk Ia yang selalu menemani langkah-langkah sepi, Ia yang tak pernah membiarkanku dalam sunyi. Allah, aku mencintaiMu, mencintai caraMu mencintaiku. Jalan ini ramai kawan, ramai dengan hujatan, cibiran, celaan, aral melintang di hadapan, bebatuan yang terkadang membuat kita harus berjalan lebih pelan. Jalan ini ramai kawan, ramai dengan ujian. Jalan ini sepi? Ya, jalan ini memang sepi. Sepi dari orang-orang yang berjuang, sepi dari orang-orang yang berkorban. Aku menyampaikan ini bukan untuk menyudutkanmu, melainkan untuk mengingatkan diriku sendiri, mengingatkan kembali bahwa amanah ini harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di akhir kepengurusan, akan tetapi yang lebih memberatkanku adalah ketika amanah ini akan dipertanggungjawabkan di yaumil hisab kelak.

Tak terasa, amanah di kepengurusan ini akan segera berakhir, semakin dekat dengan akhir kepengurusan. Apakah yang telah dikontribusikan? Adakah perjuangan dilakukan untuk mendapat keberkahan dan keridhaan ataukah hanya sebatas penggugur kewajiban? Astaghfirullah, rasanya aku tak mampu membayangkan ketika nanti di hari perhitungan, Allah tanyakan, apa yang kau lakukan dalam kepemimpinanmu? Bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah? Sedangkan kita masih saja lalai dari amanah-amanah ini? Masih saja sibuk mengurus hal-hal yang semakin melemahkan langkah-langkah yang memang mudah goyah? Semoga ampunan Allah masih seluas kasih sayangNya bagi kekhilafan dan kelalaian kita.

Saudaraku, pernahkah kita tanyakan pada masing-masing hati kita, apa yang sebenarnya kita tuju? Apa yang mendasari kontribusi kita dalam jama’ah ini? Jika jawab dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah Allah,lantas mengapa kita melemah? Kecewa dengan jumlah yang sedikit? Berapa jumlah pasukan muslim ketika perang badar? Keberhasilan dakwah tidak diukur dari berapa banyak objek dakwah yang masuk barisan ini, bukan, sungguh bukan. Mari luruskan niat-niat kita, barang kali masih ada kemaksiatan yang kita lakukan. Perbaiki amalan, karena kerja kita adalah ibadah, semoga Allah memberkahi langkah-langkah perjuangan. Semoga Allah senantiasa membersamaimu, di tiap helaan nafasmu, di tiap pijak langkahmu, dan di tiap gerak perjuanganmu. Menganugrahkan bagimu kesabaran, keikhlasan, dan keistiqomahan dalam kebaikan. Mencahaya, bersinar, menerangi semesta.

Hajiah M. Muhammad
Selasa, 6 November 2012//21 Dzulhijjah 1433 H
Dalam perenungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s