Mengapa Aku Galak

Bismillaah.

Dengan nama Allah atas segala kasih sayangNya, segala puji bagi Allah atas segala karuniaNya. Shalawat dan salam tercurah pada qudwah hasanah, manusia mulia, Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam.

Sudah lama rasanya tak berkontemplasi dengan tulisan, tapi kali ini saya hanya ingin membiarkan jemari menyampaikan apa yang mengitari hati dan pikiran beberapa waktu terakhir. Semoga Allah jernihkan hati untuk menuliskan agar akal mampu berpikir jernih menuangkan pikiran.

Bagi sebagian orang yang sudah mengenal saya, akan lucu dengan tulisan kali ini, atau mungkin juga mereka menganggap ini sebuah keanehan atau anggapan-anggapan lainnya. Dan boleh jadi ada yang justru menganggap ini adalah hal yang biasa mereka dapati di kehidupan saya sehari-hari. Lalu bagaimana dengan yang belum mengenal saya? Tak apalah jika anggapan-anggapan itu bermunculan, saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal menyangkut urusan hati.

Ingat hadits ini? ” Bersabda Rosululloh SAW : Ingatlah di dalam jasad manusia itu ada sepotong daging, tatkala sepotong daging itu baik, baiklah jasad keseluruhannya dan tatkala rusak (sepotong daging itu), maka rusaklah jasad keseluruhannya. Ingatlah dia itu hati”

(Hadits Riwayat An Nu’man bin Basyiir – Mustafaqu alaih).

Dari hadits tersebut di atas, dapat dengan jelas kita ketahui bersama bahwa hati memiliki peranan yang sangat penting. Kebanyakan manusia akan sangat memperhatikan kesehatan jasmaninya, dengan berolah raga atau mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup nutrisi untuk pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan hanya sedikit orang yang memperhatikan kesehatan hatinya. Jangankan untuk melakukan general check up seperti yang dilakukan pada kesehatan jasmani, untuk sekedar menanyakan kabar hati sendiri saja seringkali terlupa. *astaghfirullah T_T*

Atau mari kita buka surat cintaNya,

“ Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj (22):46)

Matamu masih bisa melihat? Masih dapat membedakan mana warna hitam dan mana warna putih? Bersyukurlah, tapi jangan lupa untuk memperhatikan hatimu. Apakah ia mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil? Bukanlah mata itu yang buta, melainkan hati yang ada dalam dada. Ya, inilah sebab hati yang keruh, sehingga ia tak mampu lagi membedakan mana kebaikan dan mana keburukan.

Jujur, gregetan banget sama diri sendiri. Ini yang ada di pikiran kok susah amat dituangkan? Semoga Allah masih memberikan segenap daya kepada saya untuk melanjutkan tulisan sederhana ini. *sigh*

Poin besar yang ingin saya sampaikan mungkin sudah banyak ditulis oleh mereka yang lebih berkompeten, sebut saja Syaikh ‘Aidh Al-Qarni yang secara bertahap menulis buku saku dengan tajuk Cambuk Hati, tapi semoga dengan sedikit ilmu dan kepahaman yang saya miliki dapat dengan bijak menyampaikannya. Semoga Allah mengampuni kekhilafan sepanjang penulisan. Allahumma aamiin.

 

Oke! Akan saya paparkan dengan lebih jelas. *ribet sendiri :p*

Maksud tulisan ini sebenarnya sangat sederhana, saya ingin mengajak kalian untuk memperhatikan kesehatan hati agar apapun yang dilakukan berdasarkan pada tuntunan al-qur’an dan al-hadits. Bagaimanapun keshalihan atau tingkat keimanan seseorang tidak ada yang terlepas dari bujuk rayu syetan, di sinilah yang seringkali terlupa, sehingga mengabaikan kesehatan hati sebagai ‘mata’ untuk melihat dan membedakan antara yang haq dan yang bathil.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan. Bagaimana pendapatmu tentang interaksi atau komunikasi dengan lawan jenis di dunia maya atau melalui alat komunikasi lainnya *handphone, tab atau lainnya*? Pertanyaan yang sangat sederhana dan juga membutuhkan jawaban sangat sederhana. Mengapa demikian? Karena setiap individu akan memberikan jawaban yang berbeda-beda, tergantung kepada pemahaman dan hal-hal terkait yang diyakini benar. Tapi kali ini, saya tak akan memberikan beragam jawaban tersebut. saya

Saya akan persempit tulisan ini, dikhususkan kepada mereka yang mengemban amanah-amanah dakwah! Betapa permasalahan hati sebab interaksi dengan lawan jenis menjadi pemicu keruhnya hati, pergerakan dakwah pun tak lagi memberi arti, sebab amanah-amanah yang tertunaikan sebatas penggugur kewajiban atau tak sekedar pelaksanaan program dalam sebuah kepengurusan organisasi dakwah.

Pernahkah kamu mendengar cerita tentang ‘kenakalan aktivis dakwah’? Atau mendapati kisah-kisah romantisme para aktivis dakwah sebelum menikah? Semoga Allah mengampuni kekhilafan saya dalam menyampaikan tulisan ini.

Akan coba diuraikan, sebab mengapa terjadi hal-hal tersebut di atas. Mulai dari hubungan ‘kakak – adik’ antara ikhwan dan akhwat yang bukan mahram, sampai kepada mereka yang mungkin tak ubahnya melakukan ‘pacaran’ ala aktivis dakwah. *astaghfirullah* Sungguh, menyusun tulisan ini seperti menampar diri sendiri sekeras-kerasnya. T_T

  • Menganggap ‘biasa’ dan remeh gaya bahasa berkomunikasi verbal (kata-kata, emoticon, atau lainnya. Di antara kita mungkin ada yang begini, menganggap biasa saja. Misalkan saja, penggunaan emoticon :D, di jejaring sosial akan menggambarkan wajah yang nyengir atau tertawa lebar. Atau yang lebih dari itu, ada yang memakai emoticon ;), yang ketika itu muncul akan menggambarkan mata yang berkedip (sebelah kanan atau kiri). Mungkin di antara kalian ada yang menganggap saya terlalu ribet,  kolot atau bahkan norak. Silakan saja beranggapan demikian, tapi mari, tulisan ini dibuat bukan sekedar bacaan, saya maksudkan untuk mengajak sahabat-sahabat sekalian untuk lebih memperhatikan urusan-urusan yang dianggap kecil. Bukankah ember yang berisi air dari keran terisi sedikit demi sedikit? Di sinilah syetan berperan, melakukan tipu daya dan membuat manusia lalai dari mengingat Allah.
  • Melampaui ‘jam malam’. Pernah satu waktu ada seorang akhwat yang kurang menerima saat saya mengirimkannya pesan singkat…, ‘Shalihah, udah larut, *waktu itu jam mendekati angka 11, malam*, dilanjutkan besok aja yah Fb-annya J’ . Akhwat tersebut tidak langsung membalas pesan saya itu, akan tetapi, dia membuat status di akun Facebooknya, ‘Ribet banget sih ngurusin orang OL, emang siapa LO?!!! Saya hanya tersenyum membaca pernyataan tersebut, sambil terus beristighfar dan mendoakan agar Allah tetap menjaganya. Di organisasi kampus yang saya ikuti, ada pemberlakuan jam malam, yaitu pukul 22.00, yang artinya, interaksi dengan lawan jenis lewat dari waktu tersebut dilarang! Baik melalui handphone, social media, atau semacam Yahoo! Messenger dan yang lainnya. Pada hakikatnya, pemberlakuan jam malam tersebut bukan untuk membuat kita terbebani, melainkan hal tersebut merupakan upaya bersama untuk saling menjaga, ya…, saling menjaga satu dengan yang lainnya.
  • Hilangnya ke-jaim-an terhadap lawan jenis. Jaim yang saya maksudkan bukanlah jaga image, seperti yang banyak diketahui orang, melainkan jaga iman. Dari Abul Abbas bin Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma dia berkata: Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda, “Hai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. (HR. Tirmidzi, dan ia mengatakan: Hadits Hasan)

Seseorang yang menjaga keimanannya akan senantiasa merasa diawasi Allah (muroqobatullah), meyakini bahwa Allah selalu mengawasi dan melihat apapun yang dilakukannya. Inilah yang menjadi sebab paling krusial dari beragam ‘kenakalan aktivis dakwah’. Seolah materi-materi pengajian, bab-bab dari buku bacaan tentang keagamaan berlalu begitu saja. Semoga Allah menghindarkan diri kita dari kesombongan agar Ia mudahkan pemahaman menyerap pelajaran dan hikmah yang Ia hadirkan.

Ukhtifillah rahimallah, sungguh diri ini pun tiada luput dari kelalaian, maka kuharap kau tak pernah segan untuk menegur kekeliruanku, membenarkan kesalahan yang kulakukan, meluruskanku jika kau dapati aku berbelok dari jalan yang lurus. Sungguh, tulisan ini adalah tanda cintaku kepadamu, aku hanya ingin kita menjaga hati-hati kita dari segala yang dapat melemahkannya. Hati wanita diciptakan penuh dengan perasaan, jika tulisan ini tak sampai menyentuh perasaanmu, kupasrahkan pada Allah untuk membimbing hati-hati kita agar senantiasa terjaga, dalam kasih dan sayangNya, dalam keberkahan dan keridhaanNya. menjagaNya, Pemilik dan Penguasa hati-hati manusia.

Aku yang mencintaimu, karenaNya.

Hajiah M. Muhammad

Kamis, 25 Oktober 2012 // 9 Dzulhijjah 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s