Untukmu, Saudaraku

Bismillaah. Dengan namaMu duhai Allah…, semoga tulisan ini menginspirasi hati-hati yang masih ragu akan kepastian janjiMu pada kami.
Ukhtifillah rahimallah…, saudaraku yang dirahmati Allah, semoga engkau masih dalam penjagaan dan perlindungan, serta naungan cinta kasihNya. Bahwa kewajiban yang Allah berikan kepada kita semata untuk meninggikan derajat sebagai orang-orang yang mengaku beriman. Bahwa kewajiban yang Allah berikan adalah semata kecintaanNya kepada kita, tidakkah kita rasakan? Betapa Ia senantiasa memperhatikan, senantiasa memberikan pertolongan. Betapa Ia senantiasa melimpahkan kasih dan sayangNya, tanpa lupa Ia selalu berikan udara yang sejuk di tiap pagi. Betapa Ia senantiasa memberikan karunia dan anugerahNya di tiap desah nafas dan pijak langkah kita. Maka marilah sini saudaraku, sejenak kita mengingat kebaikan dan keburukan apa saja yang kita lakukan kepadaNya, sebagai Pemilik hati-hati kita.
Dari sekian banyak kenikmatan yang kita dapatkan, adalah iman dan Islam yang Allah hadiahkan. Saudaraku, pernahkah kita bertanya pada hati-hati kita, sudah sejauh mana kita mencintaiNya? Pernahkah kita bertanya pada hati-hati kita, sudah sedalam apa penghambaan kita padaNya? Atau bahkan sujud hanya sebatas menempatkan kepala lebih rendah namun tetap tinggi hati di hadapanNya. Apa yang kita punya??? Apa yang pantas kita banggakan dari seonggok manusia yang terbentuk dari air mani yang hina, sedangkan kau masih saja enggan memenuhi titahNya???
Dari sekian banyak kepastian janjiNya, mengapa masih saja kita ragu meyakini? Saudaraku, wahai bidadari bumi yang merindukan jumpa dengan Rabbnya. Apakah yang membuatmu masih ragu untuk menaatiNya, untuk membuktikan kecintaanmu padaNya? Apakah yang membuatmu masih enggan melaksanakan tuntunan RasulNya? Tidakkah kau sadari, betapa engkau berharga di hadapanNya dengan pakaian takwa? Tidakkah kau sadari, betapa engkau bernilai di hadapanNya dengan kesucian jiwa?
Dari sekian banyak curahan kasih sayangNya, mengapa masih saja ada yang lebih dicintai daripada mencintaiNya? Masih saja ada thaghut yang menjadikan kita lalai mengingatNya, menjadikan kita lena dalam fatamorgana dunia. Saudaraku, tidakkah kau sadari betapa cintaNya mengalir deras dalam kehidupanmu, lalu mengapa engkau masih tak balas mencintaiNya agar Ia lebih mencintaimu. Betapa kasih sayangNya deras Ia alirkan di tiap nafas yang terhembus, di tiap detak jantung dan pada tiap aliran tetes-tetes darah yang mengalir dalam tubuhmu. Tidakkah sedikit saja kau menyadari itu semua, hingga kau paksakan jiwamu mencintaiNya dan perlahan Ia yang kan bimbing agar kecintaanmu padaNya tumbuh subur, membumbungkan penghambaan yang utuh, menyeluruh. Patuh.
Ada ketidakselarasan di sini, pada relung hati. Dimanakah kita posisikan Allah? Iman tak sampai di ujung lisan, tak cukup terpatri dalam hati, tetapi juga terlahir pada amalan untuk Ia yang Mahatinggi. Iman tak sampai pada bagaimana pemahaman, tak cukup bagaimana pengertian, tetapi pada bagaimana pengamalan dari pemahaman dan pengertian akan keimanan. Ya, tak dapat dipungkiri, bahwa amal adalah buah dari keimanan. Ahh, tidak. Masih ada yang belum disebutkan. Apa? Keikhlasan. Bagaimana menyelaraskan antara keimanan dari pemahaman, keikhlasan agar terlahir amalan-amalan muntijah (produktif)?
Mengapa pemahaman lebih awal dari keikhlasan dan pengamalan? Sederhana saja, ketika kita sudah memahami mengapa Allah memerintahkan kita, maka kita akan mengetahui dan mengerti maksud dan tujuan perintah tersebut. Misal, tentang perintah menutup aurat. Sudah sangat jelas Ia sampaikan dalam surat cintaNya;

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab (33):59)
Mengapa Allah memerintahkan perempuan menutup auratnya? Seperti halnya permen yang terbungkus rapi dan yang tak tertutup bungkus. Menurut penglihatan sekilas saja sudah dapat kita ketahui beda dari keduanya. Permen yang terbungkus akan terjaga dari kerumunan lalat atau lainnya, berbeda dengan permen yang tak terbungkus. Akan ramai dengan kerumunan lalat. Maukah?
Setelah ada pemahaman, maka ikhlaskanlah. Bagaimana melakukannya? Ikhlas adalah sesuatu yang abstrak, tak tampak. Namun dari ketidaknampakannya, ia membekas, mencipta jejak manfaat. Tak terlihat tak berarti tiada, sepakat? Ya, inilah tentang keikhlasan yang aku pahami. Bahwa ia tersimpan rapi, bahkan diri pun tak layak mengetahui dimana keberadaannya. Biar saja Allah yang melihatnya, cukuplah itu.
Dari pemahaman dan keikhlasan, terlahirlah amalan. Saudaraku, yakinlah tiada yang tersia dari tiap peluh keringatmu, dari tiap tetes air matamu. Bukankah Ia telah menyatakan dengan sangat nyata dalam firmanNya;

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.(QS. Al-Zalzalah (99):7-8)
Saudaraku, tak mudah memang, tetapi bukan lantas kita boleh menyerah lalu kalah. Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Perjuangkanlah ketika kau dihadapkan pada peperangan antara hati dan egomu. Tabiat manusia adalah cenderung melakukan kebaikan. Tiada yang tak mungkin jika kita bersungguh-sungguh, jika kita melangkah bersamaNya, menujuNya. Yakinlah, Ia yang kan membimbing langkah-langkah yang goyah, Ia yang kan menguatkan hati-hati yang lemah. Maka bermohonlah padaNya, semoga Allah senantiasa kita hadirkan dalam tiap detik yang kita lalui. Selamat bermujahadah, menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang meniti cintaNya untuk kembali pulang.

Bumi Cinta, 25 April 2012/3 Jumadil Akhir 1433 H
*Merenung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s