Tentang Rasa Itu…

Senja menuju salah satu tempat bersejarah dalam hidupku. Mengendarai motor dengan kecepatan yang tak penuh. Hanya sekitar dua puluh hingga enam puluh. Menikmati tiap sapaan angin yang membelai lembut. Pancaran sinar matahari sore itu cukup menyilaukan. Meski agak menghalangi jarak pandang, tetap kusyukuri kehangatan dan keramahan sapaannya. Terus melaju hingga akhirnya sampai pada tempat yang kutuju.

Jalan yang diwarnai kemacetan menghiasi pemandangan. Kendaraan yang saling mendahului. Aku masih dengan ketenangan menikmati perjalanan. Hingga akhirnya tiba sebelum azan maghrib dikumandangkan. Terlibat diskusi ringan dengan seorang kawan.

Bermula dari bercerita tentang kenangan masa lalu yang dilewati. Canda tawa menghiasi. Dan…, azan berkumandang. Selesai tunaikan shalat maghrib, masih ingin di sini. Rasanya ingin lebih berlama-lama. Dan kumulai pembicaraan. Bercerita tentang banyak hal. *Rasa-rasanya diri ini sudah terlalu banyak bicara*. Tetapi tak mengapa. InsyaAllah ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran. InsyaAllah.

Kuhela nafas cukup panjang Bismillah. Mungkin cerita ini agak menyedihkan. Tentang rasa cinta dalam diam. Iya.., cinta dalam diam. Adalah fithrah manusia bahwa telah Allah anugrahkan cinta nan suci itu hadir di tiap hati hambaNya. Akhwat itu tak menahu bahwa pada akhirnya rasa itu harus ia kubur dalam-dalam. Bermula dari rasa kagum pada seorang ikhwan. Dengan harokah yang militan. Dengan kecintaannya pada dakwah yang menerangi. Dengan keshalihan yang terjaga dengan ketaatan. Namun disayangkan, sang akhwat belum ada kesiapan melangkah lebih jauh untuk melabuhkan cintanya dalam ikatan pernikahan. Ia berusaha menguatkan hatinya, bahwa jodoh takkan kemana. Dan takkan tertukar dengan jodoh orang lain. Detik berganti menit, menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari terus berganti pekan. Pekan berlalu dan berganti bulan. Bulan berlalu dan berganti tahun. Tahun demi tahun rasa itu menghiasi hatinya yang rapuh.

Hingga akhirnya di suatu hari yang dijalani sebagaimana biasa. Sang akhwat agaknya terkejut. Seakan luluh lantah segala rasa di hatinya. Sang ikhwan yang dikaguminya, yang dicintainya (dalam diam). Ikhwan mengundangnya untuk hadir dalam walimatul ursy sang ikhwan dengan muslimah lain pilihannya.

Sungguh segala ketentuan Allah adalah yang terbaik. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Haruslah diterima dengan lapang dada. Dengan segala keridhaan dan pengharapan akan kasih sayangNya. Telah Allah tetapkan jodoh, rizki, maut untuk tiap hamba jauh sebelum ada di dunia.

Dan kumohonkan pada Rabb yang Maha Agung, moga akhwat semakin dikuatkan kecintaan pada Rabb-nya. Semakin didekatkan dengan Rabb-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s