Tentang Istilah yang Kita Sebut Ukhuwah

Bismillaah.
Pada syahdu dengan sapaan lembut angin sore ini. Pada teduh dengan lampu yang temaram di ruang ini. Pada ramai canda tawa di waktu yang tak biasa ini. Pada hangat senyum dan ramah sapaan sesama saudara. Mari sini saling genggam jemari agar dosa tergugur tiada henti. Mari sini saling bertatap mata agar degup terasa seirama. Dan nikmatilah tiap ritmenya, tiap detak jantung yang membersamainya. Betapa indah kita rasa jika dirasa bersama. Inilah satu tentang persaudaraan yang kita sebut ukhuwah.

Seumpama telaga di gurun Sahara. Seperti tetes embun di ujung dedaunan. Seperti rintik hujan pada kering tanah yang merindu siraman. Laksana rasi bintang di langit malam, terang tak menyilaukan. Bagai komunitas pinus di pegunungan, berbaris rapi mengikut titah Tuhan. Dan nikmatilah dimana pun posisi kita, apakah sebagai prajurit atau panglima di medan pertempuran. Betapa indah kita rasa jika dijalani bersama. Inilah satu tentang persaudaraan yang kita sebut ukhuwah.

Namun tak selamanya langit cerah. Tak selamanya bunga merekah. Tak selalu jalan yang kita lalui mudah. Dan begitulah ukhuwah. Ada masa kita saling terjaga, pada ego juga amarah. Ada masa kita saling merasa, pada perih juga sesak dalam dada. Ada pula masa dimana kita tak saling sapa. Ada masa jua dimana kita tak saling bertukar cerita. Dan yang paling menyakitkan adalah pada satu masa dimana nasehat tak lagi menjadi obat. Saat nasehat tak lagi menyadarkan. Saat nasehat tak lagi menjagi pengingat. Mari kita tengok hati-hati kita. Adakah ia masih bercahaya atau gulita?

Saudaraku, izinkan pada kesempatan ini kusampaikan. Pada kalian jiwa-jiwa penuh semangat perubahan. Pada jiwa-jiwa kalian yang senantiasa merindu kemenangan Islam. Pada kalian, jiwa-jiwa yang senantiasa menggebu tuk capai cita dan asa. Pada kalian, jiwa-jiwa yang telah Allah pilih tuk bersama berjuang. Semoga Allah senantiasa menautkan hati-hati kita dalam ketaatan, dalam ketundukpatuhan, dalam penghambaan pada Allaahur Rahmaan. Semoga Allah senantiasa menguatkan pijakan, meneguhkan kerapuhan, mengistiqomahkan langkah-langkah yang terkadang salah arah. Inilah aku dengan kecintaan padaNya, untukmu saudaraku.

Bumi Cinta, 4 Mei 2012/12 Jumadil Akhir 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s