Tak Terlihat Tak Berarti Tiada

Jam di layar handphone menunjukkan angka 01.00, dan mata ini masih terjaga. Di sela kantuk yang menyapa, ingin sejenak menuangkan rasa pada lembaran sederhana. Ingin sebentar saja bercerita, berbagi kisah yang entah tentang apa. Adakah yang ingin menyimaknya? Atau sekedar membaca tulisan dari seorang aku yang begini adanya. Baiklah, mari memulainya.

***
Sore itu, seperti di banyak waktu luang. Menyandarkan bahu pada tembok yang kokoh itu. Pena dan buku menjadi saksi bisu. Sesekali memandang sekitar, mencoba tuk membaca apa yang tengah dilakukan kebanyakan orang. Sesekali juga menarikan pena di atas buku. Menuliskan apa saja, ya…, begitulah kebiasaan yang sejak lama kulakukan. Di tengah ragam persoalan kehidupan, duduk bersandar menjadi hiburan. Tanpa teman di sisi kiri atau kanan. Dan tetap kunikmati masa-masa seperti ini, boleh jadi suatu hari nanti akan sulit kulakukan kembali. Tapi, bolehkah aku meminta padaMu? Aku ingin kebiasaan ini dapat terus kulakukan, karena dengannya aku merasakan Engkau memperhatikan dan tak meninggalkanku dalam kesendirian. Oh Allah…, betapa beruntungnya aku mengenalMu, mencintaiMu dan menghambakan diri padaMu.

Ada yang diperhatikan tapi acuh. Ada yang diperhatikan hanya diam, tapi diam-diam memperhatikan. Ada yang luput dari perhatian, tapi berupaya semampunya menarik perhatian. Dan ada yang tak diperhatikan tapi senantiasa memperhatikan. Matanya diam. Tapi mampu menyedot bayang dari balik tatapnya. Seolah ada kekuatan yang menarik, memikat untuk selalu dekat. Apakah memang begini manusia ketika memperhatikan? Mereka selalu punya cara yang tak terduga.

Pernah kusampaikan pada seorang kawan, aku takkan menuntut Rabbku agar Ia gerakan hatimu untuk menyayangiku sesuai dengan inginku, hanya satu yang kupinta padaNya, agar Ia senantiasa menautkan hati-hati kita dalam naungan cintaNya. Ada perih yang sebenarnya kurasa, tapi bukankah ketika aku berlabuh padaNya akan menyembuhkan segala luka? Maka aku melakukannya. Dan terurailah kalimat pengokoh jiwa. Ada rasa ingin menuntutmu, tapi semakin rasa itu dituruti, semakin melemahkan pengharapan terhadapNya. Melarutkn diri dalam kerinduan dan doa diperaduan menjadi satu penawar kegelisahan. Sungguh, karunia ini tak dapat kunikmati jika hanya mengharap pamrih (manusia).

Aku masih sedikit ingat, ketika awal menjejak langkah pada salah satu wilayah. Saat perang antara keraguan dan keyakinan akan kehendakNya. Jika mengingat episode itu selalu saja ada senyum dan haru, keduanya lebur jadi satu dalam hatiku. Duhai Allah…, sungguh indah segalanya ketika Kau hadir di tiap masa. Detik, menit, jam, hari, hingga tahun yang silih berganti. Masih tak menyangka Kau izinkan aku bertahan hingga kini. Tapi kesyukuranku melebihi keterkejutanku akan hadiah dariMu. Sungguh, tiada kenikmatan selain mengenalMu dan memasrahkan segalanya padaMu.

Dalam perenunganku, ingin Kau terus bersamaku. Menuntun langkah yang goyah. Dalam ketertatihan langkah, bermohon Kau tetap memapahku agar mampu ku tetap meniti panjang jalan cintaMu. Jatuh bangkit aku kembali, tiada lelah hati ini. Karena janjiMu tiada ingkar, terus berharap.

***
Ada, tapi tak terasa. Tampak justru tak terlihat.
Tiada tapi nyata. Tersembunyi tapi terlihat. Memberi manfaat. Ada dimana posisi kita?

Bumi Cinta, 2 Mei 2012/10 Jumadil Akhir 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s