Sepenggal Kisah

“k hanya sebagian kecil dari serpihan bagian dalam hidup kamu de…”, ku coba berbisik pada hati kecilku agar tak menjadi bangga hati ketika mendapat pujian dari seorang adik.

Sederhana memang, tapi seringkali sesuatu yang sederhana itu menjadi penyebab sesuatu yang lain menjadi luar biasa…adikku itu mengucapkan terima kasih padaku, tapi bagiku hal itu adalah suatu hal yang amat besar, karena kekhawatiranku jika nanti ku menjadi ujub.

Aku sering mengingatkan diriku sendiri agar tak larut dalam pujian yang diberikan orang lain, karena ku merasa…diriku tak sebaik yang mereka lihat.
Aku sering mengingatkan diriku sendiri agar memahami segala penilaian yang kurang baik yang diberikan orang lain padaku, agar jadikan itu sebagai motivasi tuk memperbaiki diri.

sekilas ku teringat dengan artikel yang sempat ku baca disela-sela waktu kerja,
Astaghfirulla….. lirih terucapkan dengan hati yang sedari tadi tidak berhenti istighfar, teringat dengan ceramah Ustadz Rahmad, seminggu yang lalu… arti dari syukur adalahmenggunakan atau mengolah nikmat Allah SWT sesuai dengan tujuan dianugerahkannya. Lawan katanya adalah kufur yang berarti tidak mensyukuri nikmat Allah Sang Maha Pemurah, dan orangnya disebut kafir. Kita dianugerahi kesehatan, tapi apakah kita sudah menggunakannya untuk shalat tepat waktu begitu azan berkumandang, kita dianugerahi hati yang fitri oleh Allah SWT tapi kenapa kita mengotorinya dengan riya’, iri, dengki, takabur, buruk sangka dan berbagai macam penyakit. Begitu juga dengan dua mata normal pemberian Allah Sang Maha Kuasa, apakah kita sudah memanfaatkannya untuk membaca, mempelajari, memahami dan menerapkan ayat-ayat suci Allah SWT dalam hidup kita, sudahkah kita memanfaatkan mata ini untuk membaca buku-buku religi yang bisa meningkatkan kualitas keimanan, kecintaan serta ketakwaan kita kepada Sang Khalik ataupun yang bisa membuat kita memperbaiki akhlak kita. Bagaimana dengan telinga ibu-ibu bapak-bapak, apakah sudah dipakai untuk mendengar hal-hal yang baik dan benar, mendengar keagungan ayat-ayat Allah yang Maha Penyayang, sama halnya dengan mulut apakah sudah dimanfaatkan untuk berbicara yang benar yang tidak menyakiti dan mendzalimi orang lain, untuk menyampaikan kebenaran Illahi Robbi? Dua tangan kita apakah sudah digunakan untuk berdoa, berdziqir, bersedekah, bekerja dengan ikhlas Lillahi Ta’ala, dan juga untuk membantu sesama tanpa pamrih. Kedua kaki kita, apakah selama ini dilangkahkan ke tempat-tempat yang diridhoi Allah Sang Maha Tahu???  

semoga ku mampu bercermin diri dari segala yang tampak tak rapi dalam hati ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s