Kilas Balik

Cerita bermula saat sapa, dan ketika itu ita tak saling sebutkan nama. Hanya ada panggilan penuh cinta dan doa, “Assalamu’alaykum…apa kabar ukh?“. Sungguh hati luluh. Sejuk…, teduh. Mungkin biasa saja ketika itu, namun kini berarti sungguh. Jika tidak bagimu, tak apa jika hanya bagiku.

 

Ukhtifillah rahimallah…, ingatkah kau? Ketika seorang aku selalu salah menyebut namamu. Masih sering tertukar dengan saudari yang lain. Dan hanya senyum simpul menghiasi ketika kau dapati hal itu. Dengan bijakmu, “Ikatan kita tak sekedar nama, tapi ada makna yang dapat kita rasa hingga Allah mampukan kita saling terpaut hatinya. Menyimpul temali hingga terjalin ikatan karenaNya. *insyaAllah*

 

Ingatkah saudariku? Saat kita sama sekali tak mengenal satu dengan lainnya. Bahkan saat perhatian kita menelisik, berusaha mencari siapa yang akan bergandengan tangan, melangkah bersama menuju istana di surga dengan cintaNya. Hingga akhirnya kita bertukar nama, bertukar cerita. Saling berbagi kisah dan memetik hikmah. Meskipun seringkali kita terjebak pada kondisi jauhnya raga. Memaksa jiwa-jiwa kita patuh pada ketentuanNya, bahwa tak berjumpa raga bukan berarti kita tak bersama. Mengajarkan kita bahwa tak bertatap mata tak berarti luputnya perhatian kita. Mendidik kita bahwa tak berjabat tangan tak berarti putusnya ikatan. Karena kita memiliki satu keyakinan, sungguh ikatan ini bukanlah sekedar bertemu raga, tak sebatas tatap mata atau seerat tangan berjabat. Tapi ikatan ini ada karena eratnya doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Karena ikatan kita adalah jalinan yang temalinya Allah jaga.

 

Saudariku, sungguh hati ini pilu, lisan kelu. Terkadang malu padamu. Saat kau tanyakan, “Shalihah…wahai putri surga, bagaimana kabarmu? Semoga Allah senantiasa menjagamu”. Atau ketika panggilan cintamu begitu menggetarkan dinding-dinding hatiku, “Shalihah…”. Duhai ukhti…, panggilan itu penuh doa bagiku sungguh. Saat pertama kali kau tujukan itu padaku, kutengok “keshalihahanku” yang kau sebut adalah panggilan sayangmu. Dan itu yang kau katakan saat kuutarakan bahwa aku masih jauh dari sebutan shalihah. Dan lagi, dengan bijakmu, kau yakinkanku bahwa kita kan melangkah bersama, memantaskan sebutan itu dan menjadi putri-putri surga di bumi cintaNya.

 

Ukhtifillah rahimallah…, ikatan ini tak selamanya rapi. Terkadang simpulan yang kita rajut tak searah, hingga tercipta kekusutan di dalamnya. Sungguh tak nyaman dan sangat menyakitkan. Perih. Sangat menyesakkan. Dan ini bukanlah rusak ikatan, tapi hati-hati kitalah yang mungkin sedang sakit, terlebih aku. Segala puji bagiNya yang masih menautkan hati-hati kita. Meski terkadang cukup lama dalam kesakitan, namun cintaNya, melalui cinta dan tulus doamu, menjadikan bara api itu perlahan dingin dan menghangatkan. Dengan kelapangan hati saling memaafkan, saling menerima kekurangan, tak menuntut tuk penuhi harapan, saling mengingatkan dan saling mendoakan. Dan kita sepakat memperbaiki kekusutan dan kesemerawutan. Hanya ada satu cara, melerainya dengan amalan-amalan. Dengan harapan membaik pula hubungan kita denganNya, sebagai Penguasa hati-hati kita. Ya kan ukh???

 

Seiring berjalannya waktu, nasehat dan doa menghiasi. Meski terkadang tak dapat dipungkiri ada kalanya kita menghentikan langkah, bukan untuk menyerah pasrah, tapi untuk berbenah.

 

Ukhti shalihah…, sesak rasanya ketika kuteringat jiwa-jiwa lain yang tak lagi bersama kita. Saat mereka memilih tak lagi melangkah bersama. Namun jalan ini amat luas terbentang, semoga masih dapat Allah pertemukan kita kelak di jannahNya. Memori ingatan mengantarkanku pada wajah-wajah teduh itu. Yang kala itu, bahkan hingga kini masih senantiasa hadir dalam ingatan ketika rabithah dipanjatkan. Teringat, ketika awal mula kita dirapikan dalam “barisan” ini. Saat bergandengan tangan dan bersama melangkah. Saat kita saling menyemangati kelesuan, saat kita saling menguatkan kelemahan. Saat kita saling mengingatkan dalam kekhilafan. Sungguh tak kuasa ketika melihat kini, tak lagi sejalan.

 

Mohon maafkan di tiap khilaf lewat ucap dan sikap, mungkin kadang tersilap canda yang cela. Khilafku tanpa sengaja, jika memang ada, mohonlah aku dengan jiwa tiada daya bahwa kesempurnaan hanyalah milikNya. Dalam dekapan ukhuwah, tiada yang tiada tersalah. Karena aku, kamu, dia, dan mereka juga makhluk lemah. Jiwa kita memang tanpa daya, laa hawla walaa quwwata illa billah. Jika lelah, maknai sebagai syukur padaNya. Syukur nikmat mensyukurinya. Nikmat gerak raga atasNya. Moga Allah dekap erat lelahmu, hingga lelah ragamu buat jiwa kiat erat mendekapNya. Moga hatimu basah diguyur cintaNya, basah dengan kasihNya. Hingga subur pohon imanmu, manis buah iman di hatimu. Petik dan suapkan pada saudaramu.

 

Ukhtifillah rahimallah…, jika suatu masa nanti kita tak sejalan, semoga kita tetap melangkah dalam kebaikan. Jika nanti kita tak sejalan, semoga tetap saling mengingatkan, saling mendoakan. Ukhti sayang…, aku tak mampu sungguh membayangkan jika memang kita tak sejalan, hanya bermohon pada Penguasa hati-hati kita agar tetap menautkannya dalam keimanan dan ketaqwaan, hingga kelak Ia bangunkan singgasana bagi kita yang dicemburui para syuhada.

Rabb…, sungguh kumerindu mereka yang kusayangi karenaMu. Sungguh aku merindu mereka yang hadir mewarnai kehidupanku meniti jalanMu. Rabb…, sungguh aku merindu mereka yang senantiasa mengingatkanku untuk tetap melangkah meski langkah ini mulai goyah. Kepada mereka yang senantiasa mengingatkanku betapa perjalanan ini memanglah tidak mudah, akan tetapi janjiNya sungguh indah. Rabb…, aku sungguh merindu mereka yang menemaniku meniti jalanMu, bersama melangkah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s