Futur…

Menurut bahasa, futur berarti terhenti setelah berjalan atau diam setelah bergerak. Sedangkan menurut istilah, dapat didefinisikan sebagai penyakit mengenai seorang aktivis. Tingkatannya yang terendah adalah malas/berlambat-lambat dan paling tinggi terhenti/diam setelah rajin dan bergerak dengan semangat.

Ini adalah hal yang menakutkan bagiku, khususnya. Karena merasa khawatir ketika ku berada dalam keadaan seperti itu aku tak mampu tuk berdiri kembali. Akan tetapi, ada yang menguatkan pijakan kakiku ketika langkah ini mulai goyah. Allah….iya…hanyalah Allah.

Disini coba ku tuliskan beberapa sebab seseorang ada dalam kefuturan, dan biasanya ini terjadi pada kita yang semangatnya “berlebih” dan ketika mengalami penurunan, sulit tuk bangkit.

  • Berlebihan dan ekstrim dalam beragama. Allah kan ga menyukai apapun yang berlebihan, meskipun itu dalam beragama. Maka sebagai reminder bagi kita…Allah lebih menyukai amalan yang sedikit namun berkelanjutan, daripada amalan yang banyak namun terputus.
  • Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi yang mubah. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat cinta-Nya (Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan [QS. Al-A’raf <7> : 31). Seringkali kita menganggap sesuatu yang “dibolehkan” itu sebagai sesuatu yang wajar, sehingga kita lupa bahwa kita menngkonsumsi yang dibolehkan itu secara berlebihan.
  • Berpisah dari jama’ah dan suka hidup sendiri. Allah mengingatkan manusia tuk berpegang teguh pada agama-Nya yang mulia dan tak berceraiberai (QS. Ali Imron <3> : 103 ). Karena sungguh, jika kita memilih berpisah dari jama’ah…maka bisa diibaratkan tak ada lagi teman yang bisa mengingatkan dari kelalaian. Memilih tuk menyendiri pun cukup tuk merenung dan berusaha tuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan, bukan untuk menghindar dari orang-orang shalih. Bukankah salah satu obat hati itu dengan berkumpul dengan orang-orang yang shalih???
  • Tidak mengingat kematian dan hari akhir, kecuali sedikit. Bahkan Umar bin Khattab mengatakan “tidaklah dunia menjadi obsesi seseorang, kecuali dunia menjadi sangat melekat di hatinya dalam empat (4) keadaan. Yaitu, kefakiran yang tak kenal kekayaan, keinginan yang tak putus-putus, kesibukan yang tak pernah habis dan angan-angan yang tak ada ujungnya”. Biasanya, jika kita mengingat kematian, kita akan mempersiapkan bekal menuju pulang. Akan tetapi, sifat manusia yang “bodoh” seringkali membuatnya jarang sekali mengingat kematian.
  • Lalai dalam melaksanakan amalan harian.Sesuatu yang besar bermula dari sesuatu yang kecil, bagaimana kita akan terbiasa melaksanakan amalan sunnah harian sedangkan amalan yang diwajibkan saja kita masih lalai. ?????
  • Masuk ke dalam perutnya sesuatu yang diharamkan atau syubhat Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. QS. Al-Baqoroh <2> : 168)
  • Seseorang hanya terfokus pada satu  sisi saja dalam masalah agama, padahal Allah memerintahkan untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, biar g setengah-setengah dalam mengamalkan ajaran dalam agama yang mulia ini.(QS. Al-Baqoroh <2> : 208)
  • Melupakan sunnatullah dalam kehidupan, mungkin karena manusia itu sombong dan hanya sedikit yang berpikir akan keagungan Allah, sehingga banyak manusia yang terlupa akan sunnatullah dalam segala aspek kehidupan. Melepas aturan-aturan dari-Nya dari kehidupan dunia, yang sering dikatakan sebagai paham kapitalisme.
  • Melupakan hak badan disebabkan banyaknya tugas dan sedikitnya aktivis. Meskipun kuantitas dari suatu kelompok itu tidak menjamin kualitas akan menjadi lebih baik, akan tetapi setuju atau tidak…secara tidak langsung kuantitas itu mempengaruhi kualitas dari aktifitas yang kita lakukan. Kurangnya sumber daya manusia dan banyaknya amanah seringkali membuat kita lupa tuk memenuhi hak badan. Kurang istirahat dan telat makan.(pengalaman pribadi…hehehehh)
  • Tidak siap dalam menghadapi kesulitan dalam perjuangan. Mereka yang ada dalam penurunan iman, salah satu sebabnya adalah karena ketidaksiapan menghadapi berbagai rintangan yang menghadang di hadapan, di tengah perjalanan akan banyak bebatuan yang menjadi rintangan tuk berada di tempat yang lebih baik. Kalo kata izzatul islam…sebelum engkau bergelar syuhada, tetaplah bertahan dan bersiapsiagalah.
  • Berteman dengan orang yang memiliki keinginan yang lemah. Jangankan berteman dengan mereka yang semangat juangnya lemah, kadang…ketika kita bergaul dengan orang-orang yang punya semangat tinggi pun masih saja sulit bangkit. Karena Allah pun g akan ngubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu berusaha tuk merubahnya. (QS. Ar-Ra’d <13> : 11)
  • Bekerja tanpa rencana. Meskipun manusia hanya bisa berencana dan Allah yang menentukan, tapi kan ga ada salahnya kalo kita buat perencanaan dalam bekerja, pun dalam keseharian…misalnya saja seperti menyusun rencana kerja selama satu tahun kepengurusan dalam organisasi.
  • Terjatuh dalam kemaksiatan, terutama dosa kecil yang diremehkan. Ada yang pernah menyampaikan pesan padaku, sesuatu yang besar itu bermula dari hal kecil. Jarak ribuan kilometer itu bermula dari satu langkah. Berhubung Allah masih memberikan kita kesempatan, yuk…kita investasikan pahala…bukan jadi pemuda ahli maksiat yang menganggap remeh dosa-dosa kecil sehingga menjadi investor dosa…(lindungi kami Ya Allah…agar senantiasa berada dalam kebaikan) wallahu’alam
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s