Dalam Doa

Bismillaah…

 

“Berangkatlah kamu baik dalam rasa ringan maupun rasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah:41).

 

Salam selamat bagi jiwa-jiwa yang rindu akan perjumpaan dengan Rabb-nya. Salam selamat bagi jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh meniti cinta dengan Rabb-nya. Ikhwahfillah rahimallah.., kita sama tahu bahwajalan yang kita lalui ini adalah jalan cinta para pejuang, yang kan meminta, bahkan terkadang memaksa kita mengorbankan segala untuk yang lebih kita cinta, Ia-lah Allah. Namun adakah kita libatkan Ia di tiap pijak?

 

Telah Allah sampaikan pada kita, bagaimana pun keadaannya, ringan maupun berat…, tetaplah melangkah. Diam adalah kematian, maka senantiasalah bergerak.

 

Pagi itu, langit dan awan sangat bersahabat. Tak cerah, namun juga tak mendung. Sejuk. Tapi sungguh tak mampu aku menahan bendungan air mata saat melihat sosok yang sangat kurindu ada di hadapan, ibu. Berlari aku mendekati, berderaian air mata memanggil namanya yang raganya masih sekitar 50 meter dari ragaku. Tak sungkan kupeluk erat meski di trotoar dekat rumah Allah. Meminta keridhaannya mengiringi langkahku hari ini. Dan beliau bilang, “Kampus mengetahui, Allah meridhai”. Sungguh ini menjadi dorongan hebat menguatkan langkah-langkahku. Bukankah ridha Allah mengikut pada ridha orang tua???

 

Sepanjang perjalanan menuju terminal Kampung Rambutan, masih belum bisa kuhentikan deraiannya. Namun coba kutenangkan pikir dengan dzikir pagi, dan segala puji bagiNya yang mampu tenangkan hati. Hari ini, hingga esok kan semakin mewarnai lembaran-lembaran kehidupan. Sambil merapikan tiap keping semangat dan kelurusan niat. Oh Allah, aku hanya ingin Kau membersamai cintaMu di tiap langkahku, ringankan segala yang terasa berat dan lapangkan segala kesempitan.

 

Seringkali kita mengeluh dan menyalahkan Allah atas keputusanNya, “Yaa Allah..kenapa bisnya lambat melaju? Kenapa ini macet? Dan kenapa diturunkan bukan di tempat tujuan???”. Tanpa kita sadari, Allah selalu punya rencana lain tuk berikan keputusan terbaikNya. Dan kita terlalu sombong dan bodoh yang telah menyalahkan Allah tanpa mencoba tuk memetik hikmah yang Ia hadirkan.

 

Turun dari angkutan umum, berjalan menuju puncak. Dan semakin terasa beban di pundak. Sungguh Allah yang menguatkan segala kelemahan. Ransel cariel di pundak cukup membuat bahuku cenat-cenut. Tapi lagi-lagi, inilah jalan cinta yang kan memintamu mengorbankan segala. Dan aku hanya bermohon Allah selalu membersamaiku. Ada satu kebodohan yang sangat bodoh telah kulakukan. Ini adalah dauroh, tapi tak mampu aku menapakinya di awal perjuangan. Sungguh sesal yang kala itu menghantui pikirku, sambil bermohon Allah mengampuni pengkhianatanku terhadap amanah agenda ini. *Astaghfirullah*

 

Dan sesal itu semakin memberatkan langkahku, bukan karena ransel yang kubawa, melainkan karena kelalaian menjaga amanah tersebut. Namun tak ingin aku larut dalam sesal, sambil terus melantunkan dzikir kutapaki tiap jejak di hutan pinus. Kupandangi wajah-wajah yang sudah mulai lelah, sorot mata yang tak lagi tajam dari bola-bola mata saudariku. “Aku harus tetap semangat dan menyemangati mereka”, pikirku singkat. “Allaaaaahu Akbar !!!”, takbir kuteriakan dan disambut kawan-kawan. Puncak itu terasa masih sangat jauh kawan, hujan pun turun temani perjalanan. Jalan yang licin dan basah membuat kami beberapa kali terpeleset dan terjatuh. Sesekali rehat sejenak untuk sekedar mengatur nafas dan  meneguk air mineral.

 

Alhamdulillah…, dari kejauhan kulihat ada seorang yang kurindu di sana. Dua panitia yang menjaga untuk kembali kami dapatkan petunjuk menuju tempat agenda. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallaah, allaahu akbar…, sesampainya di sana tak dapat menahan derai air mata *lagi* saat menatap jauh ke hadapan, ternyata kami telah mendaki sejauh ini. Sungguh Allah-lah yang mampukan kami melakukannya. Akan tetapi ini masih terus berlanjut. Dan kali ini jalan yang dilalui lebih mudah, berlakulah sunnatullah, setelah kesulitan ada kemudahan.

 

Kembali melanjutkan perjalanan, menuruni bukit dan menyebrangi beberapa anak sungai. Sungguh indah lukisan alamNya. Lelah ketika mendaki gunung seakan perlahan sirna menatap jauh ciptaan yang terhampar luas di hadapan. Sesekali mengulang hapalan dan memekikan takbir tanda kesyukuran. Melihat di kejauhan sudah ada tenda yang kami pikir, di sana tempat yang kita tuju. Dan alhamdulillah, sampai dengan penuh syukur. Tersungkur dalam sujud.

 

Setelah mendirikan tenda dan menyiapkan makan siang, tak lupa apel pembukaan agenda tersebut, dilanjutkan dengan diskusi tentang grand design kepengurusan setahun ke depan. Ba’da maghrib, sebagian kawan menyiapkan makan malam dan yang lain muroja’ah hapalan. Setelah makanan siap dihidangkan, tak langsung kami santap, dzikir al-ma’tsurat lebih dulu. Sungguh nikmat dapat menyantap sepiring makanan ini bersama-sama.

 

Malam harinya, materi di sampaikan dengan konsep talk show dan yang menjadi poin yang membuatku bergetar adalah judul dari materi tersebut. Jangan Jadi Beban dalam Dakwah (Teguhkan Diri Menjadi Kader yang Baik). Ya…, ini seperti cambuk yang memecut raga juga jiwaku. Ada satu tanya di dalamnya, “Apakah aku beban itu???”. Ada kutipan dari seorang syaikhut tarbiyah, Rahmat Abdullah, “Ketika orang tertidur, kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas, kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati, kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu, kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang yang bersamamu di sini, mendirikan imperium kebenaran”.

 

Itu yang seharusnya kita pahami dan terlahir dalam bentuk amalan. Ketika kita merasa belum mampu meringankan beban dalam dakwah, setidaknya kita tak menjadi beban.

 

Panitia mengumumkan bahwa peserta akan dibangunkan kembali pukul 01.00 dini hari. Dan diharapkan sudah mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan. Aku pun sampaikan info tersebut ke rekan-rekan perjuangan satu tim. Kami hanya menyiapkan perlengkapan shalat, mush’af, slayer dan senter. Benar-benar tak menyangka jika kami dibangunkan dengan cara itu. Kau tahu kawan, seakan ada penyusup menyerang daerah persinggahan kami. Mereka berusaha merobohkan tenda-tenda dan memaksa kami berlari dalam kantuk, membawa semua barang, tak terkecuali tenda kami bawa. Terseretlah tenda-tenda itu, dan kami masih berlari. Dan kami ditempatkan pada ruang sempit, yang di dalamnya harus bisa menampung kami semua (peserta). Sangat sempit, bahkan harus kami dekap tas-tas dalam pangkuan agar semua mendapat ruang untuk sekedar duduk. Pintu ruang itu ditutup oleh mereka. Selang 30 menit dalam ruang sempit, terdengar suara pluit dari kejauhan yang kami ketahui itu adalah tanda kami harus berkumpul. Sontak aku membangunkan saudari-saudariku yang masih terlelap. Dan kami buka pintu itu, brakkkkk…!!! Ternyata pintunya tak dikunci, hanya sebilah pintu yang disandarkan. Hmmm, dan itu membuat “penyusup berang. “Siapa yang suruh kalian bangun???!!!”, “Tadi ada suara pluit panjang, kami pikir itu tanda kami harus bangun”, jawabku dengan suara agak tertahan.

 

Kami pun kembali mengatur posisi duduk di ruang sempit itu. Lalu, “Bangun, bangun, bangun!!!”, kembali kami dikagetkan. Berlarian lagi menuju tempat yang ditentukan, lengkap dengan ransel di pundak. Tapi ternyata, tak seharusnya kami membawa ransel. Satu amanah terlupa, tertinggal di camp sebelum kami ditempatkan pada ruang sempit. Berlarian aku dan seorang kawan, berusaha tuk menunaikan amanah tersebut. Terpeleset dalam kegelapan tak surutkan langkah. Kembali sesal itu hadir, “Mengapa amanah ini terlupa??”

 

Disediakan waktu bagi kami tuk berkhalwat dengan Allah. “Inilah saat kumengumpulkan keping-keping semangat dan kekuatan”, bisikku perlahan. Berbaris kami membuat shafshalat, dan larutlah aku dalam pengharapan Ia temani tiap derai air mata.  

 

Berjalan kami dituntun menyusuri gelap dengan mata ditutup. Jalan licin dan becek membuat kami harus tetap berhati-hati. Satu per satu pos dilalui. Hampir di tiap pos, aku tak mampu menahan bendungan bulir-bulir itu, bahkan menderas ketika pos hapalan. Bukan karena aku tak hapal, bukan juga karena iqob yang diberikan. Tapi ada makna yang sangat dalam dari tiap ayat yang dihapalkan.

 

Ikhwahfillah rahimallah…, sekiranya cukup kubagikan kisah ini kepada kalian. Tak sanggup jemari menuliskannya. Tak mampu lagi mata menatapnya. Semua penuh hikmah. Semua penuh cinta dan doa. Dalam indahnya perjuangan yang kita lalui bersama. Dengan kebodohan dan kelalaian yang memaksa kita tunduk pada godaan. Jalan ini masih sangat panjang, ketika kita harus menempuhnya, maka berjalanlah meski perlahan. Tetaplah berjalan meski dalam kepayahan, dalam berat menopang beban di pundak. Bukan karena kita tidak mampu menempuhnya, tapi terkadang kita menyerah pada keadaan yang sebenarnya bisa kita kendalikan.

 

Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan kita di jalanNya. Di jalan cinta para pejuang. Dimana aku, kamu, dan juga mereka menjadi kita, dan kita adalah satu. Allaahu ghayatuna.

 

Bumi Cinta, 21 Rabi’ul Awal 1433 H/14 Februari 2012

*dalam doa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s