Beginilah Aku

Dalam diam di bawah sinar terang gemintang, di antara antrian pembeli penganan. Terkembang senyum di wajah membaca pesan cinta dari seorang putri surga. Semoga Allah merahmatinya. Sederhana saja, ‘Ka…, aku kangen’, lengkap dengan smiley :(. Oh Allah, betapa tiada satu pun nikmat dariMu yang terdustakan.

Lampu temaram di balik gerobak nasi goreng dekat rumah kontrakan, masih menanti pesanan sedia tuk disajikan. Menatap sayu pada layar di hadapan. Mengikuti jemari menari, menuliskan sekilas episode kehidupan. Sesekali senyum masih terkembang dan membiarkan mata-mata yang lain menatap keheranan. Aku hanya menikmati sapa angin malam ini tanpa sedikit pun mengelakkan.

Senja tadi, ketika menanti panggilan ketuhanan. Menatap jauh area parkiran, lalu lalang manusia di hadapan. Mengenang sepekan lalu seorang diri berjalan, menyurusi gulita jalan yang basah karena hujan. Di antara rintik hujan masih berjalan, menapaki tiap inchi gelap jalan. Sesekali muroja’ah hapalan atau melanjutkan dzikir sore yang aku sebut al-ma’tsuratan. Oh Allah, betapa Kau menemaniku, dan lagi…, tiada satu pun terdustakan nikmatMu.

Di bawah langit yang masih tertutup awan, sedikir berlarian di tepi hutan. Pikirku ini adalah jalan biasa yang dilalui banyak orang yang mungkin hendak pulang. Ternyata hanya beberapa yang terlihat sejauh mata memandang. Tatapku terhenti pada sebuah pohon besar yang dihiasi kerlipan lampu nan warna-warni. Sedikit menceriakan, dan setelahnya aku berlalu menyururi pergantian waktu dalam kesendirianku.

Langkah yang semula kokoh berpijak pada tiap jejak, perlahan melemah dan sesekali rehat tuk sekedar menyulutkan redup semangat. Lalu berjalan atau jika tak licin jalan, aku sedikit berlarian, bermain dengan rintik hujan. Melewati satu atau dua tempat pemberhentian kendaraan, menatap keheranan orang-orang yang duduk menanti bis tumpangan. Hendak kemana aku? Hanya ingin melepas rindu, anggap saja begitu.

Masih ditemani rintik hujan dan gelap malam dalam diam. Melanjutkan langkah, sempat terselip rasa ingin pulang saja. Tapi untuk apa jejak-jejak tadi jika aku pulang, kembali sedang aku tak membawa bekal untuk melanjutkan perjalanan? Baiklah, sudahi saja peperangan hati. Akan kudapati apa yang kuinginkan, akan kucapai apa yang kuharapkan. Dan mengikut pada ketetapan Rabb ar-Rahmaan.

Langkah kembali terhenti pada jarak agak dekat dengan sekumpulan orang, menentukan apakah aku berlalu di hadapan mereka ataukah melewati pungung-punggung yang mulai bungkuk? Berbelok arah, melewati punggung mereka dan berlalu dalam tanda tanya, ‘Ini dimana?’.

Sejenak memperhatikan kuda besi yang berbaris rapi di halaman parkir, mencari jawab atas tanya dalam pikir. Aku tak tahu kemana lagi melanjutkan perjalanan ini. Tiba-tiba langkah ini menetap disini, di hadapan bangunan yang terurus rapi meski sekilas memandang. Berjalan pelan, menyusuri lorong-lorong. Mencari sekeping hati yang tengah menanti, ahh…, mungkin itu hanya aku yang merasai. Tak apa. Aku tetap melangkah padanya, pada jiwa yang mungkin tengah menanti dan mencari.

Kembali, tatap mata keheranan dari orang-orang asing di hadapan. Aku pernah merasakan tatapan itu, sering. Tapi belum pernah degup jantung ini mendadak jadi lebih cepat dan aku hanya mampu mengelus ketenangan dalam tanda tanya. Sesekali, lapar dahaga sudah menyapa, tapi aku tak lantas memenuhi panggilannya. Aku belum menemuinya. Bersabarlah keduanya dalam penantian yang entah kapan dituruti. Oh raga, maafkan aku yang selalu menyakitimu.

Ada peluh yang mengalir deras, ada bulir yang ingin muncul ke permukaan, tertahan di tepi mata. Dalam pencarian, berjalan menapaki basah jalan setapak menuju bangunan lain. Singgahlah disana. Beberapa saat ia datang, membawa sejumput rasa yang sederhana tapi penuh makna. Tunailah sudah. Aku hanya ingin menatap matanya lebih dekat. Merasakan bahwa ritme degup masih seirama.

Di masa aku menjadi kelu, tertunduk dalam haru. Menyatu padu cinta dan rindu, padamu saudaraku. Semoga Allah merahmatimu selalu, dalam sepi atau riuh harimu. Beginilah aku, sederhana saja mengungkap rasa untukmu.

Bumi Cinta, 7 Mei 2012/16 Jumadil Akhir 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s