Eksistensi Pemuda Di Era Reformasi

Hasan Al-Banna, pemuda dari negeri piramida, Mesir, bergerak memimpin pergerakan pemuda Islam, Ikhwanul Muslimin. Beliau memang tidak sempurna seperti Nabi Muhammad SAW., akan tetapi sifat yang dimilikinya sebagai seorang pemimpin membuat banyak orang kagum dan mencintainya, figur pemimpin muda yang cerdas, memiliki intelektualitas tinggi, bertaqwa, dan berwibawa. Beliau mengatakan bahwa pemuda yang hidup di tengah kancah perjuangan dengan keadaan bangsa yang tengah dijajah dan masyarakatnya terampas hak-hak hidupnya, dia akan tumbuh menjadi pejuang yang tangguh. Oleh sebab itu, kita yang berada pada posisi dimana keadaan masyarakat sedang terjajah, mau tidak mau para pemuda harus mengambil sikap yang tegas untuk menghadapi perjuangan. Bersiap-siagalah membela kebenaran, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman terdahulu. Betapa kesuksesan akan menyertai bila perjuangan itu dilakukan dengan penuh ketabahan. [1]

 

“Sesungguhnya terapi bagi keterpurukan, perpecahan kata, kehancuran dan kemunduran peradaban masyarakat tidak bisa dilakukan dengan terapi tunggal, ia harus dengan terapi komprehensif. Begitu juga manhaj (pedoman) reformasi untuk membebaskan manusia dari keterpurukannya haruslah komprehensif tanpa memprioritaskan manhaj salah satu reformis, tetapi harus mencakup seluruh unsur reformasi. Dengan itulah semua kondisi masyarakat akan membaik,” begitulah yang ditulis Hasan Al Banna menjelaskan gagasan reformasinya.[2] Risalah itu telah memberi arahan metodologis bagi strategi perubahan sosial dan pembentukan organisasi yang kohesif. Berikut adalah gagasan teori reformasi yang digagas Hasan Al Banna:

  • Al-Fahmu (comprehension),  pemahaman. Teori ini ada di awal urutan, mengapa? Bagaimana pemuda mampu bergerak dan berjuang jika tak memahami apa tugasnya, bagaimana solusi dari permasalahan negaranya? Pemahaman yang menyeluruh yang dibutuhkan, bukan pemahaman parsial sehingga menjadikan ke-mandek-an ketika sudah mulai pergerakan. Pemahaman yang menyeluruh akan menghindarkan kita dari kecenderungan mengambil gerakan yang parsial, yaitu terlalu memprioritaskan pada satu aspek perbaikan saja. Tidak hanya memfokuskan pada aspek ekonomi dan sosial saja, atau memfokuskan pada pembentukan tokoh saja karena menganggap masyarakat saat ini kehilangan tokoh. Pemahaman yang menyeluruh dan direalisasikan akan menjadi pondasi yang kokoh dalam sebuah perjalanan panjang.

Kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah, banyak di antara kita yang tergesa-gesa bertindak tanpa lebih dahulu memahami masalah apa yang sebenarnya terjadi. Ragam aksi demonstrasi yang terjadi di depan gedung DPR/MPR misalnya, tak semua memahami bagaimana seharusnya aksi penyampaian aspirasi masyarakat, hanya sekedar memobilisasi masa tanpa mengarahkan mereka, ‘Mengapa kita harus aksi?’. Sebagian orang menganggap aksi demonstrasi sebatas penyampaian aspirasi rakyat, akan tetapi apakah harus dengan cara-cara anarkis dan merusak infrastruktur yang dibangun dengan uang negara yang merupakan hasil dari pembayaran pajak rakyat? Lalu dimana letak menyuarakan aspirasi rakyat jika membuat keonaran dan kerusakan infrastuktur yang dihasilkan dari pajak rakyat? Saya sepakat dengan kegiatan aksi demonstrasi, akan tetapi masih ada cara lain yang bisa kita tempuh untuk menyuarakan aspirasi kita. Misalkan dengan mengajukan audiensi dengan para petinggi negara atau melalui tulisan. Kawan, kenal dengan Buya Hamka? Nah, kita bisa meneladani beliau yang menyampaikan gagasannya melalui tulisan. Beliau merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Buya Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Beliau  juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

 

  • Ikhlas (sincere), hal ini menjadikan seseorang senantiasa melakukan segala sesuatunya hanya karena kepedulian atas segala problematika bangsa. Bukan untuk mencari gelar atau dipuji orang, akan tetapi menyerahkan segenap kemampuannya untuk menuju kemajuan bangsa. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari dua juta jiwa, membutuhkan tokoh yang tak sekedar memiliki kemampuan mengatasi permasalahan bangsa, akan tetapi tokoh yang mampu menjadi teladan dan menginspirasi dengan kerja-kerja nyata. Seorang pemuda yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan bangsa tentu tidak akan tinggal diam menyaksikan orang-orang kelaparan, anak-anak putus sekolah karena biaya pendidikan yang mahal, atau warga miskin yang tak dapat pelayanan kesehatan. Pemenuhan panggilan jiwa atas permasalahan inilah yang menjadi satu indikasi bahwa kita akan melakukan pemecahan masalah tersebut dengan tulus, tanpa mengharap pamrih dari siapapun. Berupaya dengan segala kemampuan mengerahkan waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan mungkin nyawa. Apakah di era globalisasi seperti ini masih ada orang-orang yang ikhlas? Masih! Kalau di Indonesia? Masih! Saya yakin, Indonesia dengan budaya ketimuran memiliki orang-orang yang ikhlas, tak berharap pamrih atas segala peluh dan jerih. Contoh yang dapat kita teladani adalah dari seorang Mang Idin yang karena kepeduliannya, ia rela men-cebur-kan dirinya di keruh sungai Pesanggrahan, Jakarta. Merelakan dirinya menjadi pengabdi kepada masyarakat dengan mencintai lingkungan sepanjang sungai Pesanggrahan. Di awal perjuangannya membersihkan sungai dari berbagai sampah yang dibuang sembarangan, tak sepeser pun kepingan rupiah yang ia dapatkan, bahkan pemerintah pun luput memperhatikannya. Akan tetapi, berkat kesungguhan dan kegigihan usahanya, Mang  Idin kini dikenal sebagai tokoh yang peduli lingkungan dan semoga menginspirasi banyak orang untuk bersama menjaga dan mencintai lingkungan.

 

  • ‘Amal (action), merupakan buah dari al-fahmu dan ikhlas. Bagaimana tidak, korelasi dari dua hal tersebut akan menjadi nihil tanpa ada realisasi. Untuk mengatasi berbagai problematika di Indonesia membutuhkan kerja yang nyata, bukan sekedar kata. Talk less, do more, begitu ungkapan yang sepatutnya terpatri di tiap individu yang mengaku peduli atas permasalahan di Indonesia.  

“ Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(QS. Ash-Shaf (61) :2-3)

Menjadi bagian dari sebuah perbaikan bangsa, di tengah berbagai permasalahannya bukanlah pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan akan sangat berarti dalam proses menuju bangsa yang lebih baik dan menjadikan Indonesia lebih bermartabat. Gerakan Indonesia Tanpa JIL (ITJ) yang awalnya hanya sebentuk fan fage di Facebook dan akun di social media lainnya (Twitter-@TanpaJIL). Rekan-rekan yang peduli dengan bahaya dari paham liberal yang menafsrkan ajaran agama sesuai kehendak penganutnya, memberikan kebebasan bagi para pengikutnya melakukan hal-hal yang dianggap ‘kebebasan’, feminisme menjadi salah satu yang disuarakan kaum liberal mengatasnamakan emansipasi kaum wanita yang sebenarnya hanya karena ketidakpahaman terkait hak dan kewajiban seorang wanita dan laki-laki. Dan hingga sekarang, pergerakan ITJ ini sudah mencapai berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari pergerakan kecil dengan menyebarkan flyer ke pengguna jalan sampai dengan mengadakan kajian yang bekerja sama dengan organisasi atau lembaga yang peduli dengan Indonesia yang lebih berkeadilan dan menjunjung tinggi ketuhanan yang sesuai dengan nilai-nilai sila pertama Pancasila. Seperti inilah satu bentuk contoh nyata pergerakan untuk kemajuan bangsa.

 

  • Jihad (struggle)semangat berjuang. Action  yang dilakukan tidak akan pernah cukup hingga hal tersebut berkualitas perjuangan. Kebanyakan orang, hanya semangat di awal, sedangkan melemah semangatnya ketika di akhir, bahkan baru pertengahan jalan pun sudah menyerah. Jangan menyerah sebelum kita sampai pada tujuan yang kita cita-citakan. Hidup adalah perjuangan, begitu pesan orang-orang terdahulu. “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imron (3) : 146)

Hal ini yang seringkali membuat sebuah pergerakan mandek dan hilang bersama terpaan angin, tersapu hujan. Saudaraku, kita mengenal sosok Soe Hok Gie, adalah tokoh muda yang dimiliki Indonesia di tengah carut marut pemerintahan Presiden Soekarno yang diwarnai dengan pergerakan PKI (Partai Komunis Indonesia). Dengan kesungguhannya menggerakkan rekan-rekan mahasiswa, menyamakan suara demi tugas mulia, agar tercipta masyarakat sejahtera, terbentuk tatanan masyarakat Indonesia baru.

 

  • Tadhhiyah (sacrifice)pengorbanan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Indonesia merdeka pun dengan adanya pengorbanan dari para pahlawan. Kita bisa melihat sejarah Jenderal Soedirman, merupakan salah satu tokoh populer dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia adalah panglima TNI yang pertama, tokoh agama, pendidik, tokoh Muhammadiyah sekaligus pelopor perang gerilya di Indonesia. Dan juga masih lekat dalam ingatan, bagaimana perjuangan dan pengorbanan yang beliau lakukan. Dari atas tandu, beliau berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit, hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Soedirman pulang dari gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin angkatan perang secara langsung. Setelah itu, Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda. Lalu, bagaimana pengorbanan kita?

 

  • Tha’ah (obey), salah satu kekuatan organisasi  ada dalam kesatuan kelompok pergerakan. Taat menjadi poin penting dalam sebuah organisasi atau lembaga, terlebih dalam pergerakan pemuda. Semangat juang yang menggebu, pengorbanan yang banyak tidak boleh salah arah. Maka dari itulah, ada pemimpin. Ada pihak yang mengarahkan. Sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara pemimpin dan para anggotanya.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(QS. An-Nisaa’ (4) :59)

 

  • Tsabat (sustainable)berkelanjutan, determinasi diri. Permasalahan di negeri ini, Indonesia, sudah sangat kompleks. Akan tetapi, bukan menjadi hal yang mustahil jika kita terus berjuang, bangkit dari keterpurukan. Terus bergerak dan berkontribusi. Tugas kita adalah berjuang, melakukan yang terbaik dan bertahan jika di tengah perjalanan menghadapi rintangan yang melemahkan langkah. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat (41) :30)

Kawan, sebagian di antara kita mungkin mengenal tokoh Arai di novel Sang Pemimpi atau bahkan ia telah menjadi inspirasi. Bagaimana perjuangan Arai mengejar mimpi-mimpinya, melibatkan Ikal dalam perjalanannya. Dan mereka, tak sekedar bermimpi, akan tetapi mereka berlari mengejar dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Tak lantas tercapai, perlahan dan bertahap. Mengajarkan kepada kita bahwa jika kita ingin mencapai tujuan yang dicita-citakan, perjuangan kita haruslah berkelanjutan, tidak hanya semangat di awal, tetapi bagaimana menjaga agar semangat itu tetap berkobar hingga akhir perjuangan.

 

  • Tajarrud (totality)totalitas. Tentu saja menjadi sebuah keniscayaan bahwa amal, jihad, pengorbanan itu memerlukan totalitas perjuangan, pengabdian. Kemerdekaan yang diraih tidak hadir dari perjuangan yang setengah-setengah, akan tetapi totalitas dari perjuangan. Sense of belonging atas Indonesia, menjadi satu indikator yang dapat menentukan sejauh mana kesungguhan seseorang peduli terhadap permasalahan bangsanya. Seperti yang dikatakan John F. Kennedy, seharusnya kita tak perlu sibuk menanyakan atau mempermasalahkan apa yang telah negara berikan, akan tetapi apa yang sudah kita berikan kepada negara? Indonesia memiliki putra-putri bangsa yang cerdas. Tak percaya? Memang tak banyak yang mengetahuinya, akan tetapi perlulah kita mencari tahu agar tak selalu mencela negari sendiri karena menganggap kurang prestasi. Di bidang olahraga, cabang bulu tangkis, kita mengenal Simon Santoso atau Sony Dwi Kurniawan. Keduanya telah mencatatkan nama mereka di buku sejarah prestasi Indonesia dan mampu bersaing dengan atlet-atlet dari negara lain.

 

  • Ukhuwah (brotherhood)persaudaraan. Seperti yang dicontohkan Rasulullah dengan para sahabat. Mereka menghiasi perjuangan dengan persaudaraan. Ukhuwah menjadi nutrisi bagi para pejuang. Ia menjadi suntikan semangat ketika ada pejuang yang mulai rapuh. Saling menguatkan, saling mengingatkan, saling membantu, dan saling bahu-membahu mewujudkan demi kemajuan bangsa. Seperti susunan bata yang digunakan untuk membangun sebuah rumah, agar bangunan rumah itu kokoh, diperlukan bata yang tersusun rapi, saling melengkapi, saling menyempurnakan kekurangan. Indonesia dengan ke-bhinneka-annya, memiliki tantangan tersendiri untuk mengatasi keberagaman dan menjadikannya pemersatu kekokohan bangsa. Akan tetapi, perbedaan dari keberagaman tersebut seringkali menjadi permasalahan lain di negeri ini. Padahal, perbedaan adalah salah satu bentuk kasih sayang dari Allah sebagai Pencipta makhluk hidup, seperti yang telah Ia sampaikan tentang keberagaman manusia dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 13, “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”.

 

  • Tsiqoh (trust)kepercayaan, menjadi hal yang juga perlu diperhatikan. Bagaimana dalam sekelompok manusia memerlukan kepercayaan satu dengan yang lain, terlebih kepada pemimpin. Peran pemimpin sebagai orang tua dalam ikatan hati, guru dalam memberi ilmu, syaikh dalam pendidikan ruhani dan komandan dalam menentukan kebijakan sebuah pergerakan. Hasan Al Banna berkata mengenai tsiqoh”yang saya maksud dengan tsiqoh (kepercayaan) adalah rasa puas seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinan maupun keikhlasannya, dengan kepuasan yang mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan”. Catatan tambahan untuk poin ini adalah bahwa tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Indonesia kini kehilangan figur pemimpin, hal ini terbukti dengan besarnya angkat golput pada hampir tiap pemilihan umum, mulai dari pemilihan gubernur hingga pemilihan wakil rakyat di DPR/MPR. Diperlukan pemimpin yang meneladani Rasulullah, shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas, baik emosi, pikiran terlebih spiritualnya). Pribadi luar biasa yang menjadi ‘motor’, penggerak yang mengedepankan pengajaran sirah nabawiyah, meneladani ajaran-ajaran yang telah Rasulullah contohkan. Berasal dari persemaian mulia yang dipersiapkan untuk urusan yang agung.  

 

Ada dua aspek mendasar yang harus dimiliki oleh seorang agen perubahan, terutama untuk menjadi problem solver, sebagai berikut;  Pertama, antusiasme untuk bergerak yang luar biasa, yakin dan puas dengan bergerak, dan memberikan dedikasi tinggi dalam pergerakan dengan segala kemampuan dan instrumen yang dimilikinya. Semua ini merupakan syarat fundamental bagi para agen perubahan. Kedua,  pengaruhnya yang sangat dalam terhadap para sahabat dan orang-orang di sekelilingnya,  serta kesuksesan yang spektakuler dalam pendidikan dan kaderisasi. Membangun peradaban dengan gerakan nyata, membangun generasi-generasi yang cerdas, berketuhanan dan menginspirasi.  

Pemuda tidak cukup hanya bertugas menjelaskan zaman, namun juga harus melampuinya dengan mengubah zaman, karenanya, di tengah zaman yang bergerak, masyarakat membutuhkan pemuda yang bergerak. Jadilah pemuda yang bergerak, karena hanya ada dua pilihan dalam kehidupan. BERGERAK ATAU MATI !! Jika semua pemuda bertekad untuk menjadi pemuda berkualitas, impian akan ketangguhan negara nantinya, besar kemungkinan akan terwujud. Karena di hadapan kita, akan muncul lagi pemuda-pemuda tangguh yang mengikut jejak Jenderal Soedirman, Soe Hok Gie dan pemuda lainnya. Dengan kemampuan mereka masing-masing, sehingga namanya terukir tinta emas dalam sejarah peradaban. Lantas, bagaimana dengan usia muda kita?! Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan diri dan jadilah penerang!!! 

[1] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Syarah Ar Kanul Bai’ah 1 Alfahmu cetakan Pertama (Solo:Media Insani, 2006), hal. 25

[2] Hasan al-Banna, Ilaa asy-Syabaab Min Ajali asy-Syabaab Duuru asy-Syabaab, Daarul Kitaab Al-‘Araby, Mesir, 1992, hlm. 16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s