Maaf, Aku Sibuk…

Bismillaah.

‘…Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku..’ (QS. Adz-Dzaariyat (51):56)

Begitulah pesan yang Allah sampaikan di surat cintaNya. Singkat memang, namun bagi orang-orang beriman akan sangat melekat dalam hatinya untuk selalu berusaha mengingat. Agar denganNya senantiasa dekat.

Suatu waktu, pernah menyapa seseorang dan bertanya padanya di satu waktu dhuha, sekitar jam 10 pagi. Saya menyapanya melalui pesan singkat. ‘Assalamu’alaykum. Gimana kabarnya? Oh ya, masih kerja di kantor yang lama? Aktivitas sekarang apa aja?’ , dan beberapa saat kemudian ada balasan dari nomor yang tak dikenal, tapi berisi jawaban berikut, ‘Wa’alaykumsalam…, alhamdulillah aku sehat, udah gak di kantor yang lama. Pindah sejak beberapa bulan terakhir karena dapat tawaran gaji lebih mencukupi di kantor yang baru. Aku kerja dan kuliah malam’, dan kusimpulkan itu adalah jaawaban dari kawanku. Obrolan berlanjut, ‘Subhanallah…, alhamdulillah kalo kamu baik-baik aja. Berarti, sekarang lagi di kantor dong? Sudah dhuha-an belum? 🙂 ‘, agak lama balasan dari kawan saya itu datang, sekitar 15 menit pesan darinya, ‘Maaf yah lama balasnya, aku lagi gak di kantor, mau ada pertemuan dengan calon investor dan ada beberapa tender yang harus ditandatangai pimpinan, jadi belum dhuha-an’. Dan saat itu, aku yang agak lama membalas pesannya karena agak tersentak. Ada lirih dalam hati kecilku. Mengapa sampai sebegitunya? Padahal kawan itu bilang belum bukan tidak sama sekali. ‘Ah, mungkin memang belum sempat’, pikirku singkat.

Namun, sebelum aku membalas pesan kawan tadi, ia mengirimkan sepenggal pesan. Sedikit bercerita tentang dhuha. ‘Jiah, aku sekarang kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Selatan, gerak di bidang rekonstruksi bangunan. Aku di bagian finance dan hampir tiap pagi selalu ‘ketinggalan’ dhuha. Tapi, sejauh ini rizkiku ngalir terus tuh’, dan saya semakin terkejut dengan pesan itu. ‘Sekarang masih bareng calon investor yang tadi kamu bilang?’, rasanya masih belum siap untuk mengingatkannya. Jawabannya membuatku semakin terdiam, ‘Belum…, kan tadi aku bilangnya mau ada pertemuan dengan calon investor. Sekarang masih nunggu mereka’. Mengejar tanda tangan calon investor tapi melupakan INVESTOR para investor tersebut.

Tak jarang saya mendapati kisah serupa dari kawan-kawan lainnya, dulu pun ketika masih menjadi karyawan, merasa berat untuk ‘sekedar meluangkan waktu’ bagi Allah. Astaghfirullah, betapa sombong diri ini. Allah tak pernah barang sedetik pun melupakan hambaNya, sedangkan hamba ini berat untuk ‘meluangkan waktu di tengah kesibukannya’. Mohon ampun atas segala kelalaian kami mengingatiMu duhai Allah… T_T

Sedikit berbeda dengan kawan-kawan mahasiswa, biasanya, ada sekitar sepuluh menit jeda waktu dari pergantian antara satu jadwal dengan jadwal lainnya di waktu yang berdekatan. Pernah ada kawan yang bertanya, ‘Ka…, gimana yah kalo mau dhuha-an, sedangkan jeda waktunya kan cuma sebentar’, saya menyimpulkan segaris senyuman padanya dan berusaha mengingat diri sendiri. ‘Kalo aku, biasanya sebelum kuliah di jam pertama (07.30) udah punya wudhu’, jadi nanti pas ada jeda bisa langsung shalat dhuha’. Kawan itu terdiam beberapa saat dan sedikit membela diri, ‘Tapi Kak.., kan gak semua orang bisa jaga wudhu’ dalam waktu cukup lama, apalagi sampe 3 SKS (sekitar 2,5 jam)’, saya kembali tersenyum dan menelisik kembali bagaimana saya berusaha menjaga wudhu’. ‘Shalihah, tahukah terompah siapa yang Rasulullah lihat mendahului masuk surga? Dan apa sebab terompah itu ada lebih dahulu dari yang lainnya? Ialah Bilal bin Rabbah, si kulit hitam yang meng-Esa-kan Allah di bawah terik matahari dan timpaan batu besar. Dan apa sebab terompahnya ada di surga mendahului sahabat lainnya? Karena ia menjaga wudhu’nya’. Kawan itu mengangguk pelan dan obrolan kami pun terhenti karena ada agenda lain yang harus diselesaikan ketika itu.

Allaahu Rabby.. Seketika membayangkan diri sendiri. Mungkin, atau bahkan seringkali melalaikan Allah dengan cara-cara seperti kawan tadi. Mungkin ada yang berpendapat, ‘Dhuha kan cuma sunnah’, maka saya pun akan sepakat dengan jawaban tersebut. Namun, apakah lantas ketika amalan itu sunnah hukumnya kita boleh melalaikannya hanya untuk kepentingan dunia dan mengabaikan Allah? Sedangkan Allah yang tak pernah luput memperhatikan hamba-hambaNya? Astaghfirullah, semoga Allah memelihara kita dalam ketaatan padanya. Dan mengistiqomahkan amalan-amalan untuk menyembahNya.

Saudaraku yang dirahmati Allah, saya memang tak lebih baik dari kalian, tapi mari kita belajar bersama, berbagi dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah menggolongkan kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Hajiah M. Muhammad
Selasa, 2 Oktober 2012/16 Dzulqo’dah 1433 H
Aku tak lebih baik dari kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s