Jejaknya

Twit terakhir Ayu Andriani UIN Jakarta MTK (alm.) -» “@ajoeandriani: Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, Happy sunday everyone :)”

Bismillah.

Ada hal yang selalu membersamai keberadaan kita, menyertai langkah-langkah kita. Hal yang selalu dekat namun seringkali terabaikan keberadaannya. Kemarin, dalam perjalanan 1×24 jam di kota Kembang (Bandung), saya dibayang-bayangi kekhawatiran yang lebih dari biasanya.

Sore hari di Geger Kalong, tak jauh dari Daarut Tauhid, sebelum menyebrang jalan, dari kejauhan terdengar sirene mobil ambulance. Saya berusaha mencari sumber suara yang memang masih cukup jauh dari tempat saya berdiri. Dan melintaslah mobil jenazah itu di hadapan. Sejenak tertahan langkah untuk menyebrangi jalan. Sigh, sesekali merapikan hati yang tersentak dengan sirene ambulance.

Setelah menyebrangi jalan, masih dalam lamunan, dari arah Ledeng menuju pertigaan Geger Kalong, di hadapan melintas mobil ambulance yang melaju dengan kecepatan tinggi, sepertinya sedang mengejar waktu untuk menjemput pasien. Saya lepaskan kaca mata yang sudah mulai buram karena debu polutan, membersihkannya dengan sehelai kain. Peluh keringat menderas, mungkin karena lelah berjalan cukup jauh, ditambah ada rasa takut dengan kehadiran mobil ambulance yang melintas di hadapan.

Menanti bis Damri menuju terminal Leuwipanjang cukup memakan waktu. Sekitar 30 menit berdiri di tepi jalan menunggu bis, alhamdulillah…, bis yang dinanti datang. Sepanjang jalan, coba merenungi dua mobil ambulance yang tadi saya lihat. Membayangkan jika ada yang di dalam mobil itu adalah saya, Hajiah. Saya tak mampu membayangkannya, merasa belum siap jika harus ‘pulang’. Ya, masih belum siap untuk pulang ke tempat kembali yang kekal. Menghitung-hitung amalan, tapi siapa saya? Bukankah malaikat tak pernah luput mencatat amalan yang dilakukan manusia? Dan tak terasa ada bulir hangat yang mengalir di wajah yang lusuh. Sungguh, apa bekal perjalanan jika memang saya harus pulang?

Senja menjelang, di tepi jalan dekat terminal Leuwipanjang, menanti bis Damri menuju Cileunyi. Rupanya harus kembali menanti cukup lama hingga akhirnya duduk bersandar dalam bis. Alhamdulillah dapat tempat duduk dan bisa rehat selama perjalanan. AC (Air Conditioner) bis cukup dingin, bersyukur saya membawa jaket yang agak tebal. Kembali teringat mobil ambulance tadi. Di dalam bis AC, sejuk. Apakah ketika nanti berpulang pun saya bisa merasa senyaman ini? Bersandar di kursi sambil merasakan kesejukan? Ataukah kepanasan dalam perjalanan karena kurang amalan? Allah, kembalikan aku dalam ketenangan menujumu. Bisik hati lirih.

***
Dan tadi siang, mendapati pesan singkat dari kawan kampus, mengabarkan berita duka. Ada seorang mahasiswi UIN Jakarta yang mengalami kecelakaan dan tewas di tempat. Innalillahi wa inna ilayhi raji’un. Sungguh, saya memang tak mengenalnya. Tapi di kedalaman hati ada jerit ketakutan, bagaimana jika yang mengalami kecelakaan itu adalah saya? Apakah yang telah saya siapkan untuk kembali pada Sang Pencipta? Apakah yang telah saya berikan untuk kebermanfaatan? Adakah kebaikan ataukah keburukan?

Ayu Andriani, mahasiswi yang dikabarkan tercatat sebagai mahasiswi dari Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Jakarta, siang tadi menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan sepotong episode pada kita yang masih bernyawa, bahwa Allah lebih mencintainya. Dan sebelum azan isya’ tadi, saya mendapati pesan bahwa twit terakhir dari almarhumah adalah.. “@ajoeandriani: Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, Happy sunday everyone :)”. Sungguh, saya semakin terenyuh, betapa ini tak sekedar kicauan di social media. Ini lebih dari sekedar update twit di Twitter. Ada pesan yang ia tinggalkan, ‘Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur…’. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kan kau dustakan? Pelajaran berharga bagi kita, apa pesan yang kita tinggalkan ketika ajal menjelang? Adakah kebermanfaatan ataukah hanya kesia-siaan? Semoga Allah mengampuni segala dosa yang telah dilakukan. Masih ada kesempatan bagi kita untuk terus berbenah dan memperbaiki keimanan. Allahummaghfirlahaa warhamha, wa’afihi wa’fu an ha.. Selamat jalan Ayu, semoga Allah menempatkanmu di dekatNya.

Wahai jiwa yang lemah, tidakkah kau merasa bahwa kematian itu begitu nyata dan bisa kapan saja menghampirimu tanpa kau duga? Wahai jiwa yang lemah, tidakkah kau merasa bahwa kematian itu begitu dekat dan kau takkan bisa menundanya meski hanya sesaat? Wahai jiwa yang lemah, tidakkah kau merasa bahwa kematian itu selalu mengintaimu dan tak peduli apa yang kau bawa ke alam kuburmu? Kullu nafsin dzaaiqotul mawuut…, setiap yang bernyawa akan mati.

Hajiah M. Muhammad
Ahad, 16 September 2012/29 Syawal 1433 H
Bagaimana aku menjumpai ajalku?

Advertisements

One thought on “Jejaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s