Takkan Melampaui Mampumu

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah atas setiap ketentuanNya. Mahasuci Allah atas segala rahasia dan rencanaNya.

Saudaraku, pernahkah kau merasa terhimpit pada sudut kehidupan yang dilalui? Atau, pernahkah kau merasa tak lagi mampu berdiri, saat pijakmu semakin goyah? Dan setelah itu, hadirlah kekuatan yang menopangmu, kekuatan yang meneguhkan pijakmu, dan kekuatan yang meyakinkanmu bahwa kau mampu. Adakah kau rasa bahwa kekuatan itu bermula dari Dzat yang sering kita melupakannya kala lapang dan mendatanginya, memohon, mengiba saat sempit melanda???

Saudaraku, sungguh bukanlah kesenangan dunia yang mampu hapus deras peluh keringat dan air matamu. Bukanlah setumpuk harta benda yang menjadikan bahagia. Bukanlah emas permata yang mencipta damai dalam dada. Sungguh, bukan itu, bukan itu. Melainkan ada satu yang sangat nyata, namun sering kali tak tertangkap pandang mata. Maka adalah benar, bukanlah mata itu yang buta, melainkan hati yang ada dalam dada. (QS. Al-Hajj (22):46)

Saudaraku, beratnya beban yang kupikul mungkin masih lebih berat dengan beban yang ada di pundakmu. Aku malu padamu. Dalam tiap pelik masalahmu, masih kau luangkan waktu mendengar keluhku. Dalam tiap sesak dadamu, masih kau lapangkan ruang hatimu dan membiarkanku berbagi rasa denganmu. Aku menangkap kau pun dalam rasa pilu, namun senyummu mengisyaratkan baik-baik saja keadaanmu. Dan lagi, aku malu padamu.

Saudaraku, aku tak tahu mengapa aku belum bisa setegar dirimu. Saat kau mengukir senyum dalam tangismu. Saat kau memecah tawa dalam jeritan hatimu. Tak sekalipun kudapati kau mengeluh di hadapanku. Tak sekalipun kutemui kau menangis pilu karena himpitan masalahmu. ‘Cukuplah Allah bagiku’, itu katamu.

Ya…, kini kumengerti maksud kalimat sederhana itu. Ketika aku merasa perih dan kelu, tak tahu harus berbuat apa seorang aku. Dari kekuatan kalimat sederhana itulah jawaban kutemu, ketenangan hati, dan kejernihan pikirku. Ya…, cukuplah Allah bagiku. Dan kupelajari tuk senantiasa meyakini keyakinan atas kalimat nan sederhana itu. Sungguh saudaraku, sangat berat ketika seorang aku memahami kalimat itu. Namun, bukankah memang hakikatnya begitu. Saat kita meyakini sesuatu, maka akan beriringan dengan uji sebagai bukti dari keyakinan terhadap sesuatu, terlebih berkenaan dengan iman terhadap kepastian janji Rabb-ku. Dan ketika beragam uji hadir di hadapan, telah Allah sediakan solusi. Maka bersabarlah menapaki keyakinanku meyakini janji Rabb-ku. Dan aku hanya mengikut kemana Ia menuntun hatiku.

Bumi Cinta, 26 Januari 2012/3 Rabi’ul Awal 1433 H

*gerimis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s