Berbuatlah Sesukamu!

Bismillaah.

Selepas menunaikan shalat Isya’, membaca beberapa lembar pesan cinta, dan terpaku pada ayat yang bagi saya kini, menjadi jawaban yang hendak Ia sampaikan. Seperti pernah ada yang mengatakan, jika ingin berbicara dengan Allah, dirikanlah shalat. Dan jika kau ingin mendapat jawaban dari curahan hatimu kepadaNya, bacalah firmanNya. Semoga keyakinan ini menjadi penyemangat untuk senantiasa menjadikannya tempat berkeluh kesah dan meminta pertolongan.

Oh ya, pesan yang hendak saya bagi dari bacaan tadi ada di surat ke-39, QS. Az-Zumar, ayat 10. Dengan segala keterbatasan, memohon ampun kepada Allah, semoga apa yang akan saya sampaikan adalah kebaikan. Berikut adalah uraian dari pehamahan sederhana saya dari qur’an terjemah, bukan menafsirkan menurut saya yang bodoh ini, melainkan pemahaman singkat dan sederhana. InsyaaLlah bukan atas dasar liberalisme. ‘Katakanlah (Muhammad), ”Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Rabb-mu”. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas’ (QS. Az-Zumar (39):10). Orang-orang yang beriman mendapat seruan dari Allah untuk bertakwa kepadaNya, berbuat baik di dunia, dan akan memperoleh kebaikan pula. Ini adalah sunnatullah yang seringkali terabaikan. Kebanyakan orang, termasuk saya, terkadang ceroboh dalam melakukan kebaikan. Misalnya yang saya alami adalah ketika bermaksud mengingatkan seorang kawan agar menutup auratnya. Dalam Al-Qur’an, saling mengingatkan dalam kebenaran adalah kebaikan, namun jika saling mengingatkan justru dengan cara yang keliru, wajar saja jika kebaikan itu sulit untuk diterima objek yang diingatkan. Contoh, saya bermaksud mengajak seorang kawan untuk menutup auratnya, ‘Eh kamu, emang gak malu yah pakai rok mini ke kampus?’. Kalau caranya begini, akan sangat mungkin jika orang yang diingatkan marah dan tersinggung. Oleh sebab itu, kebaikan yang akan dilakukan harus pula dengan cara yang baik agar Allah berkenan memberikan kita kebaikan. Masih dari ayat yang sama, di akhir ayat, Allah menyebutkan bahwa orang-orang beriman diperintahkan untuk bersabar agar mendapat pahala yang tak terbatas. Setelah kita melakukan kebaikan, masih ada yang harus dilakukan, yaitu bersabar. Ya, bersabar. Saya ulang, bersabar. Oke! Bersabar. Sengaja diulang-ulang agar semakin bersabar untuk membaca tulisan ini. Eheheh. Bersabar dalam melakukan kebaikan bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang melakukannya tak mampu bertahan ketika kebaikan yang dilakukan tak mendapat apresiasi dari orang lain, atau mungkin merasa sia-sia dengan kebaikan yang dilakukannya. Di sanalah letak ujiannya, sejauh mana kita mampu bersabar melakukan kebaikan. Dan tentu saja, sejauh mana ketulusan hati kita berbuat kebaikan. Inilah yang seringkali mematahkan semangat untuk melakukan kebaikan, karena tak mampu bersabar dan mungkin tak menyertai ketulusan hati melakukannya. Padahal, sangat jelas Allah menegaskan dalam firmanNya, ‘Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya’ (QS. Al-Zilzaal (99):7). Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan diperhitungkan, akan Allah perhatikan dan tercatat dalam catatan malaikat Raqib. Takkan ada yang terlewat meski hanya sekejap, Allah melihat, malaikat mencatat. Begitulah ketetapanNya. Maka lakukan saja kebaikan dan bersabarlah melakukannya. Bukankah Allah bersama orang-orang yang sabar?

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. bersabda, ‘…Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu’ (HR. Bukhari). Dimana tempat yang tak terlihat pandangan Allah? Lubang semut sekalipun, tak luput dari jangkauanNya. Pada satu ketika, khalifah ‘Umar ibn Khaththab berjalan di bawah terik siang, di panasnya gurun pasir. Ia bertemu dengan seorang penggembala, rupanya ‘Umar tertarik untuk membeli hewan yang sedang digembalakan itu. Dan terjadilah perbincangan antara ‘Umar dengan penggembala. ‘Wahai saudaraku, bolehkah aku membeli hewan gembalaanmu?’, tanya sang khalifah. ‘Maaf Tuan, saya hanya diamanahkan untuk mengembalakan hewan-hewan ini’, jawab sang penggembala. ‘Aku beli satu saja’, ‘Umar masih berusaha untuk membeli hewan gembalaan tersebut. Dan beliau melanjutkan kata-katanya, ‘Aku hanya ingin membeli satu dari sekian banyak hewan gembalaanmu. Majikanmu takkan tahu jika kau menjualnya’. Betapa terkejut ‘Umar ketika mendengar jawaban si penggembala itu, ‘Lalu dimana Allah? Majikanku mungkin bisa saja aku bohongi, tapi Allah melihat apa yang aku lakukan’.

Ya, dimana Allah? Bukankah Ia Maha Melihat atas apa yang dilakukan hambaNya? Saudaraku, mungkin kita bisa saja terlihat baik di hadapan kawan-kawan kita yang lain, tapi apakah kita bisa tahu bagaimana pandangan Allah terhadap diri kita? Ia Yang Maha Menyaksikan, Maha Mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi, masihkah kita bersembunyi dalam kemaksiatan sedangkan Ia menyaksikan? Oleh sebab itu, senantiasalah berbuat kebaikan. Bersabarlah melakukannya. Dan lakukan semata untukNya agar tak ada rasa kecewa ketika kebaikan yang kau lakukan tak mendapat penghargaan dari manusia. Senantiasalah berbuat kebaikan, Allah melihatmu, Ia takkan jemu memperhatikanmu.

Hajiah M. Muhammad
Sabtu, 1 September 2012/14 Syawal 1433 H
Hening.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s