Bersyukur Atas Nikmat Islam

Bismillaah.

Tercekat ketika mendapati kabar bahwa semakin banyak saudara-saudara muslim yang keluar dari agama Islam (murtad). Beragam alasan mereka kemukakan, mulai dari perasaan tak diperhatikan saudara seiman, hingga berani memaparkan dalil al-qur’an dan sunnah secara terang-terangan, tapi sayang hanya mengikut pada pemahaman yang parsial, tak menyeluruh.

Tadi pagi, dikirimi link sama seorang kawan, judul tulisannya menarik untuk dibaca, ‘Alasan Saya Keluar Dari Islam’. Dan muncul dalam hati pertanyaan yang membuat saya ketakutan, sejauh mana keyakinan terhadap Islam? Apakah identitas sebagai muslim itu hanya karena faktor keturunan ataukah memang melalui proses pencarian, mengapa saya menganut Islam? Pertanyaan ini mungkin terkesan aneh, tapi perlu kita kaji. Tak harus belajar filsafat atau lainnya, ini tentang usaha menyelamatkan saudara seiman kita yang terancam murtad, sebagai bentuk kepedulian terhadap mereka. Bukan untuk memperdebatkan ajaran Islam yang sempurna, bukan, sungguh bukan. Bukan pula untuk mengundang keraguan terhadap nilai-nilai Islam. Justru yang saya maksudkan dari tulisan ini adalah untuk meyakinkan kita bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Agama yang cinta damai, karena ia adalah rahmatan lil ‘alamiin.

Segala puji bagi Allah atas segala karuniaNya, dan tentu saja atas nikmat tak terkira bagi saya, mungkin juga bagi sebagian yang lainnya, iman dan Islam. Sungguh, dua kenikmatan yang tiada bandingannya. Pada beberapa perenungan, saya bertanya ke dalam hati, ‘Apakah keIslaman saya sudah sesuai dengan yang disyariatkan?’. Saya bercermin pada hati, masih lalai dari mengingatNya, masih asik dengan kemaksiatan dan dosa-dosa. Bagaimana seorang Hajiah dapat meresapi pada tiap aliran darahnya, pada tiap detik waktu yang dilaluinya, bernilai ibadah kepada Allah sebagai bentuk penghambaannya sebagai seorang muslim. Lalu, apakah cukup kita menganut agama Islam dan membenahi penghambaan kita, sedangkan di luar diri kita, banyak orang yang juga perlu diselamatkan keyakinannya. Di luar sana, banyak yang juga tertatih mendekati Penciptanya. Disinilah tugas kita, keIslaman kita tak sekedar identitas kawan, tapi harus menebar kebaikan dan kebermanfaatan.

Suatu ketika pernah ada yang bercerita kepada saya, ‘Di BBM (BlackBerry Messenger), ada yang protes dan bilang, ‘Kenapa sih orang Islam kalo nyebut orang Kristen non-muslim? Emang mereka mau kalo disebut non-Kristen?!’. Di waktu yang berbeda, ada seorang Nasrani yang bertanya kepada saya, ‘Kenapa kalian (orang-orang Islam) menyebut kami kafir? Kami tidak kafir, kami meyakini bahwa Allah adalah Tuhan kami. Kami hanya menolak bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan. Bagaimana mungkin meyakini risalah yang ia bawa sedangkan ia saja buta huruf!’. Sejujurnya, ketika mendapat cerita dan pertanyaan demikian, saya memaksakan akal untuk berpikir lebih keras agar bijak dan cerdas. Tak asal-asalan tanpa dasar yang kuat. Dan segera membaca sekitar dua sampai 3 lembar surat cintaNya, berharap diberikan jawaban yang cerdas. Baik secara langsung maupun tak langsung kedua kisah tersebut membuat saya bertanya kembali, ‘Apakah perbedaan muslim dengan non-muslim jika mereka pun meyakini bahwa Allah adalah Tuhan mereka?’, mari kita kaji. 🙂

Untuk menanggapi kedua kisah tersebut di atas, saya berusaha untuk menggunakan dalil yang tentu saja berimbang, dan itu dijelaskan dalam Al-Qur’an. Bagi sebagian orang, mungkin hal tersebut bisa memunculkan perdebatan, karena masing-masing merasa tak mau disalahkan. Tapi disini, saya hanya ingin mencoba berikan sedikit pemaparan tentang Islam secara global, dan mengapa kita memeluk Islam sebagai agama yang kita yakini. Mari kita lepaskan bayang-bayang bahwa keIslaman kita adalah faktor keturunan, tidak saudaraku, sungguh bukan itu yang aku maksudkan. Semoga kau berkenan untuk terus membacanya. Dalam QS. Ali Imron (3):85, Allah berfirman, ‘Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agamanya itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi’. Inilah dasar mengapa saya menegaskan bahwa penghambaan kita sebagai muslim bukan sekedar faktor keturunan, tapi atas dasar pencarian kebenaran. Kita mengenal adanya rukun Islam sebagai bukti keIslaman yang merupakan kebutuhan untuk mendapatkan predikat sebagai seorang muslim, tapi apakah cukup keIslaman seorang hamba jika sekedar predikat? Saudaraku, Islam adalah agama paling komprehensif, konsepsi yang sangat insaniyah (manusiawi), mengatur dan menjadi petunjuk bagi manusia tanpa meninggalkan fitrah sebagai manusia.

Kembali kepada dua cerita tersebut di atas, menanggapinya satu per satu ya kawan. Dari cerita pertama, tentang pertanyaan sederhana, ‘Kenapa orang-orang Islam menyebut kami yang beragama Kristen non-muslim? Apakah mereka mau jika kami pun menyebut mereka non-Kristen?’. Saudaraku yang dirahmati Allah, Islam adalah agama penuh kasih sayang, termasuk juga mengatur sebutan atau panggilan. ‘…janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar yang buruk…’ (QS. Al-Hujurat (49):11). Islam mengajarkan kami perdamaian, kasih sayang meski dengan mereka yang menganut keyakinan lain, oleh sebab itu, jika ada yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menyebarkan kebencian, maka dengan lantang saya katakan, Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, bukan kebencian apalagi perpecahan. Masih di surat yang sama, QS. Al-Hujurat (49), di ayat 10 Allah berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat’. Sangat jelas bahwa Islam bukan agama yang menyebarkan kebencian dan perpecahan. Semoga Allah membukakan hati orang-orang yang mengatakan demikian.

Lanjut pada cerita kedua, satu pertanyaan yang ditujukan kepada saya, ‘Kenapa kalian (orang-orang Islam) menyebut kami kafir? Kami tidak kafir, kami meyakini bahwa Allah adalah Tuhan kami. Kami hanya menolak bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan. Bagaimana mungkin meyakini risalah yang ia bawa sedangkan ia saja buta huruf!’. Saudaraku, di dalam Al-Qur’an disebutkan, ‘Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam’. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu…’ (QS. Al-Maidah (5):72). Di sini, sungguh saya sama sekali tak bermaksud menghakimi agama lain, tapi sungguh, hanya ingin menyampaikan kebenaran pesan Allah dalam Al-Qur’an. Mari buka hati untuk menerima kebenaran ini kawan. Tuhan hanya satu yang patut disembah, adalah Allah, tiada yang lainnya. Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang utusan Allah bagi Bani Israil, bukan anak Tuhan seperti yang selama ini diyakini orang-orang kafir. Tentang Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam, dalam kitab-kitab terdahulu telah disebutkan bahwa akan hadir nabi akhir zaman yang akan melanjutkan seruan para nabi-nabisebelumnya dengan cahaya Allah. ‘Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)…’ (QS. Ash-Shaf (61):6). Ada hal yang agak menggelitik, lucu! Orang-orang kafir meyakini bahwa Allah adalah Tuhan mereka, mereka pun meyakini bahwa Isa putra Maryam adalah utusan Tuhan, tapi menolak kebenaran yang disampaikan Al-Masih dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad bukanlah utusan Tuhan. Come on guys! Ini sangat jelas, lantas apa yang menghalangimu bertahan dengan agama selain Islam? 🙂

Teruntuk saudaraku sesama muslim. Saudaraku, apa yang membuat kau ragu atas agamamu? Mengapa kau malu untuk membaca kitab sucimu di hadapan umum? Kau menikmati buku-buku perkuliahan atau novel atau roman picisan dan mengabaikan Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagimu! Lihatlah mereka, dengan bangga membawa Al-Kitab menuju gereja, meletakkan di depan dada mereka, mereka bangga dengan agamanya. Tidakkah kau bangga dengan keIslamanmu? Agama yang diterima Allah hanyalah Islam kawan, seperti yang telah Ia firmankan, ‘Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam’ (QS. Ali Imron (3):19). Dan terus berupaya, berdoa agar Allah membimbing kita menjadi muslim yang seutuhnya. Mari sini sejenak kita berpikir agar agama tak sekedar identitas, tapi ia membekas hingga menjadi bekal pulang pada Sang Pencipta. Agama Islam yang telah tersemat pada tiap diri dan hati kita, bukanlah semata karena faktor keturunan. Jika agama adalah sebab keturunan, mengapa Kan’an (putra Nabi Nuh ‘alayhi salam) menolak kebenaran yang dibawa sang ayah? Jika agama sebab keturunan, mengapa Mush’ab bin Umair rela melepaskan baju kerajaan untuk memeluk Islam? Maka, teruslah berbenah, memperbaiki penghambaan kita agar agama yang kita yakini, menjadi keping-keping taqwa yang akan kita tuai di akhirat kelak. Menghantarkan kita pulang pada Pemilik jiwa, pada Sang Pencipta. Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.
Senin, 20 Agustus 2012/2 Syawal 1433 H
Proud to be muslim generation. I’m a agent of rahmatan lil ‘aalamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s