Memaknai Kembali Kemerdekaan RI

Bismillah.

Ini tentang kemerdekaan Indonesia. Tahun 1945, Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) setelah lepas dari penjajahan Jepang. Para pahlawan bangsa, dengan segenap jiwa dan raga, memperjuangkan kemerdekaan negara tercinta, Indonesia. Di posting-an kali ini, saya mau coba sedikit mengingatkan kawan-kawan tentang isi Pembukaan UUD ’45. Agak lucu, mungkin. Tapi bagi saya, pembukaan UUD itu ya worth it banget kalo sekarang banyak orang yang bukan cuma hapal, tapi juga paham dan take action dari isi UUD, iya kan?

Kita mulai dari alinea pertama, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Di sana, disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, pertanyaannya adalah, sudahkah Indonesia merdeka? Bagi sebagian orang, atau bahkan hampir seluruh rakyat Indonesia, kemerdekaan memiliki arti yang sangat universal. Kemerdekaan di segala bidang, entah pendidikan, ekonomi, kesehatan, keamanan atau lainnya. Tapi saudaraku, adakah di antara kita yang peduli, setidaknya merasa prihatin dengan keterpurukan penjajahan yang justru masih terjadi setelah Indonesia merdeka? Lalu dimana wujud dari kalimat ini, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan? Sedangkan, untuk urusan pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja masih banyak anak-anak yang menangis kelaparan. Di tepi kota-kota besar masih banyak anak-anak yang duduk di emperan toko di jam-jam sekolah! Mereka menjajakkan koran, menjadi penjual asongan atau yang lebih parah, melakukan tindak kriminalitas. Inikah potret negeri yang sudah merdeka? Dimana letak perikemanusiaan dan perikeadilannya? Di tempat yang berbeda, anak-anak yang tumbuh di keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, dengan santainya membuang sisa makanan, mencela makanan tak enak karena tak sesuai dengan keinginannya. Di tempat yang lain, anak-anak bolos sekolah dan memilih berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan, menghabiskan sejumlah uang hasil jerih payah ayah-bundanya. Ini hanya sebagian kecil dari keterpurukan di tengah negara yang katanya sudah merdeka.

Kita masuk ke alinea kedua, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Hendak mengutip kalimat yang mana kawan? Apakah ini? “…mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”? Rakyat Indonesia yang manakah yang dianggap merdeka? Sedangkan di sudut-sudut desa, masih banyak rakyat yang harus berusaha keras memperjuangkan hak-hak mereka. Untuk menikmati pendidikan saja misalnya, mereka harus melintasi hutan, menyebrangi sungai. Lalu dimana arti kemerdekaan? Apakah hanya berlaku bagi mereka yang hidup di tengah kota dan melupakan rakyat yang ada di pedalaman Indonesia? Bersatu. Kalian pernah dengar berita perang antar warga yang terjadi di Indonesia bagian timur? Indonesia, dengan keanekaragaman suku, budaya, agama, adat istiadat, adalah rahmat dari Allah yang seyogyanya menjadi warna yang saling melengkapi, saling mewarnai dan tercipta keindahan seperti pelangi. Indah bukan? Mari kita tengok firmanNya, “…kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat (49):13. Subhanallah, jauh sebelum Indonesia menggaungkan ke-bhinneka tunggal ika-annya, telah Allah sampaikan dalam ayat cintaNya. Saudaraku, perbedaan adalah rahmat, tanda kasih sayang yang telah Allah anugrahkan kepada hambaNya, dan bangsa Indonesia pada khususnya. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin, adalah sangat menghargai perbedaan dan Islam mengajarkan kepada kita semua bahwa bukanlah mempermasalahkan bagaimana perbedaan kita dengan yang lainya, akan tetapi saling melengkapi satu dengan yang lainnya agar terjalin hubungan yang harmonis, hablun minannaas (hubungan dengan manusia), karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Maka dari itu, menjadi keharusan bagi kita untuk menjadikan perbedaan adalah rahmat, dan semoga kita digolongkan sebagai orang-orang yang selamat. Ihdinashshiraathal mustaqiim…

Kita lanjutkan ke alinea ketiga dari Pembukaan UUD ’45. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Segala puji bagi Allah, atas berkat kemurahanNya, atas kepastian janjiNya yang telah memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Dalam pesan cintaNya, Ia berfirman, “…Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka (berusaha) mengubah keadaannya…” (QS. Ar-Ra’d (13):11). Kemerdekaan Indonesia tentu bukan atas perjuangan para pahlawan semata, meskipun sangat kita hargai pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan negara tercinta. Akan tetapi, di balik setiap perjuangan dan pengorbanan yang diberikan, ada Dzat yang menentukan apakah kita layak mendapatkan kemenangan ataukah kekalahan. Innallaha ‘alaa kullii syay’in qadiir…sungguh Allah MahaBerkehendak atas segala sesuatu, termasuk kemerdekaan atas bangsa Indonesia. Kalimat selanjutnya, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemerdekaan bangsa Indonesia, disiarkan melalui siaran radio ke seluruh penjuru negeri, mengabarkan pada rakyat dan dunia bahwa Indonesia telah merdeka. Dengan dibacakannya teks proklamasi oleh Bung Karno, sebagai presiden pertama Indonesia, menjadi satu bukti penyiaran kemerdekaan Indonesia, yang kemudian disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dan terakhir, di alinea keempat, ada beberapa poin yang akan saya uraikan, adalah sebagai berikut:

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, perlindungan negara tak memihak kepada sebagian rakyat, misalkan hanya melindungi rakyat di Indonesia bagian timur karena dianggap lebih rawan konflik, sedangkan di Pulau Jawa tak ada perlindungan. Dalam hal ini, menurut hemat saya, perlindungan yang dimaksud meliputi keamanan dan kenyamanan bagi seluruh bangsa Indonesia dari segala bentuk penyerangan dari pihak luar. Di kalimat selanjutnya dari alinea keempat, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, ada banyak hal yah.ehehe..hosh! Lanjut…, memajukan kesejahteraan umum, agak bingung dengan keterangan ini, barometer kesejahteraan itu rumit untuk dijabarkan, tapi menurut saya, kesejahteraan ya meliputi seluruh aspek kehidupan rakyat, mulai dari kebutuhan ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, dan lainnya. Mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan pemberlakuan wajib belajar 9 tahun yang dilaksanakan dari pemerintah, lebih dari cukup, akan tetapi masih banyak anak-anak di pedalaman Indonesia yang tak mengenal bangku sekolah. Kalaupun ada, mereka harus melewati hutan, menyebrangi deras sungai untuk bisa mencapai sekolah, yang keadaan sekolah itu pun masih jauh dari kata layak untuk menjadi sarana proses belajar mengajar. Anies Baswedan, penggagas gerakan Indonesia Mengajar (IM), yang menjadi satu usaha nyata untuk membantu pencapaian mencerdaskan kehidupan bangsa. Program yang menyediakan tenaga-tenaga pengajar muda yang diseleksi dan dibina untuk siap diterjunkan ke pelosok-pelosok Indonesia, menjadi guru yang tak sekedar mengajar, tetapi juga mendidik para siswanya. Bahwa pendidikan juga milik mereka yang berada di pedalaman pulau-pulau terpencil di Indonesia.

Sebenarnya saya malu menuliskan ini, tentu para pahlawan dengan segenap jiwa raganya yang telah memperjuangkan kemerdekaan ini jauh lebih mengetahui makna kemerdekaan. Ada rasa malu pula kepada para kawan yang telah membawa nama Indonesia di kancah dunia dan mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang merdeka. Dan malu kepada diri sendiri, menanyakan ke dalam hati, apakah yang telah saya berikan untuk negeri ini?  Terngiang di telinga, senandung lagu sederhana, ciptaan Ibu Sud, Tanah Air, mari kita nyanyikan.

Tanah air ku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai, engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani, yang mahsyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s