Cinta Jangan Kau Pergi

Bismillaah.
Pagi ini, mengingatkanku pada beberapa hari terakhir menjelang kepergiannya. Kusiapkan sarapan untuk Ibu, Bapak, dan adikku. Sederhana saja, sambil melarutkan gula pada gelas-gelas yang kuseduh teh celup, sayup terdengar dari kejauhan. Lantunan mengagungkan kebesaranNya, tahmid, tahlil, tasbih membahana dari pengeras suara di mushallah dekat rumah. Pengeras suara dari masjid yang agak jauh dari rumahku pun masih sayup terdengar. Sambut-menyambut sahutan takbir, Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa Ilaaha Illaallaahu Allaahu Akbar…
Oh Allah, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Aku sangat jarang menjumpainya, kebersamaan dengannya pun kurasa jauh dari sempurna. Ia menyapa dengan penuh cinta, membawa keberlimpahan kasih sayangMu yang tiada dua. Ia menyapa dengan penuh cinta, membawa kelapangan ampunanMu menerima taubat hamba. Ia menyapa dengan penuh cinta, menjauhkan kami dari panas api neraka. Tapi Allah, bolehkah kami meminta, mengiba agar Kau mengizinkannya bersama lebih lama. Melarutkan diri dalam syair-syair cintaMu yang teramat indah, menyungkurkan sujud dan doa yang dalam dan panjang menghabiskan malam, hingga fajar menjelang.
Kami masih ingin bersama lebih lama, masih sangat ingin menghabiskan malam dalam rintih tangis menghamba. Kami masih ingin bersama lebih lama, masih sangat ingin menyuarakan bisik hati dalam senandung doa. Duhai Allah, adakah kami sungguh masih ingin bersama ataukah hanya kepalsuan cinta? Kami ingin menjerit dan meronta, agar Kau memperkenankan kami bersama lebih lama. Kasih sayang yang ia bawa baru kami cicipi tak kurang dari setengahnya. Keampunan yang ia bawa pun luput dari kami meraupnya. Apatah lagi dijauhkan dari api neraka, mungkin kelalaian kami yang justru melempar raga pada nyala api neraka.
Kami paksakan air mata mengalir, membasahi wajah muram berduka. Masih tak percaya kami tak lagi bersama. Dan hati pun menangis, menjerit, mengiba. Memohon pada Engkau Pemilik alam raya. Dengan segenap cinta kami menghamba, merintih dalam tangis, harap dan doa. Cinta jangan kau pergi…, kami masih ingin kau tetap di sini. Melewati waktu memenjarakan sepi. Cinta jangan kau pergi…, kami masih ingin kau tetap di sini. Melantunkan simfoni cinta Illahi. Cinta jangan kau pergi…, kami masih ingin kau tetap di sini. Melarutkan diri dalam sujud dan doa penguatan jiwa. Cinta jangan kau pergi…, kami masih ingin kau tetap di sini. Menghamba pada Pemilik alam raya, mengagungkan keagunganNya dan menghinakan diri di hadapanNya. Betapa kami tiada daya tanpaNya. Betapa kami hina tanpa kemuliaan dariNya. Betapa kami lemah tanpa kekuatanNya. Duhai cinta, adakah kami benar berat melepas kepergianmu ataukah sekedar ungkapan rindu untuk selalu bersamamu? Duhai cinta, adakah kami sungguh tak rela kau pergi ataukah sekedar ceremony agar kau tetap di sini? Duhai cinta, adakah sungguh kami tak ingin kau tinggalkan ataukah sekedar mengikuti kawan-kawan yang merasa kehilangan. Duhai cinta, adakah kebersamaan kita menyuburkan cinta pada MahaCinta ataukah menyungkurkan dosa, menyisakan luka yang menganga. Duhai cinta, adakah kebersamaan kita menumbuhkembangkan investasi pahala ataukah menumpukkan dosa yang menggiring kami ke neraka? Adakah kebersamaan kami denganmu mematangkan penghambaan ataukah membusukkan hati dengan kemaksiatan? Duhai cinta, kami ingin kau tetap di sini, jangan kau pergi. Oh Ramadhan, adakah kami menjumpaimu tahun depan ataukah kami berlalu tanpa meninggalkan kebaikan?

Hajiah M. Muhammad
Ahad, 19 Agustus 2012/1 Syawal 1433 H
Dalam kerinduan, dalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s