Karakter Pribadi Muslim

Bismillaah.

Aku menyebutnya karakter pribadi muslim, didedikasikan kepada para pemuda Islam. Pemuda yang senantiasa bergerak, yang merindukan perubahan pada kebaikan. Pemuda yang senantiasa bergerak, menjejak, tak kenal henti berjuang. Pemuda Islam yang tak sekedar status, tapi mereka yang berupaya mengerahkan kemampuan yang Allah titipkan di pundaknya untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan. Pemuda yang senantiasa belajar, berbagi, dan menginspirasi! Adakah kita di dalamnya? Ataukah hanya menyaksikan mereka menorehkan namanya pada sejarah peradaban? Mari kita mulai.

Tulisan ini adalah rangkuman dari materi yang pernah disampaikan dalam agenda sharing keputrian Irmafa (Ikatan Remaja Masjid Fathullah), masjid depan kampus. Eheheh 😀

 

Mungkin sebagian orang sudah mengetahui poin-poin yang akan saya tuliskan disini, diambil dari Risalah Ta’lim karya Syaikh Hasan Al-Banna, dikenal dengan sebutan…apa hayoooo??? *dijawab yah 🙂

 

1. Saliimul Aqidah (Aqidah yang selamat)

‘yaaaaaa ayyuhalladziina aamaanudkhulu fissilmi kaaaaaaffah…’ (hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam (agama) Islam secara menyeluruh) QS. Al-Baqarah (2):208. Kawan, kalo kita naik angkutan umum, tapi cuma sebelah badan yang masuk, gimana? Amankah? Atau lebih besar resiko jatuh dan terpental? Nah, itu hanya contoh sederhana. Terlebih dalam urusan keyakinan, jangan setengah-setengah. Jangan hanya mempelajari dan memahami satu atau dua ajaran agama (dalam hal ini, agama yang saya maksudkan adalah Islam), tapi menyeluruh. Gak bisa cuma sebagian. Misalkan, kita meyakini bahwa Allah itu ada, tapi masih percaya sama ramalan bintang, harus dipertanyakan tuh keyakinannya sama Allah :p. Ketika di awal Al-Qur’an diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw., isi kandungannya tentang tauhid, tentang bagaimana kita sebagai manusia mengenal siapa Tuhan kita, dan meyakini Dia-lah satu-satunya Rabb, laa ilaaha illallaah…muhammadarrasuulullaah… Bahkan, dalam catatan waktu, periode ini dikatakan periode Makkah, sehingga surat-surat yang diturunkan pada masa ini disebut Makkiyah. Dan baru pada periode berikutnya Al-Qur’an yang Rasulullah sampaikan membahas tentang ibadah dan muamalah, sebagai pedoman manusia untuk menjaga dan menambah keyakinan terhadap Rabbnya. Kawan, jika kita mengingat betapa panjang perjalanan yang telah Rasulullah lakukan bersama para sahabatnya, 13 tahun pada periode Makkah, dan 10 tahun periode Madinah (dalam periode ini disebut surat Madaniyah.red), kita tentu akan semakin bersyukur karena telah dilahirkan di keluarga yang menganut agama Islam. Kau tahu kenapa? Hanya Islamlah agama yang diterima di sisi Allah, percaya gak? Saya sih percaya *pake banget*. ‘Terus, apa buktinya cuma Islam yang diterima di sisi Allah?’. Saya cuma bisa kasih info tentang sumber keyakinan tadi, ada lho dalam Al-Qur’an. Dimana? Di Al-Qur’an! Iya, tau di Al-Qur’an, tapi ayat berapa? Surat apa? *eheheh :D*

Yuk silakan dibuka qur’annya, dibaca terjemahnya, dipahami dan dikaji tafsirnya, surat cinta kelima, ayat ketiga (QS. Al-Maidah (5):3). ‘alyawma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaykum ni’matii waradhiitu lakumul islmaamadiinaa’, pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Nah, jelaskan? Masih ragu dengan kebenaran ayat ini? Dan sebenarnya, setiap manusia, sudah bersaksi atas ke-esa-an Allah lho… Hah! Masa sih? Sumpeh lo? *hihihihi* . Iya, saya hanya menyampaikan, silakan dibuka lagi qur’annya, ada di surat Al-A’raf (7):172… ‘…alastu birobbikum, qaaluu baalaa syahidna..Benar, (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi…’Ayo utuhkan keislaman kita, Islam agama yang universal, semua sisi kehidupan ada dalam kebijaksanaan aturan yang telah Allah tetapkan. Dan nanti, ketika Allah cukupkan jatah hidup kita di dunia, kita mati dalam keadaan berserah diri, dalam keislaman terbaik yang kita ikhtiarkan selama hidup. Mati dalam keadaan Islam, husnul khatimah! Aamiin 🙂

 

2. Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar)

Pernah dengar ayat yang mengatakan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar? Kalau belum, ini ayatnya… ‘…innashshalaata tanha ‘anilfahsyaaaaaai walmunkar..sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…’ (QS. Al-‘Ankabut (29):45). Ibadah yang benar akan menjadikan pelakunya terjaga dari hal-hal yang dilarang agama. Ibadah yang benar akan menjadikan pelakunya senantiasa merasa diawasi oleh Allah, dalam keyakinannya, bahwa Allah Mahamelihat dan malaikat mencatat. Tak ada celah sedikit pun untuk melakukan penyimpangan. Jadi, orang yang ibadahnya benar, gak akan berani melakukan kemaksiatan, kecuali dalam keadaan lupa atau khilaf, tapi jangan dijadikan alasan kalau berbuat kesalahan ya kawan. Mentang-mentang manusia fitrahnya salah dan lupa, mencari-cari alibi untuk menutupi kesalahan dengan mengatakan, manusia kan tempat salah dan lupa. Nah, inilah hikmah kenapa kita harus saling mengingatkan. Manusia itu cenderung berbuat kebaikan, jadi kalau ada yang berbuat kemaksiatan, mungkin hatinya sedang karatan. *astaghfirullaah T_T*. Saya pernah dengar ada ungkapan, STMJ (shalat terus, maksiat jalan), ini keliru! Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, tuh dibaca lagi qur’annya! Kalau ada yang shalat rajin tapi masih maksiat, mungkin karena shalatnya sebatas penggugur kewajiban. Dalam ibadah, dikenal istilah ihsan, yang jika didefinisikan kurang lebih begini, jika engkau melakukan ibadah, bayangkan seolah engkau melihat Allah, jika kau tak melihatNya, maka yakinlah bahwa Ia melihatmu dan menyaksikan amalanmu. Saya sampaikan ini bukan berarti sudah sempurna ibadah saya, justru karena saya butuh pengingat supaya terus memperbaiki ibadah sehingga layak mendapat gelar taqwa. Saling mengingatkan kawan!

 

3. Matiinul Khuluq (akhlak yang mantap)

Sebaik-baik akhlak adalah akhlak manusia yang terjaga, Rasulullah saw., bahkan Alllah abadikan dalam firmanNya, ‘laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah…sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik..‘ (QS. Al-Ahzab (33):21). Kalau boleh saya mengatakan, inilah tokoh idola sesungguhnya. Akhlaknya terpuji, manusia pilihan yang seluruh aspek kehidupannya hanya mengikut pada ketentuan Rabbbnya. Diantara sekian banyak teladan kekasih itu, izinkan saya menyebutkan beberapa kemantapan akhlak beliau yang bisa kita teladani. Pertama, shiddiq (benar, jujur). Jujur dalam perkataan dan perbuatan, bukan munafik yang hanya mengindahkan perkataan akan tetapi perbuatannya ingkar. Kedua, amanah (terpercaya). Rasulullah mendapat gelar al-amin (yang terpercaya) jauh sebelum beliau diangkat menjadi utusan Allah. Di usia yang boleh dikatakan masih anak-anak, beliau sudah ikut berdagang dengan pamannya dan disanalah terbukti kebenaran bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib adalah seorang terpercaya.

 

4. Qawiyyul Jism (jasad yang kuat)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ‘Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, “Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain.” Akan tetapi katakanlah,”Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat.” Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim). Kalimat yang ditebalkan, adalah penekanan yang hendak saya sampaikan.

  • Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Baik lahir maupun batin, semestinya kita memperkuat keduanya, menyeimbangkannya dengan asupan-asupan gizi dan nutrisi. Untuk jasad, seseorang dikatakan kuat bukan berarti jago gulat, tapi sehat dan mampu melaksanakan aktivitas dengan kesungguhan. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik, yang menyehatkan. Mengatur pola makan dan istirahat, olahraga (minimal jalan kaki bolak-balik dari kos ke kampus atau sebaliknya eheheh :p). Lalu, bagaimana untuk menjaga kesehatan batin agar ia kuat? Sederhana kok, laksanakan amalan harian, misalkan shalat dhuha, tilawah, tahajud, shalat rawatib, dzikir pagi-petang (al-ma’tsurat), dan pastinya shalat wajib J
  • Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah. Kawan, kalian punya mimpi? Semoga kalian memilikinya. J Bagaimana menjadikan mimpi itu nyata? Bangun dari tidur dan bergerak, kejar, raih apa-apa yang kita cita-citakan untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Dan bermohon semoga Allah memampukan dan membimbing langkah-langkah kita. Seberapa yakin kita akan keberadaan Allah? Sedalam apa pengharapan kita atas ketetapanNya? Sejauh itulah Allah membersamai langkah-langkah kita. Mau tahu seberapa cintanya Allah sama kita? Sebenarnya cinta banget, tapi manusianya sombong. Silakan ditanya ke masing-masing hati kita, sejauh mana semangat kita mengejar cita-cita dan pengharapan kita kepada Allah.

 

 

5. Qaadiran ‘ala kasbi (bermatapencaharian, mandiri)

‘Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung’ (QS. Al-Jumu’ah (62):10). Kawan, siapa diantara kita yang *minimal* uang saku sudah dari jerih payah sendiri? Jadi gak nunggu ongkos dari orang tua lagi. Oke! Kalau masih begitu, yuk belajar berpenghasilan, seperti yang tadi saya bilang, minimal uang saku dari kantong sendiri. Buat yang masih sekolah, bisa mulai dengan jual-beli alat tulis. Saya gak punya modal! Saudaraku, apa arti modal bagi kalian? Apakah sekedar jumlah uang? Maka saya katakan bahwa itu harus diluruskan. Kenapa? Allah kan udah berikan kita banyak kelebihan, tiap-tiap manusia sudah diberikan kelebihan diantara sebagian yang lain. Namun sayangnya, kebanyakan manusia gak bersyukur. Kalau kita bersyukur, sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat, bahkan bisa juga dirasakan manfaatnya buat orang lain. Mau jadi sebaik-baik manusia kan? Jadilah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Eh? Kepanjangan, balik lagi ya… Saya juga masih dapat ongkos dari orang tua, tapi sejak 3 tahun terakhir alhamdulillaah uang saku dari usaha sendiri. Lho! Gimana? Kok bisa? Ya bisa, kalian pun pasti bisa. Balik ke contoh tadi, kalau belum punya uang untuk jualan alat tulis, kita bisa kerja sama dengan toko-toko buku. Gimana caranya? Bisa ngomong kan? Itu modal juga. Di awal, saya main-main ke toko aksesoris laptop, jalan-jalan aja gitu. Sok-sok-an tanya ke penjaga toko, ‘Mba, harga flashdisk 8 giga berapa? Merk Kingston’, dan penjaga toko jawab dengan agak jutek *mungkin kecapean, ehehe..* ’75ribu!’. Setelah itu? Saya bilang, ‘Oh..nanti aja deh mba, uangnya gak sampe segitu. Yang 2 giga aja’, ‘Mending yang 4 giga aja de..cuma beda 10ribu sama yang 2 giga’. ‘Emang yang 4 giga berapa?’. ’55ribu, 2 giga 45 ribu’. Ehehe..jadi saya bisa tahu harga flashdisk ukuran 2 – 8 giga tanpa tanya detail. Tapi karena saya gak cukup uang untuk membeli flashdisk, jadi setelah itu cuma tanya terus bilang terima kasih sama penjaga toko, lengkap dengan senyuman manis :), lalu pergi. *innocent* :p. Ah, kebiasaan, jadi panjang gini. Intinya, kita mampu asal mau. Mau belajar, mau berusaha.

 

 

6. Mutsaqqaful fikr (berwawasan luas)

‘..niscaya Allah meninggikan diantara kamu orang beriman dan berilmu beberapa derajat..’ (QS. Al-Mujadalah (58):11). Iman dan ilmu disandingkan Allah dalam satu kalimat, ini menandakan keduanya gak bisa dipisahkan. Kenapa yang pertama disebutkan orang beriman, bukan orang berilmu? Saudaraku, kita kembali dibahasan poin pertama, yang pertama kali Rasulullah sampaikan dalam dakwahnya adalah urusan tauhid, bagaimana meng-esa-kan Allah. Disinilah sebab mengapa orang beriman disebutkan lebih awal. Orang-orang yang beriman, mereka meyakini kebenaran, lantas logikanya yang memikirkan kekuasaan Allah yang terhampar di langit dan bumi. Ini menandakan bahwa Allah mengajarkan kepada kita untuk meyakini kebenaran yang Ia sampaikan, baru setelahnya kita bertebaran di muka bumi memahami ilmu. Sekarang, banyak orang berilmu yang tak beriman. Saya mengatakan hal ini bukan asal-asalan, tapi berdasarkan pada hal yang memang terjadi nyata di hadapan kita. Jaringan Iblis Liberal, eh, Jaringan Islam Liberal atau lebih dikenal dengan sebutan JIL, adalah bukti konkrit dari kesewenangan manusia berilmu mematahkan agama Allah. Mengaku Islam, tapi seenak jidat menafsirkan ayat-ayat Allah. Mengatasnamakan kebebasan, emansipasi untuk memenangkan pemikiran-pemikiran bodoh mereka. Kenapa saya mengatakan pemikiran mereka bodoh, sedangkan mereka memiliki keilmuan yang tak sedikit? Bodoh yang saya maksudkan yaitu kerendahan pemikiran mereka tentang ketinggian ajaran Islam. Mereka membenci orang-orang Islam yang taat. Hati mereka akan sesak ketika mendengar banyak orang-orang Eropa memeluk agama Islam dan meninggalkan kekafiran. Baiklah saudaraku, saya belum cukup ilmu untuk membahas ini disini. Semoga Allah menjadikan kita golongan orang-orang yang berpikir. Tenang dengan dzikir, cerdas dengan pikir. Semoga dimampukan J

 

 

7.  Mujahadatl lii nafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah mengajarkan bahwa orang hebat bukanlah orang yang pandai bergulat, tapi adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Pernah pula saya mendapati tulisan, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Kita bisa saja menjadi orang yang taat kepada Allah ketika dalam keramaian, tapi keshalihan dan ketaatan kita sebagai hamba Allah yang sesungguhnya adalah ketika kita dalam kesepian dan kesendirian. Berjuang melawan hawa nafsu yang lahir dari diri sendiri lebih sulit. Contoh sederhana, seperti sekarang ini, Ramadhan, di kampus atau sekolah, kita mengatakan sedang berpuasa, tapi ketika kita tak mampu mengendalikan hawa nafsu, boleh jadi ketika sedang sendirian, ada makanan atau minuman yang ditelan. Masyaallah…, semoga itu bukan kita ya kawan J. Selamat bermujahadah (berjuang) ^^

 

8. Harishun ‘alaa waqtihi (pandai mengatur waktu)

            Tentang waktu, Allah bersumpah demi waktu (QS. Al-‘Ashr (103):1). Urgensi pengaturan waktu sejatinya adalah melatih kita menjadi pribadi yang lebih menghargai berbagai hal. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari). Salah satu dari lima perkara sebelum lima perkara adalah waktu luang sebelum waktu sempit. Kawan, kita sama-sama belajar mengatur waktu yuk…, mulai dari hal-hal kecil. Contoh, susun time schedule dalam sehari, aktivitas apa aja yang akan dilakukan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jadikan waktu yang kita lewati produktif dengan hal-hal bermanfaat. Syaikh Hasan Al-Banna pernah menyampaikan bahwa kewajiban akan selalu lebih banyak dari waktu yang tersedia. Bagi saya, ini adalah cambuk untuk lebih bijak mengatur waktu. Dalam sehari, kita punya 24 jam, gak ada yang lebih dari itu. Tapi di sisi lain, tentunya aktivitas kita berbeda. Jangan minta dikurangi aktivitasnya, tapi tingkatkan diri kita lebih pandai mengatur waktu. Bahkan Yusuf Qardhawi pun ikut bersuara tentang waktu dengan menuliskan buku dengan tajuk Fiqh Prioritas. Hal ini menandakan memang waktu menjadi amat berharga. Mau tahu seberapa berharganya waktu satu menit? Tanyakan pada penumpang yang ketinggalan pesawat terbang. Mau tahu seberapa berharganya waktu satu detik? Tanyakan pada atlit atletik.

 

9. Munazham fii syu’unihi (tersusun dalam urusan)

            ‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, ‘Kebaikan yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir’. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, lakukanlah dalam keteraturan, tersusun. Misalkan mau belajar buat ujian, dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam.red), biasanya justru jadi gak konsentrasi karena materi yang dipelajari sekedar lewat, bukan melekat dalam ingat. Dalam hal ini, bukan untuk dihapal ya…, tapi dipahami. Nah, gimana cara agar paham dengan baik? Belajarnya dicicil, jadi gak ngebut :p

 

 

10. Nafi’un lii ghayrihi (bermanfaat bagi orang lain)

            Sering kita dengar, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Bahkan, menyingkirkan paku di jalan pun suatu kebermanfaatan. Kalian kenal dengan Mang Idin? Saya menyebutnya tokoh peduli lingkungan. Kenapa? Di Jakarta Selatan, ada sungai yang dikenal dengan sebutan Kali Pesanggrahan. Nah, Mang Idin ini mendedikasikan dirinya untuk menjaga kebersihan sungai tersebut. Kita pun bisa melakukan hal-hal lain yang bermanfaat buat orang lain, contoh sederhana, membantu orang menyebrang jalan, buang sampah gak sembarangan, bantu hapus papan tulis di kelas, atau bayarin kos teman. *eh? 😀

Saudaraku, kebaikan sebiji dzarrah pun akan dihitung Allah di yaumil hisab nanti, jadi lakukanlah kebaikan sekecil apapun. Tebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi orang lain. Selamat menyemai kebaikan kawan! J

 

 

Hosh! *semangatin diri sendiri*

Banyak yah? Eheheh..semoga bermanfaat ya kawan, selamat belajar. Dibagikan juga dengan yang lain ya sobat, semoga menginspirasi orang lain untuk menjadi pribadi muslim yang dicintai Allah dan RasulNya. Salam cinta J

 

Hajiah M. Muhammad

Kamis, 9 Agustus 2012/20 Ramadhan 1433 H

Go Muslim Scholar!!!

Learning, Sharing, and Inspiring

https://ruangjiah.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s