Tentang Rasa yang Katanya Cinta

Bismillaah.

Tentang rasa yang katanya cinta.

Apa yang kau pikirkan kawan? Tentang rasa yang katanya cinta. Oh, bukan! Bukan dipikirkan, tapi ia dirasa, katanya. Jadi, bagaimana rasanya? Tentang rasa yang katanya cinta.

 

Aku pernah mendengar ungkapan seorang yang tak kukenal, ia mengatakan padaku bahwa cinta tak dapat dijelaskan lewat kata, karena ia bukan untuk didefinisikan. Lalu, bagaimana orang-orang mengatakan bahwa ia adalah kata kerja, sedangkan mendefinisikannya saja tak mampu!

 

Aku takkan memaksamu, tenang saja kawan. Aku hanya sedang mencari tahu tentang sesuatu, tentang rasa yang katanya cinta.

 

Ocehan ini bukan untuk memperdebatkan definisi rasa yang katanya cinta. Ini aku sampaikan untuk sekedar menumpahkan ketidakmengertianku tentang rasa yang katanya cinta. Aku ingin sampaikan ketidakpahamanku tentang rasa ini, tentang rasa yang katanya cinta.

 

Berbelit-belitkah kata-kataku? Jika ya, abaikan saja. Biar tak seorang pun yang membacanya, akan tetap kulanjutkan ocehan ini. Aku pernah sangat marah pada seorang kawan. Ya, aku katakan bahwa aku memang marah, tak mampu mengendalikan amarah. Kau tahu kenapa? Aku merasa dilupakan olehnya. Tapi lantas, aku bertanya, untuk apa aku marah? Dan tak satu pun alasan yang membenarkan amarahku. Astaghfirullaah.

 

Aku tak pernah mempermasalahkan ketika memang ada diantara kalian yang tak mencintaiku, tapi aku akan mempertanyakan kepada hatiku, dan juga kepada hatimu. Tidakkah kau mencintaiNya? Ya, Ia yang telah mencintaimu dengan sebenar-benar cinta. Bahkan Ia pula, yang telah menganugrahkan padamu sebuah rasa yang menjadi fitrah manusia, cinta. C – I – N – T – A, cinta!

 

Pernah ada seorang kawan yang bertanya, ‘Gimana seharusnya mengartikan cinta?’, dan aku terdiam. Aku tak tahu harus memberikan jawaban apa untuknya. Tapi aku ingat sepenggal kalimat bahwa cinta adalah ketika seorang hamba menjadi budak Tuhannya. Terlalu kasarkah kata-kataku? Aku rasa tidak. Kau tahu kenapa? Ini adalah istilah pilihanku untuk mengartikan cinta. Ketika seorang hamba telah menjadi budak Tuhannya, ia akan dengan suka rela memenuhi panggilanNya, melaksanakan segala perintahNya, meski harus meregang nyawa.

 

Lalu bagaimana dengan cinta kepada makhlukNya? Seperti yang telah diajarkan manusia mulia, Muhammad ibn Abdullah bin Abdul Mutholib, ia sampaikan lewat sabdanya, bahwa mencinta sewajarnya, tak lebih, tak juga kurang. Proporsional. Allah tak menyukai yang berlebihan.

 

Cinta pada sesama manusia mengajarkan kita banyak hal. Cinta mengajarkan ketulusan memberi, kelapangan memaafkan. Cinta mengajarkan kedewasaan berpikir dan bersikap, kejernihan hati melihat. Tak ada istilah cinta buta, karena dalam perkara cinta, hati yang melihat, bukan logika yang mengikat. Namun manusia takkan pernah luput dari khilaf dan alpa, akan selalu ada masa ia tersalah, tak patuh pada Rabbnya.

 

‘Sungguh, bukanlah mata itu yang buta, tapi hati yang ada dalam dada…’, (QS. Al-Hajj (22):46). Saudaraku, mampukah kita melihat dengan hati? Orang menyebutnya bashiroh, penglihatan yang dimampukan Allah untuk membeda, antara yang haq dengan yang bathil. Mari sejenak tanyakan pada hati-hati kita, adakah cahaya di dalamnya? Adakah ia mampu melihat? Atau malah terkurung dalam gelap karena menguasa maksiat? Mohon ampun pada Allah atas rangkaian kalimat yang kutuliskan tanpa mengurangi rasa hormat.

 

Cinta, satu kata yang aku yakin telah banyak orang merasainya. Setidaknya, mencicipi manis atau asam rasanya. Setitik rasa yang mampu mencipta tenang pemiliknya, tapi juga mampu mencipta nestapa. Cinta yang dikatakan cinta adalah ketika ia bermuara padaNya semata. Tanpa topeng apapun. Ia bukan untuk berpura-pura mengatasnamakan Penciptanya. Ia juga bukan untuk diobral pada sesama manusia. Ia terjaga oleh kesucian atas penciptaannya oleh Maha Cinta. Tegakah kita menodainya? Mengepulkan debu-debu di atas jernih wujudnya, lantas menutupinya dengan hiasan agar tak tampak bahwa kau telah menodainya?

Saudaraku, kita masih diberi banyak kesempatan untuk menjaganya, menjaga kesucian cinta. Bertahanlah dalam penjagaanmu hingga tiba masanya Ia hadiahkan cinta, dari Pencipta kepada ciptaanNya. Atas tiap butir kesabaranmu menjaga fitrah manusia. Masih ingin bersamaNya? Ataukah tega menduakanNya dengan yang lain? Dengan cinta yang tak layak untuk kau kecap. Sedangkan Ia mencintaimu tulus, menjagamu utuh.

 

Sudut Ruang Cinta

Rabu, 8 Agustus 2012//19 Ramadhan 2012

Hajiah M. Muhammad. Pengemis cinta(Nya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s