Menghidupkan atau Dihidupkan?

Bismillaah.

Akan kucoba menguraikannya. Meski kusadari masih sangat sedikit pemahaman yang kumiliki. Tapi semoga ini dapat menjadi satu langkah nyata, di awal Juni. Saat kurapikan kembali daftar mimpi-mimpi itu. Saat kusaksikan semakin kompleksnya permasalahan negeri ini. Saat kurasakan semakin peliknya dinamika kehidupan dan memaksaku tetap berjuang ataukah menyerah pada keadaan.

Kali ini, hanya bermohon Allah mampukanku menuliskan pengetahuan. Dari apa yang kudapatkan di bangku perkuliahan atau lebih sempit lagi dari obrolan dengan teman-teman. Tentang apakah? Aku pun bingung memulainya. Selalu saja begini. Di mula hendak menuturkan ilmu, tapi di pertengahan kembali pada kebiasaan bertutur tentang pengalaman hidupku. Ah, mengeluh hanya semakin melemahkanku. Bahkan ia bisa mematahkan semangatku. Baiklah kawan, akan kusampaikan. Tentang satu hal yang mengitari hati dan pikiran. Tentang satu hal yang menjadi permakluman atau juga dianggap hal yang tak layak dilakukan. Tentang satu hal, da’i, peranannya sebagai pihak yang menghidupkan atau hidup dari dakwah.

Ya, antara menghidupkan atau dihidupkan. Ketika da’i telah tersemat pada diri, apakah yang sebenarnya ada dalam masing-masing hati? Adakah ia sebagai kegiatan menyampaikan risalah ataukah sebatas penambah pundi-pundi rupiah? Inilah yang akan coba saya uraikan. Semoga Allah mampukan jemari ini tetap bergerak, menari di atas keypad telepon genggam. Dan memampukanku tuk sampaikan apa yang menjadi permakluman ataukah tradisi kemasyarakatan. Bahwa seorang da’i adalah profesi. Apakah memang seharusnya begitu? Mari kita kaji satu demi satu.

Mengapa saya menyampaikan hal ini? Berangkat dari ketidaksukaan, kekesalan, kekecewaan kepada mereka yang menjadikan dakwah sebagai mata pencaharian. Miris, ironis. Saya sangat menghargai bahwa ilmu itu memang mahal, tapi apa lantas hal itu dapat dijadikan alasan untuk menyampaikan kebaikan?

Jika dalam prosesnya dakwah membutuhkan rupiah, ya…, aku menyepakatinya. Tapi bukan menjadikan ia sumber nafkah, apalagi menjadikannya bisnis mengharap harta yang berlimpah, mewah. Saudaraku, mungkin kita terlupa. Dakwah adalah perniagaan kita dengan Allah semata, seperti yang telah Ia sampaikan dalam firmanNya.

”Hai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Ash-Shaf (61):10-11)

Sederhana saja, saya takkan mengambil lebih banyak ayat untuk menguatkan ketidakberpihakkan kepada mereka yang menjadikan dakwah sebagai sumber penghidupan. Dua ayat tersebut di atas sudah sangat jelas, bahwa semestinya justru kitalah yang memberikan harta bahkan jiwa untuk jalan para anbiya. Namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, dimana mereka yang mengaku da’i menetapkan ‘tarif’ atas dakwahnya. Inilah yang menjadi pokok dari tulisan kali ini. Satu pertanyaan yang tetiba menghampiri, apakah dahulu Rasulullah dan para sahabat melakukan hal ini? Dengan sangat yakin saya menjawabnya, mantap. Tidak !!!

Logikanya, jika Rasulullah dan para sahabat menetapkan ‘tarif’ atas penyampaian risalahnya, mungkin ia menjadi orang yang berlimpah harta. Tapi mari kita ingat, beliau bahkan pernah mengganjal perut dengan batu. Apa yang menjadikan manusia mulia itu sampai rela menahan laparnya demi tegak kalimatullah? Keyakinan bahwa Allah akan menolong sesiapa yang menolong agamaNya (QS. Muhammad (47):7). Keyakinan bahwa Allah takkan membiarkan hamba-hambaNya yang berjuang mati kelaparan. Tapi Allah, dengan tawaran perniagaanNya, berikan investasi keberkahan dan keberlimpahan nikmat yang berkekalan.

Ini hanyalah sepenggal tulisan yang coba saya uraikan, semoga ada kebaikan yang Allah titipkan dan dapat kita jadikan pelajaran. Sang pembelajar tak kenal gusar jika ia mendapat teguran atau kecaman. Seperti yang Rasulullah pesankan, ‘Aku tak takut, kecuali jika Allah murka padaku’. (Saya lupa bagaimana kutipannya, tapi intinya gitu ehehe..)

Loby Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
1 Juni 2012/11 Rajab 1433 H
07.15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s