Mari Sejenak Duduk Bersebelahan

Tetiba ingat awal jumpa.. Segan menyapa, namun larut dalam canda juga tawa meski hanya beberapa masa dan kau berlalu menyisakan jejak dalam doa. Semoga kembali jumpa dengan iman yang lebih baik setelahnya. Ketika aku, kau, dia dan mereka menjadi kita. Merangkai cerita, menapak jejak, menggoreskan sejarah dalam indah bingkai dakwah dan ukhuwah. Menyatupadukan hati dalam ketaatan padaNya, memenjarakan sepi dalam kepatuhan padaNya. Semoga berkekalan hingga Ia pertemukan di jannahNya. Aamiin.

Membaca ulang tiap pesan yang dikirim atau diterima. Tiada satu pun yang tersia, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Menyejajarkan kepemahaman, tiada yang lebih pintar apatah lagi menganggap yang lain lebih kurang pintar. Menyamakan ritme degup dalam keterpaduan langkah, jalan beriringan dalam liku jalan nan panjang.

Mengingat, sesaat ketika seorang aku mengumpulkan serpih-serpih semangat untuk menghadiri sebuah undangan kegiatan kemahasiswaan. Berjalan gontai, menyusuri tiap aspal yang kepanasan di tengah terik siang. Dan tibalah aku pada ruang yang dingin itu. Mungkin suhu pendingin ruangan yang cukup rendah, ditambah sesak peserta yang tak seberapa. Ada kantuk yang menggelayut di tepi mata, tapi terusir dengan sapa seorang kawan yang duduk di sebelah kiri dan lembut mengukir senyumnya.

Ini adalah kali pertama aku menghadiri agenda yang materinya adalah hypnosis. Beberapa waktu mendapat undangan serupa, tapi entah apa yang membuatku tak kunjung menghadirinya. Dan mungkin inilah waktunya. Pembicara yang ramah itu mempersilakan aku duduk dan mengikuti acara dengan senyum ceria. Seolah putri raja yang dimanjakan ibundanya.

Singkat cerita, ia mengajak kami memasuki alam bawah sadar. Mengangkat kedua tangan, meluruskannya di hadapan. Telapak tangan kiri menengadah ke atas, sedangkan tangan kanan mengacungkan ibu jari. Tak lupa memejamkan mata dan membaca basmallah sebagai mulanya. Dan mulailah kami mengikuti instruksi. Diberikannya kami batu bata di tangan kiri, 3 kg. Terus ditambah, hingga tangan yang semula ada di hadapan, kini terasa berada di atas pangkuan dan masih menahan beban dari batu bata.

Selama kurang lebih 2 menit, bata itu masih tertahan di atas pangkuan. Pembicara mengatakan bahwa ia akan mengambil satu per satu bata itu. Ringanlah seketika. Alhamdulillaah. Dan selanjutnya, kami dibawa pada sugesti bahwa ia akan mengikatkan tali balon udara pada seujung ibu jari.

Perlahan tangan kanan ini terangkat, tubuh yang semula bersandar terasa melayang. Tinggi dan tinggi, mengangkasa. Membelah cakrawala. Menyapa sekumpulan awan yang berarak mengikut titah Tuhan. Hamparan hutan dan samudera membentang di hadapan. Oh Allah, sungguh indah ciptaanMu. Tiada yang cela, semua mulia.

Diarahkan kami menemusi siapapun yang kami rindu. Aku berusaha mencari-cari siapa yang kurindu kala itu. Wajah ayah-ibu sudah barang tentu, tapi seorang atau dua dari mereka…, bolehkah kumenemuinya, duhai Allah? Innalhamdalillaah…, nyata! Sangat nyata. Aku melihatnya, menatap teduh sorot matanya. Menyaksikan lebih dekat tulus senyumnya. Tak terasa ada dingin yang mengalir deras di pipi, membawa dan menumpahkan segala rasa. Tumpah meruah dalam bayang nyata.

Ya, aku melihatnya dengan sangat nyata, jelas meski hanya sekilas. Dekat. Sangat dekat. Melambaikan tangan, mengembangkan senyuman. Mencoba sampaikan keping cinta dan rindu yang lama tersimpan. Menengadahkan kedua tangan, seraya mengumandangkan doa dalam kesunyian. Allah…, aku mencintainya. Oh adik, semoga kau rasa apa yang aku rasa. Jika pun kau tak merasainya, biarlah sejumput cinta yang kumiliki hanya bermuara padaNya. Dan sisanya seluas langit dan bumi hanya untukNya, Ia yang menyatukan hati-hati kita.

Biarkanlah, biarkan aku menyapamu seperti angin yang kadang kau suka atau tak kau suka dalam menyapa. Menghembuskan kesejukan dan berikan kedamaian, menghantarkan kehangatan cinta kasihNya.

Bumi Cinta, 14 Mei 2012/23 Jumadil Akhir 1433 H
Dalam hening malam, berselimut dingin selepas hujan, menatap kata terangkai dalam kalimat. Semoga berkenan Engkau limpahkan kami rahmat. Beroleh semata keridhaanMu yang penuh berkah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s