Mahasiswa (?) atau Mahasiswa (!)

Bismillaah.

Hanya bermohon semoga apa yang kutuliskan disini menjejak kebaikan sebagai pemberat bekalan untuk berpulang pada Allah Maha Penyayang.

Terhitung dua tahun sudah aku mengemban amanah ini, predikat yang orang bilang adalah mahasiswa. Kaum intelek, berpendidikan, memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang visioner. Dua tahun sudah aku mengemban amanah ini, predikat yang orang bilang adalah mahasiswa. MAHASISWA, M-A-H-A-S-I-S-W-A, mahasiswa. Sengaja aku mengejanya satu demi satu agar semakin kumengerti apa definisi yang dimaksudkan dari kata itu.

Kurang lebih empat tahun silam, aku menanggalkan seragam putih abu-abu. Bahkan seingatku, di lemari baju pun sudah tak tampak seragam sekolahku. Inginku, lepas sekolah langsung melanjutkan ke bangku kuliah. Tapi aku harus berpasrah pada keadaan dan tak tega menatap kedua orang tua yang dengan lirih mengatakan, ‘Kak…, Ibu-Bapak gak ada dana buat kuliah’. Dan ketika itu, aku terlalu takut mengambil resiko. Kuputuskanlah untuk lebih dulu bekerja.

Dua bulan setelah menerima ijazah dari sekolah, aku mulai bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa kirim barang. Dengan gaji pokok dan tunjangan yang cukup untuk seorang karyawan yang ‘hanya’ lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Singkat cerita, sebelum akhirnya kuliah, aku bekerja kesana-kemari dan pada tahun ketiga selepas sekolah, memutuskan untuk kuliah, dengan atau tanpa dana dari orang tua. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.

Dan kini, amanah ini telah tersematkan di pundakku. Mau tak mau, suka tak suka, begini ternyata menjadi mahasiswa. Biasa saja. Kenapa? Karena aku belum bisa melakukan apa-apa !!! Masih sibuk mengurus hal-hal tak penting yang tak semestinya dilakukan. Terlalu asik dengan kesenangan yang akhirnya melalaikan diri dari tujuan yang hendak dicapai.

Melihat kembali daftar mimpi-mimpi di buku saku, dari sekian banyak mimpi yang kutuliskan disana, belum sepertiganya kucoret. Apa saja yang selama ini aku lakukan?!! Kemana saja aku?!! Bagaimana bisa mencapai mimpi-mimpi yang banyak itu jika sekarang saja masih enggan bergerak untuk sekedar membuka lembar demi lembar buku bacaan?!!

Seorang mahasiswa pascasarjana di salah satu negeri timur tengah pernah menyampaikan kepadaku, dalam sebulan, minimal 25 judul buku yang ia baca. Target yang memang ditentukan oleh seorang dosen pembimbing kuliahnya. Di awal ia merasakan beban, karena biasanya dalam sebulan membaca maksimal 10 judul buku. Sungguh tertampar rasanya, aku saja tak sampai 10 judul buku dalam sebulan. MALU !!!

Bagaimana aku mampu melihat dunia jika membka jendelanya saja aku enggan? Yang kutahu, buku adalah jendela dunia. Pantas saja sangat banyak hal yang belum kuketahui karena jarang membaca. Baiklah, sudahi keluhmu, karena percuma kau mengutuk kemalasanmu jika kau tak bergerak mengambil peran untuk mewujudkan segala impian.

Amanah ini masih kuemban hingga dua tahun ke depan, semoga Allah ringankan dan mudahkan ikhtiarku lulus kuliah lebih awal dari waktu yang semestinya. Aamiin.

Teruntuk diriku sendiri, lihat dunia dengan membaca, ubah dunia dengan menulis. Jika ingin menjadi seorang penulis yang mampu mengubah dunia, membacalah. Sekali lagi, MEMBACALAH !!! IQRO’ !!!

Edisi cambuk hati.
Sudut kamar, di antara tumpukan tugas kerja.
Sabtu, 23 Juni 2012//3 Sya’ban 1433 H
Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s