Ketika Alasan Menjadi Pembenaran

Masih saja membela diri, mencari-cari alasan untuk tak berkontribusi atau sekedar memberikan konfirmasi. Ada yang terlupa, ahh…, selalu saja begitu. Dan kau menikmati sangka mereka padamu, menenggelamkan lalai dalam ketimpangan hati. Oh Allah, dzalimkah aku pada mereka? Adakah aku memanfaatkan kebaiksangkaan mereka? Ampuni hamba yang tega melakukannya kepada mereka. Semoga Engkau melapangkan hati-hati mereka tuk memaafkan.

Terkadang, atau bahkan sering kali kita, hmm…, mungkin aku saja. Larut dalam kelalaian yang sebenarnya bisa ditegaskan. Sering kali aku ‘mengizinkan’ diri untuk tak berikan kontribusi, meski dengan sejenak kehadiran atau sekedar berikan konfirmasi. Sering kali aku ‘mengizinkan’ diri untuk lari dari panggilan dan seruan dari para pemimpin. Memasrahkan diri tunduk pada keadaan yang sebenarnya bisa dikendalikan.

Hey, kau !!! Iya, dirimu. Jangan menengok kepada sesiapa selain dirimu yang tengah berpasrah pada keadaan, apa yang hendak kau lakukan? Apa yang hendak kau tunggu, jika yang sebenarnya kau tunggu adalah dirimu. Bangkitlah dari keterpurukanmu, segera tunaikan amanahmu. Jangan kau ragu ataupun malu meski sudah lama kau tak penuhi seruan-seruan kebaikan itu. Apalah arti rasa malu dan ragu, jika itu semakin melalaikanmu. Dan bergeraklah agar kau hidup, atau diam adalah sama dengan kematianmu.

Tengah menanti, adakah jiwa ini tergerak menghadirkan hati ataukah hanya sebatas partisipasi diri. Adalah perseteruan hati dalam menentukan langkah pasti, apakah ia dengan iman ataukah dengan keterpaksaan. Lantas dimanakah letak kepemahaman yang kau anggap sebagai asupan pergerakan?

Kau masih dapat tersenyum di balik tangismu, masih dapat mengepakkan sayap-sayap patah di atas perihmu. Relakan saja kau bersama mereka, toh takkan sekalipun mereka menjerumuskanmu. Kau terlalu takut, ketakutan yang sebenarnya kau takutkan atas dirimu sendiri. Tidakkah kau mau menunjukkan padaku keberanianmu. Kemampuanmu menaklukan dirimu sendiri. Ya, dirimu sendiri. Bukan sesiapa yang kau anggap kawan di perjalanan.

Wahai jiwa, mari sini biar kudekap. Agar kau rasakan hangat, agar kau rasakan bahwa Ia dekat. Melihat, menyaksikanmu yang tengah tercekat dalam penat. MembiarkanNya membasahi wajah lusuhmu, mengalirkan bendungan yang sejak lama tertahan di balik tepi matamu. Dan kau yang semula kelu, pilu. Kini tersenyum dalam haru, merasai betapa Ia masih bersamaMu. Menuntun langkah-langkah kecilmu. Dan semoga terus begitu. BersamaNya, menujuNya, seperti yang sering kau sampaikan padaku, betapa kau mencintai Rabb-mu. Bergeraklah, atau diam adalah kematian bagimu.

Hening.
Bumi Cinta, 20 Mei 2012/29 Jumadil Akhir 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s