Biar Derai Jadi Saksi

Bismillaah.
Dengan asmaMu yang agung, aku bermohon keridhaan dan keberkahanMu senantiasa mengiringi langkah-langkah kecilku menujuMu. Kutarikan jemariku ini menuliskan kebenaran yang telah Kau sampaikan. Tentang kebenaran yang telah kudapatkan. Tentang kegeraman terhadap kebenaran yang dipertentangkan. Tentang nyawa tak berdosa yang terbang bersama lesatan biji timah ke raga. Tentang canda-tawa anak-cucu adam yang berubah menjadi jerit tangis menyaksikan rumah-rumah mereka dirobohkan. Tentang air mata yang menderai, deras menyaksikan seorang tua disapa deru tembakan. Tentang gemuruh amarah yang mengalir di tiap tetes air mata menyaksikan seorang pincang dijatuhkan, merangkak, menggapai senjata tuk melakukan perlawanan pada manusia-manusia jahanam. Tentang sebongkah batu yang menjadi alat perang. Tentang tetes darah yang mengalir deras dari raga-raga yang masih belia. Tentang tumpukan bebatuan dan debu yang berterbangan, mengangkasa dengan jiwa para syuhada.Ya, tentang negeri para ‘anbiya. PALESTINA !!!

Sejenak saja mari kita luangkan, dari sekian banyak waktu yang mungkin habis tuk memikirkan tugas perkuliahan atau amanah lain yang tengah diemban. Memberi satu ruang untuk merenungkan, merasakan, menempatkan jiwa ini ketika ada diantara dentuman bom dan suara tembakan. Apa yang akan dilakukan bersama jerit tangis anak cucu adam yang kesakitan? Apa yang akan dilakukan bersama runtuhan bangunan yang kau bangun untuk berteduh dari panas dan hujan? Apa yang akan dilakukan bersama lesatan biji timah yang menyusup ke raga tanpa pertimbangan? Apa yang akan dilakukan bersama dentuman bom yang meluluhlantahkan tanah yang dijanjikan? Apa yang akan dilakukan bersama gema takbir yang terus dipekikan, mengangkasa, menggetarkan langit-langit jiwa dan langit alam raya???

Saudaraku, ini teguran atas tiap kelalaian kita. Atas tiap kemalasan dan keluhan. Lihatlah potret sebuah negeri disana. Dimana lelah raga bukanlah satu alasan tak ikut berjuang. Bahkan kematian menjadi hal yang dirindukan, menjadi jalan menjemput seni terindah perjumpaan dengan Ar-Rahman. Dimana keterbasan peralatan perang tak menjadi alasan tak ikut melakukan perlawanan. Batu-batu intifadhah menjadi saksi betapa perjuangan itu tak kenal henti. Gurun yang terik, debu yang menyapa di tepian mata, tak lantas meredupkan kobaran semangat pengabdian pada agama dan bangsa, terlebih pada Allah ta’ala. Deruan tank dan lesatan peluru menjadi penggelora semangat mengalahkan zionis laknatullah yang tak berprikemanusiaan. Mememikkan takbir yang berkepanjangan, mengiringi langkah-langkah yang tegap menjemput kemenangan yang hakiki. Membebaskan negeri para anbiya dari tangan-tangan zionis Yahudi. ALLAAHU AKBAR !!!

Jika kita merasakan ada gemuruh yang menggelora, lahirkanlah perjuangan yang tak sekedar kata. Adakah kerinduan yang sama dengan mereka para syuhada dan penjemput seni kematian terindah saat berjuang menegakkan kalimatullah yang mulia? Lalu bagaimana dengan kita? Dengan kenikmatan dunia fana yang masih saja menyilaukan pandang. Dengan suguhan fatamorgana dunia yang melenakan. Dengan berbagai kelapangan dan kebebasan melakukan apa yang kita inginkan. Tak seperti mereka disana yang harus melawan kekejaman saat akan melakukan rutinitas keseharian. Mungkin benar adanya, jika kelapangan itu bisa menjadi sumber kelalaian. Dan kesempitan itu mendatangkan kesungguhan, pengorbanan dan ketulusan berjuang.

Dalam diam, aku terpaku. Kelu dan pilu. Menanyakan pada diriku, ‘Adakah aku bernilai di hadapMu? Ataukah aku hanyalah sejiwa hamba yang tak memiliki nilai di hadapMu? Jika lelah dan letih ini membuatku mengeluh, pantaskah aku berjumpa denganMu? Jika lelah dan letih ini membuatku memarahiMu, pantaskah aku menatap wajahMu. Jika lelah dan letih ini membuatku melemahkanku, pantaskah aku mendapatkan keridhaanMu?’. Allaah…, inilah aku. Mampukan aku tetap melangkah meski payah. Mampukan aku bertahan meski goyah pijakan. Mampukan aku bersabar meski terkadang gusar. Aku tahu, perjuangan yang kulakukan masih sangat jauh dari juang para sahabat dan Rasul junjungan. Tapi bolehkah aku meminta? Tetapkan aku di jalanMu, hingga syahid menjadi jalanku bertemu denganMu.

Bumi Cinta, 26 Mei 2012/4 Rajab 1433 H.
Syahdu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s