Belajar Gila dari Arai

Bismillaah.

Entah sudah berapa kali aku menonton film garapan Riri Riza yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata itu, Sang Pemimpi. Ya, itulah yang kumaksud kawan.

Tokoh Arai dengan keunikan sifat dan sikapnya. Akan sedikit aku sampaikan tentang seorang Arai. Bukanlah anak yang beruntung, di usianya yang masih sekitar belasan tahun, ia sudah menjadi sebatang kara, tinggal di gubuk reyot tepi pantai. Tapi dengan keceriaannya, justru ia yang menghibur Ikal, sepupunya. Di sini belumlah menarik cerita ini, tertegun ketika seorang yang agak nakal, Arai, justru merelakan tabungannya selama setahun untuk membelikan seorang mak cik bahan-bahan membuat kue agar bisa menghidupi ia dan seorang anak gadis yang sangat cinta biola.

Arai, beranjak remaja. Semakin menjadi kelakuannya. Ia mengajarkan bagaimana kita yakin akan kekuatan mimpi. Sekali lagi, MIMPI!!! Mungkin bagi sebagian orang, mimpi tak lebih dari bunga tidur, tapi tidak bagi Arai. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” – Arai”

Dari kata-kata itulah, aku semakin yakin bahwa mimpi-mimpiku tak sekedar isapan jari kala mengingatnya selepas mata terpejam. Kau tahu? Dari sekian banyak mimpi-mimpi yang kutuliskan, belum sepertiganya ku coret karena belum terwujud. Rasanya aku perlu belajar gila dari Arai dalam mengejar mimpi-mimpinya. Berlari sekencang-kencangnya, mengejar mimpi dan menjadikannya nyata. Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Kalimat ini akan terus kuingat sepanjang perjalananku.

“Kalau kita tak punya mimpi, orang-orang seperti kita akan mati, Kal!”, dan lagi, kata-kata Arai melekat dalam ingat. Betapa payah diri yang lemah ini jika tak punya mimpi. Dari mimpi, kami belajar bagaimana kerasnya kehidupan dan bagaimana kami harus tetap bertahan dalam segala keterbatasan dan kekurangan.

Ingat ketika Ikal marah kepada Arai di tengah pekerjaan mereka membersihkan kamar mandi sekolah? Ikal marah bukan main kepada Arai, lalu pergi berlari dan meninggalkan sekolahnya hingga ia mendapat nilai buruk di kelasnya karena lebih memilih bekerja di pelabuhan bersama nahkoda Melayu. Ikal mengecewakan ayahnya, ayah juara satu terbaik sedunia katanya. Pun dengan ayahku, aku menyebut lelaki gagah itu dengan panggilan Bapak. Bapak dingin, sangat jarang bahkan tak menunjukkan kasih sayangnya dengan terang-terangan. Bapak lebih suka mengirimkan pesan singkat lewat telepon genggam dan menanyakan, “Ka, sudah makan belum? Kalau mau pulang kabarin Bapak, ya. Nanti Bapak jemput”. Aku tak pernah memintanya memperhatikan, karena ku tahu, ia selalu malu ketika aku justru memintanya, tapi bapak dengan caranya yang dingin membagiku cinta, mengajarkan padaku betapa ketulusan itu tak pernah menuntut apapun, dari siapapun.

Kembali pada Arai, di tengah kemarahan Ikal, Arai coba mengingatkan kembali mimpi-mimpi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke Paris. Tapi rupanya Ikal benar-benar geram dan menganggap mimpi-mimpi itu hanya membuat mereka gila. Dan setelah ‘kepergian’ Ikal, Arai dengan bijak mengatakan kepada Ikal, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu!

Sejujurnya, aku merasa tertinggal dari kebanyakan teman-teman seusiaku, bahkan yang usianya lebih muda dariku telah mendahuluiku mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Tapi yakinku, Allah takkan membiarkan hamba yang berusaha, berdoa dan bertawakal padaNya kecewa, karena janjiNya adalah kepastian. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaannya (QS. Ar-Ra’d (13) : 11).

Aku yakin, aku percaya bahwa mimpi-mimpiku akan menjadi nyata!

Hajiah M. Muhammad
Bandung, 18 Juli 2012//28 Sya’ban 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s