Tak Sekedar Pintar

Bismillaah.

Karena langkah tak selalu terpijak. Ada masa kaki butuh rehat untuk mengais keping-keping semangat. Dan aku hanya ingin menjadi orang yang tak kenal henti, melangkah dan terus berbenah. Sungguh bukanlah hal yang mudah menjalaninya. Terkadang, kita dipaksa menyerah pada keadaan yang sebenarnya bisa dikendalikan. Tapi, di masa lainnya kita masih diberi kesempatan untuk senantiasa belajar dan mengejar.

Jum’at lalu, tepatnya di Jum’at siang. Jejakku tiba di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Mengarahkan langkah ke stasiun, menuju kota hujan. Berjalan menyusuri kerumunan orang-orang yang mengantri tiket ke berbagai tujuan dan berbaris rapi di antara barisan antrian di loket Jabodetabek. Selesai membeli tiket kereta, melanjutkan langkah untuk menanti datangnya ular besi. Di tengah-tengah penantian kereta, disambangi seorang lelaki muda. Usianya sekitar 30 tahunan. Dialek Melayu yang sangat khas, dari Pekanbaru. Sekilas, beliau biasa saja, seperti kebanyakan penumpang. Baru setelah kami terlibat diskusi, aku mengerti mengapa aku lebih memilih naik kereta, padahal biasanya jika aku ke Bogor, menggunakan jasa bis.

Sekitar 30 menit terlibat perbincangan ringan dengan lelaki tadi, aku lebih banyak mendengarkan, ada rasa khawatir jika ia bukan orang baik. Tapi pikiran itu segera terkikis setelah aku tahu bahwa profesinya adalah sebagai dosen di salah satu sekolah tinggi ekonomi di Pekanbaru. Obrolan sore itu pun berlangsung dengan cukup interaktif, meski aku harus memaksa akalku mencerna kata-katanya. Mulai dari obrolan tentang korupsi sampai perjalanan beliau hingga menjadi seorang dosen.

Mungkin terkesan biasa saja, tapi disini, aku ingin sampaikan hal yang kuanggap bisa dibagi dengan kawan sekalian. Setelah kereta tiba, kami naik dan duduk bersebelahan, agak kikuk dan tetap berusaha menjaga jarak agar tak terlalu dekat. Memasuki stasiun kedua, beliau mengatakan, “Di Indonesia, banyak orang pintar, tapi hanya sedikit orang cerdas”, aku mengangguk tanda sepakat. Dan beliau melanjutkan kata-katanya, “Karena orang pintar seringkali menyalahgunakan kepintarannya, tidak seperti orang yang cerdas yang memanfaatkan kecerdasannya untuk kebermanfaatan bagi orang lain”. Mataku hanya menatap lurus ke hadapan, dan mempersilakan lelaki itu melanjutkan kalimatnya. Dan akan aku coba share disini tentang ciri orang cerdas.

Pertama, menyelesaikan masalah, bukan mempermasalahkan masalah. Generasi muda, sebagai harapan bangsa, diharapkan menjadi problem solver di tengah kompleksnya permasalahan yang terjadi di Indonesia. Namun, jika melihat kondisi generasi muda sekarang, sangat miris dan menyedihkan, atau mungkin dapat dikatakan mengenaskan. Mulai dari permasalahan pergaulan hingga sikap yang jauh dari nilai luhur. Seolah hal-hal anarkis atau tindak kriminal dianggap sebagai hal yang lumrah, dan sah saja terjadi. Ini adalah dampak dari kurangnya atau bahkan ketiadaan pemahaman agama dan pendidikan karakter, sehingga mereka hanya melihat dan menangkap yang terjadi di sekitarnya tanpa arahan dari orang tua atau lingkungan sekitar. Kembali pada bahasan ciri orang cerdas yang menyelesaikan masalah, bukan mempermasalahkan masalah. Menyikapi kasus kriminalitas yang dilakukan remaja di sekolah misalkan, bukan sekedar mencari sebab terjadi hal itu, entah dengan memberikan hukuman dari sekolah atau menyalahkan murid yang bersangkutan. Tapi bagaimana agar mereka yang melakukan tindak kriminal tersebut – sebut saja mencuri -, menyadari bahwa tindakannya itu salah dan mengarahkannya untuk memperbaiki diri. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan wadah untuk menyalurkan hobi dan bakat yang dimiliki dengan kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Lalu bagaimana menyikapi kenakalan remaja yang tak mengeyam pendidikan? Pada tahun 2006, atau dalam kalender Hijriyah terhitung tahun 1427 H, berdirilah komunitas pemuda yang mewadahi anak-anak jalanan dengan menyebutkan diri mereka bagian dari Punk Muslim, yang didirikan oleh Budi Khoironi yang atas kepeduliannya kepada nasib anak-anak jalanan di tengah gerusan zaman. Inilah satu orang cerdas yang dimiliki Indonesia. Namun pada tahun 2007 Bang Buce (sapaan akrab Budi Khoironi.red) meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, sebelum meninggal, Buce telah menyerahkan Punk Muslim ke Ahmad Zaki untuk mengasuh anak-anak jalanan di komunitas tersebut. Dan alhamdulillaah, sampai saat ini masih tetap berkontribusi dengan kegiatan-kegiatan pembinaan dan pembentukan karakter, menyediakan wadah bagi anak-anak jalanan untuk berkarya dan menunjukan pada dunia bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin.

Lanjut tentang ciri orang cerdas yang kedua adalah, menyelesaikan masalah dengan efektif. Tidak bertele-tele, berbelit dengan masalah yang memang pelik. Inilah sikap yang sangat jarang kita temukan. Kita hanya terlalu takut untuk memahami masalah untuk kemudian menyelesaikannya dengan sederhana. Tak perlu larut dalam panik lantas akal pun sulit mencerna solusi yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Masih lekat dalam ingat, 3M versi Aa Gym untuk memperbaiki bangsa. Pertama, mulai dari hal kecil. Dalam menyelesaikan masalah, kalau memang rumit, coba dicari bagian terkecil dari masalah itu dan kemudian beranjak ke masalah yang lebih besar, jadi gak numpuk masalahnya. Kedua, mulai dari diri sendiri. Ini yang menurut saya paling berpengaruh, seperti yang Allah sampaikan bahwa “…Allah takkan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka (berusaha) mengubah keadaannya…” (QS. Ar-Ra’d (13) : 11). Apalagi untuk menyelesaikan masalah, mau gak mau, suka gak suka…, we have to begin with ourselves. Ya iya kan??? Siapa yang mau menyelesaikan masalah kita kalau bukan diri kita sendiri??? Kawan, orang tua atau konsultan sekalipun hanya sekedar memberikan pendapat, komentar, solusi, yang menjalankan ya diri kita sendiri. Akur??? Dan yang ketiga adalah mulai dari sekarang. Mau sampai kapan bergerak dan berbenah untuk kemajuan bangsa kalau masih berleha-leha. Masih santai dan menikmati penjajahan. Let’s move, life is like riding bycycle, to keep our balance, we must keep moving. Nah, ayo gerak mulai sekarang, jangan hanya menuntut tanpa memberikan kontribusi, jangan mencela tanpa memberikan gerakan nyata. Atau mau tunggu sampai Indonesia dibeli Israel?? *naudzubillaahi min dzaalik*

Yuk ah, lanjut lagi ciri orang cerdasnya, adalah memiliki harkat dan martabat. Hmm, sebenarnya saya pun agak bingung bagaimana mendefinisikan ini, tapi coba disampaikan saja yah… Orang yang punya ‘nilai’ di hadapan orang lain, akan lebih dianggap, bisa jadi teladan juga lho… Oya, diluruskan ya niatnya, bukan sekedar memiliki harkat dan martabat di hadapan manusia, tapi yang paling penting adalah di hadapan Allah. Kenapa? Karena Ia sebaik-baik penilai, takkan salah meski segores pena. Orang yang cerdas itu kan berilmu yah? Nah, jauh-jauh sebelum ini dituliskan, Allah sudah sampaikan bahwa Ia akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadillah (58) : 11). Semakin jelaslah bagi kita orang-orang yang mengaku beriman, bahwa ketika orang lain menganggap keberadaan kita, menghargai dan menghormati kita, semata bukan karena baik amalan kita, tapi karena kasih sayang Allah yang menutupi aib-aib kita di hadapan manusia dan ketika Ia ridha (berkenan) dengan ilmu yang kita dapatkan, lantas kita berdayakan pada umat dan orang lain, yakin saja bahwa janjiNya adalah kepastian.

Apa yang saya tuliskan di sini sekedar ocehan, tapi semoga beroleh kebermanfaatan dan bisa disampaikan pada yang lain agar sinar yang Allah titipkan pada pundak-pundak kita mampu mencahaya di alam raya. Salam semangat menebar manfaat.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 12 Juli 2012//22 Sya’ban 1433 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s