Sekilas Perspektif Islam Terhadap Wanita

Bismillaah.

 

Karena wanita ingin dimengerti. Begitulah kira-kira yang sering disuarakan kaum hawa ketika inginnya tak dipenuhi. Menjadikan fithrah sebagai ciptaan yang ditinggikan derajatnya setelah kedatangan Islam di masa jahiliyah. Mengabarkan pada dunia bahwa wanita pun berhak menempati posisi yang diduduki kaum adam.

 

Pada pembahasan kali ini, sederhana saja yang ingin saya bagi. Tentang peranan wanita sebagai makhluk mulia dengan batasan yang telah Islam tetapkan baginya, sebagai tanda cinta Allah dan Rasulnya pada wanita. Semoga Allah berkenan mampukan jemari ini menuliskan perspektif Islam terhadap kaum hawa.

 

1. Pembebasan wanita dari kedzoliman jahiliyah.

Pada masa sebelum Islam hadir di tengah-tengah kejahiliyahan bangsa Arab, keluarga yang di dalamnya lahir bayi perempuan akan dikubur hidup-hidup, karena mereka berpikiran bahwa kehinaan ketika lahir dari rahim istri-istri mereka bayi perempuan. Salah apa bayi-bayi malang itu sampai akhirnya kehadiran mereka dianggap hina? Ini adalah akibat

dari jauhnya akal masyarakat dari cahaya wahyu. Inilah gambaran umat yang dilahirkan oleh berhalaisme dan dididik oleh para tukang sihir dan peramal.Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu berkata: “bila engkau ingin melihat bagaimana kejahilan bangsa Arab terdahulu maka bacalah firman Allah Ta’ala:“Sungguh merugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa ilmu.” (Al-An’am: 140)

Dalam QS. An-Nahl (16) ayat 58, Allah gambarkan bagaimana keadaan kafir Quraisy kala itu dengan kehadiran bayi perempuan, ‘…wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah’.

 

Fahamlah kita bagaimana kejahiliyahan menenggelamkan masyarakat Arab saat itu ke dalam pojok-pojok kegelapan peradaban, hingga akhirnya terbitlah fajar Islam lalu terdengarlah di penjuru dunia untuk pertama kalinya:”Dan para laki-laki beriman dan wanita yang beriman itu adalah wali (penolong) antara sebagian mereka kepada sebagaian yang lain.” (At-Taubah: 17). Lalu bergaunglah firmanNya, “Dan para wanita itu mempunyai hak dan keseimbangan dengan kewajiban mereka secara ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228). Namun setelah kehadiran Islam, wanita memiliki derajat yang tinggi, bahkan namanya diabadikan dalam al-qur’an, An-Nisaa’ (surat keempat).

 

2. Penegasan tentang karakteristik muslimah (wanita Islam)

Ini adalah pembeda di antara banyak wanita, muslimah. Bukan hanya wanita pada umumnya, namun seorang muslimah hendaknya memiliki karakteristik yang lebih kuat dan bisa menjadi teladan bagi wanita-wanita lain di luar Islam.

a. Tentang feminisme yang seringkali disuarakan wanita-wanita dengan dalih kesetaraan gender, bahwa wanita dan pria memiliki peran yang berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing. Allah sampai bersumpah demi malam dan siang, bahwa usaha manusia beraneka ragam (QS. Al-Lail (92):1-4). Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa wanita dan pria itu sudah ditentukan peranannya. Ada hal-hal yang hanya diperuntukan bagi pria, begitupun dengan wanita, ada hal-hal yang hanya diperuntukan bagi wanita. Hal ini bukan karena Allah pilih kasih, bukan, sungguh bukan. Justru Allah adalah Pihak paling adil menetapkan segala sesuatu, termasuk peranan hamba-hambaNya. Dalam Islam tidak ada istilah diskriminasi, laki-laki dan perempuan menempati posisi yang sebenarnya sama, hanya saja keduanya diberikan ketentuan berperan sebagai seorang hamba. Tak ada tuntutan emansipasi atau modernisasi karena wanita telah diangkat dan dijunjung tinggi.

 

b. Mendapatkan balasan yang sama dengan laki-laki. Dan sungguh, Allah adalah sebaik-baik Pemberi balasan. Meskipun dengan keberagaman peran dan karakteristik dari wanita dan pria, namun persoalan balasan atas tiap amalan manusia, tak sedikitpun kita dirugikan. Sungguh berniaga dengan Allah adalah investasi paling menjanjikan, karena hanya kepastian yang menanti di hadapan. Balasan bagi orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan telah Allah tegaskan dalam banyak pesan cintaNya, seperti yang Ia sampaikan dalam QS. Al-Hadiid (57) ayat 12. Dan  Umar bin Khathab pernah berkata, “Pada masa jahiliyah, wanita itu tak ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan bahwa wanita itu sederajat dengan laki-laki.” Persamaan yang dimaksudkan oleh Islam ini meliputi segala aspek, termasuk masalah hak dan kewajiban. Hal ini sangat dipahami oleh para wanita Islam dan oleh karenanya mereka pegang ajaran Islam dengan sangat kuat. Lantas, apa yang hendak disetarakan jika sudah Allah tentukan kadar dan takaran bagi tiap-tiap kita, bagi laki-laki dan perempuan. Sudah sangat jelas Ia sampaikan bahwa keduanya memiliki peran dan karakter yang berbeda namun memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan keberkahan dan kenikmatan dariNya.

 

Sekiranya cukup yang hendak saya bagi di tulisan ini, semoga masih senantiasa merasa haus akan ilmu agar kita mengkajinya lebih jauh lagi, di hamparan jendela-jendela dunia. Semoga Allah berkenan mengampuni segala kesalahan dan dosa yang dilakukan, mengijabah pinta dan menganugrahkan bijak ketika ketentuan dan ketetapanNya tak bersesuaian dengan ingin kita. Al-haqqu min robbik, falaa takuunanna minal mumtariin.

 

Hajiah M. Muhammad.

Kamis, 28 Juni 2012/8 Sya’ban 1433 H.

Circle of Study and Research Qur’an.

Go Muslim Scholar !!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s