Hari Ini dan Kemudian Hari

Jadilah pemuda Islam yang ketika orang lain melihatmu, mereka melihat betapa indahnya Islam”. Kutipan di stiker yang tertempel pada lemari seorang kawan di kosannya itu masih sangat lekat hingga hari ini. Pesannya yang begitu dalam meski rangkaian kalimatnya tak terlalu panjang, membuat saya sudah berulang kali menyampaikannya kepada orang lain. Pun di ruang maya, mungkin ada yang pernah membaca kalimat tersebut di atas? Saya tak ingat siapa nama yang tertulis di stiker itu karena memang tak ada nama penulisnya. Siapapun yang mengungkapkan itu, semoga menjadi amal jariyah yang memberatkan amalan kebaikan di yaumul akhir nanti.

Sebelum lebih jauh, saya ingin kita menyepakati satu hal bahwa di antara identitas keislaman seseorang dapat dikenali dari akhlaknya, ya akhlak. Jika pakaian yang digunakan sebagai penutup aurat dikatakan sebagai identitas keislaman, maka akhlak pun menjadi tak kalah penting dan genting untuk kita kenakan. Maka izinkan saya membuat perumpamaan jika akhlak itu selayaknya keharusan menutup aurat. Hanya yang membedakan, keharusan membentuk akhlak itu tidak terbatas pada laki-laki dan perempuan karena semua mesti memiliki akhlak yang mantap sebagai seorang muslim.

Akhlak adalah buah dari keimanan, seperti yang disampaikan Fathi Yakan dalam bukunya “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?”. Seperti juga yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan, “Iman bukanlah angan-angan kosong, tetapi sesuatu yang terpatri dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan” (HR. Ad Dailami dalam kitab Musnad). Maka akhlak merupakan implementasi dari ibadah yang kita tunaikan sebagai abdi Allah, bukan sebatas ritual keagamaan yang kemudian tak berbekas, menghilang.

Ada beberapa sifat penting yang perlu dimiliki sebagai seorang yang mengaku beriman agar memiliki akhlak yang mulia, adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat. Syubhat dapat diartikan sebagai sesuatu yang belum jelas halal atau haramnya, samar. Padahal dalam Islam, tentang halal dan haram dengan terang dan jelas dipaparkan. “Barang siapa yang menjauhi syubhat, maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang terjerumus dalam syubhat, maka dia telah menjerumuskan dirinya dalam keharaman” (HR. Muttafaq ‘Alayh)
  2. Menjaga Pandangan. Menjaga pandangan dari segala hal yang mendekati pada kemaksiatan, menjaga pandangan dari segala hal yang melalaikan. Dalam sabdanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyampaikan bahwa pandangan adalah salah satu anak panah iblis. Maka jika kita mengaku beriman dan meneladani sang Nabi, sudah semestinya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang melenakan, dari hal-hal yang membawa kita pada kemaksiatan
  3. Menjaga Ucapan. Iman An Nawawi berkata, “Ketahuilah, setiap orang yang sudah mencapai derajat mukallaf (diwajibkan melaksanakan ibadah-ibadah), harus menjaga lisannya dari segala bentuk ucapan, kecuali ucapan yang cenderung membawa maslahat (kebaikan). Tetapi, jika dampak ucapan itu seimbang antara maslahat dan mudhorot, maka seharusnya ditinggalkan karena ucapan yang mubah biasanya bisa mendorong kepada perkara yang makruh dan haram” 
  4. Malu. “….Rasa malu juga termasuk salah satu cabang iman” (Muttafaq ‘Alayh). Sebagian ulama mendeskripsikan rasa malu dengan ungkapan berikut, “Hakikat malu adalah pembawaan yang mendorong manusia agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan mencegahnya dari mengabaikan hak orang lain”.
  5. Jujur. Jika diibaratkan barang antik, dewasa ini kejujuran seperti itu. Sudah langka. Kejujuran bukan hanya terhadap orang lain, bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Allah ta’ala. Berlaku jujur kepada Allah adalah dengan mempertanggungjawabkan perkataan yang telah diucapkan. Sebagai contoh, kita mengaku hanya berharap kepada Allah, menjadikannya sebagai satu-satunya sandaran. Tapi ketika kita diuji, ketika ditimpa kesulitan, Allah diabaikan dan lebih mendekati makhluk yang lemah. Maka apa arti ucapan jika tidak dibuktikan dengan kesungguhan iman?
  6. Rendah Hati (Tawadhu’). Cukuplah menjadi nasehat bagi kita untuk senantiasa merendahkan hati, menyadari bahwa sepenuhnya tiada daya dan upaya melainkan karena Allah. Maka kita yang lemah tak berdaya ini tak pantas berbangga sebab menghindarkan diri dari kesombongan telah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tegaskan, “Tidak akan masuk surga orang yang pada hatinya tersimpan kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah” (HR. Muslim).
  7. Menghindarkan Prasangka Buruk, Ghibah, dan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain. Dalam surat Al ‘Ashr ayat 3, Allah mengabarkan kepada kita di antara orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka jika dalam hati dan pikiran kita mendapati keburukan yang ada pada orang lain, bicarakan kepadanya untuk menghindari prasangka, sampaikan kepadanya agar lisan kita terjaga dari ghibah (membicarakan keburukan orang lain). Apalagi, sampai disibukan mencari kesalahan orang lain, na’udzubillahimindzalik. 
  8. Menjadi Teladan Bagi Orang Lain. Saya percaya, setiap kita menyadari betul bahwa teladan terbaik ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam seperti yang telah Allah firmankan dalam surat Al Ahzab ayat 21. Tapi kita pun bisa menjadi teladan bagi yang lain meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kekurangan dan kesalahan masih kerap kita lakukan. Teladan adalah perintah terbaik, begitu yang pernah disampaikan seseorang dalam tulisannya. Dan saya menyepakatinya. Dengan memberikan teladan, artinya kita mengajak orang lain tanpa kata, tanpa suara dan lebih memungkinkan untuk ditiru dan diikuti. Maka, memiliki akhlak yang mulia adalah juga bagian dari dakwah, mengajak dan menyeru orang lain pada kebaikan. Minimal, di lingkungan rumah sendiri, di lingkungan tempat tinggal, di tempat menuntut ilmu, di tempat bekerja, adalah lahan dakwah menjadi teladan bagi orang sekitar. Dan semoga, Allah baguskan akhlak kita sebagaimana Allah membaguskan penciptaan kita.

Itulah di antara sifat penting yang perlu kita miliki agar membentuk akhlak yang mulia sebagai komitmen sebagai seorang muslim, sebagai pertanggungjawaban sebagai seorang yang mengaku beriman. Kita berharap, akhlak-akhlak ini menjadi penghias hati dan diri untuk menghadap Allah kelak, sehingga kita layak memenuhi panggilan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam keadaan penuh kesyukuran, ummati …. ummati… ummati.

Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 20 November 2017

Advertisements

Sisi Lain

Berterima kasih kepada mereka yang membencimu, karena tanpa diminta, mereka begitu semangat menyampaikan keburukan yang ada dalam dirimu. Tidak semua orang mau melakukan itu sekalipun orang yang menyayangimu. Tapi sesungguhnya, ketika seseorang menyayangi yang lain, maka hanya kebaikan yang diharapkan ada pada masing-masing orang. Seperti halnya ketika kita menyayangi seseorang maka kita tentu berharap dapat menjadikannya lebih baik bersama, bukan saling menyalahkan apalagi saling menjatuhkan.

Yang menarik dari mereka yang membenci diri kita adalah karena besarnya perhatian mereka. Meluangkan waktu, pikiran, tenaga bahkan tak jarang menghabiskan uang untuk meluapkan kebenciannya. Mulai dari keburukan yang memang benar ada dalam diri, hingga keburukan yang kita sendiri tak menyadari jika memilikinya. Lucu tapi layak direnungkan. Boleh jadi, ungkapan kebencian mereka itu adalah cara lain menyayangi dan memberikan kasih sayangnya.

Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Hari-hari disibukan mencari cela orang lain, sedangkan cela dalam diri yang nyaris busuk tak ditengok sama sekali. Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Waktu yang dilalui habis percuma karena diisi dengan hati yang cemas lagi gundah. Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Tenaga terkuras, hati mengeras. Sedangkan orang yang dibenci tak menoleh meski hanya sekilas. Sekalipun ada kebencian dalam diri terhadap orang lain, jangan sampai membutakan mata hati. Jangan sampai hati terkotori.

Dengki adalah bagian dari penyakit hati dari mereka yang membenci. Aib orang lain ditelusuri, aib sendiri tak peduli. Padahal, hanya ada dua kedengkian yang diperbolehkan seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”

Dalam hadits lain, dari Abu Salim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua hal yaitu (pertama) kepada seorang yang telaj diberi Allah hapalan al qur’an sehingga ia membacanya siang dan malam; kedua, kepada seorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan lalu membelanjakan harta tersebut siang dan malam (di jalan Allah)” (HR. Bukhari No. 6975 dan Muslim No. 1350)

al haqqu min rabbik fala takuunanna minal mumtariin. 

Hajiah M. Muhammad

Depok, 5 November 2017

 

Monolog #3

Sudah lebih tenang? Kau habiskan waktumu untuk apa dan kemana selama mencari ketenangan itu? Baiklah, simpan saja jawaban-jawabanmu dari pertanyaanku. Biarkan aku lanjutkan apa yang hendak aku sampaikan.

Sesekali, menepi dari keseharian tak membuatmu jadi hilang kendali. Justru akan menjadi suntikan energi tuk melanjutkan perjalananmu lagi dan lagi. Maka jangan sungkan untuk menepi sejenak. Rebahkan kepatuhan pada Allah dalam doa-doa panjangmu. Kumpulkan serpih-serpih kekuatan yang terserak, menghampar luas dalam limpahan kasih sayang Rabb-mu. Kau terlalu bersemangat meniti langkah-langkah kecilmu, tapi kau lupa menyertai Allah di tiap langkah-langkah itu.

Maka jangan heran jika kau rasakan lesu, tak tau arah yang dituju. Sujud sembah pun terasa tak lagi khusyu. Jawabannya hanya satu, kau abaikan Allah yang sebenarnya selalu memperhatikanmu, yang tak luput memberikan kenikmatan padamu meski maksiat kau lakukan tak tau malu.

Melangkahlah pelan, tetap teguh dalam iman. Menepi silakan, berhenti jangan. Bukankah kau punya sederet impian yang hendak diwujudkan? Mohonlah kekuatan bukan diringankan beban. Sebab Allah sangat tahu bagaimana menakar kesanggupan. Bersabarlah dengan sebaik-baik kesabaran. Teguhlah dengan sebaik-baik keteguhan. Allahu akbar!

Hajiah M. Muhammad
Depok, 25 Oktober 2017

Monolog #2

Bisakah sejenak kau duduk tenang? Seperti hal yang menjadi kebiasaanmu di masa silam, menundukan hati dalam perenungan. Menyandarkan lelahmu dalam sujud yang dalam. Maka kembalilah, kembalilah mengulang kebiasaanmu itu. Hingga kau tak perlu menggerutu, menyesali kesalahanmu lalu mengulangnya di kemudian hari dengan atau tanpa kesadaranmu. Bukankah kau telah berjanji? Janji pada dirimu sendiri, yang pasti Allah pun mengetahui?

Sadarlah wahai diri, waktumu tak lama lagi. Kapan pun ajal bisa datang menghampiri. Mengapa masih berpuas hati dengan amalanmu yang baru seujung jari? Pun seperti itu belum tentu keridhaan Allah kau dapati. Lantas, apa yang membuatmu menyombongkan diri? Iman tak seberapa, ilmu pun entah bagaimana. Amalan? Apa yang akan kau jadikan bekal pulang?

Sadarlah wahai diri, waktumu tak lama lagi. Sikap dan ucapmu akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Berjalanlah terus jangan berhenti. Fokus tujuanmu keridhoan Ilahi. Jangan kalah, jangan menyerah!

Hajiah M. Muhammad

Carilah Kawan

Hati ini pernah begitu sakit ketika mengikuti prasangka orang lain. Entah itu prasangka yang baik, terlebih prasangka yang buruk. Padahal, saya meyakini bahwa ketika orang lain berprasangka buruk tentang saya, artinya saya harus bermuhasabah. Barangkali sangkaan mereka adalah nasehat untuk kebaikan diri ini. Pun ketika orang berprasangka baik terhadap diri, tidak lain ialah menjadi pecut untuk merendahkan hati, meningkatkan kualitas diri sehingga sangkaan baik mereka menjadi doa, menjadi harap bagi saya. Maka ketika saya mengikuti segala sangkaan itu, saya seperti tidak mengenali diri. Seperti asing dan aneh dengan sikap yang saya perbuat.

Hal yang tak kalah menyebalkan adalah jika sangkaan baik dari orang lain membuat saya jumawa, merasa “gue gitu loh!”. Padahal, hanya karena Allah menutup rapat aib dalam diri, sehingga yang tampak di pandangan orang hanyalah yang baik. Padahal, hanya karena Allah melindungi diri ini dari segala fitnah maka lisan orang lain terjaga dari membicarakan keburukan yang saya miliki. Hanya karena Allah, ya, hanya karena Allah. Jika ada kebaikan yang kalian temukan dalam diri ini, sungguh kebaikan itu milik Allah. Segala kebenaran bersumber dari-Nya. Dan jika kalian temui keburukan dalam diri ini, maka sepenuhnya adalah milik saya.

Sekarang ini, -setelah rasa sakit yang begitu dalam karena terbawa prasangka -, saya lebih senang untuk mengatakan dan menegaskan ke dalam diri sendiri. Apa yang ditegaskan? Carilah kawan yang mau menunjukan kekeliruan dan kesalahanmu karena terkadang disegani banyak orang mendekati kehinaan. Mereka bersikap seolah dirimu baik-baik saja, tanpa cela. Menutup matanya dari kealpaanmu hingga kau sendiri mendapati mereka menemukan kesalahanmu tapi segan menasehatimu.

Benarlah nasehat dari khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, “Di antara orang yang paling aku cintai adalah mereka yang menunjukan kesalahanku”. Jika hari ini di antara kita ada orang-orang yang begitu tulus menasehati, tanpa diminta, tanpa dipaksa. Pertahankan! Jaga mereka dalam doa, panjatkan segala kebaikan cita untuk keberkahan hidup di dunia dan akhiratnya. Jangan takut, karena kebaikan itu akan kembali padamu. Pada yang mendoakan. Baarokallahufiikum.

Pencarian

“Assalamualaikum. Wr.Wb. Mba saya mau tanya apakah ga boleh umat Islam belajar Filsafat, Psikologi & Theologi Barat? Kata teman saya buang-buang waktu dan energi. Selain itu bisa menimbulkan ragu kepada ALLAH SWT. Saya juga pernah menemui teman saya dia satu-satunya yang ga pernah ikut kelas matkul filsafat. Tapi kalo ujiannya ikut. Menurut pandangan mba gimana?”

Mendapat pertanyaan demikian di pagi hari, membuat saya agak linglung tapi kemudian jadi ingat pertanyaan saya kepada Ustadz Akmal suatu hari. “Ane tertarik belajar filsafat, tapi masih ragu karena sejauh ini dapet temen belajar filsafat malah pada aneh pemikirannya, nyerempet liberal dan malah ada yang liberalnya udah akut. Apa pandangan Ustadz Akmal tentang filsafat?”. Kurang lebih beliau menjawab, “Gak ada masalah sama fislasat, justru hidup kita harus punya filsafat. Mencari kebenaran dengan tetap berpegang pada qur’an dan hadits. Kenapa filsafat itu jadi terkesan horor kalo belajar filsafat Yunani dan kita akan ikut kebingungan mereka dalam teori-teorinya. Itu kenapa jadi banyak yang melenceng setelah belajar filsafat”

Membaca tulisan para kontributor di Insist tentang filsafat, seperti mendapat titik terang bahwa belajar filsafat tidak selamanya menyesatkan. Dengan catatan, kita tetap berpegang teguh pada qur’an dan hadits agar dapat menguatkan kebenaran di dalamnya dan mampu menepis keraguan dan kebingungan yang ditawarkan filsafat Yunani yang menjadi rujukan ilmu filsafat dunia.

Mas Gono  menuliskan bahwa filsafat itu untuk mengokohkan kebenaran sekaligus menghapus keraguan. Inilah yang tak banyak orang peduli. Mereka mengedapankan akal tapi menanggalkan Islam sebagai acuan sehingga ketika belajar filsafat mereka bukan lagi mencari kebenaran tapi mencari pembenaran atas pemikiran-pemikiran yang ingin dibenarkan.

Para filsuf Muslim seperti Ibrahim Madkour, Musthafa ‘Abdur Raziq, dan Syekh ‘Abdul Halim Mahmud tidak pasif-reseptif, tidak menerima bulat-bulat atau menelan mentah-mentah tanpa resistensi dan sikap kritis. Mereka menelurkan sintesis cemerlang dan membangun sistem pemikiran tersendiri, para filsuf Muslim berhasil mengakomodasi khazanah keilmuan Yunani kuno dalam kerangka pandangan hidup Islam. Sehingga kita bisa mengenal Ibnu Sina sebagai ahli pengobatan, atau Ar Razi sebagai kimiawan. Mereka mengupas dan mengurai, melakukan analisis dan elaborasi, menjelaskan dan menyanggah, melontarkan kritik, memodifikasi dan menyaring, mengukuhkan dan menambahkan, memperkenalkan konsep-konsep baru, atau menyuntikkan makna baru pada istilah-istilah yang sudah ada, dan menawarkan solusi-solusi baru untuk persoalan-persoalan perennial dalam filsafat.

Kontroversi filsafat di kalangan cendikiawan muslim membuat sebagian orang menjadi antipati terhadap filsafat. Padahal kita patut mengapresiasi berbagai disiplin ilmu dengan tetap memegang teguh kebenaran dari qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Belajar berbagai disiplin ilmu sejatinya adalah upaya meningkatkan kedudukan di sisi Allah, maka apapun yang dipelajari jangan sampai membuat kita malah jauh dari Allah.

Jika kemudian ada yang bertanya, “Jadi untuk apa belajar filsafat?”. Maka izinkan saya menjawab bahwa dengan mempelajarinya kita bisa mematahkan teori-teori yang dibawa filsafat Yunani dan mendekatkan kebenaran dari qur’an dan hadits agar muslim yang belajar filsafat benar-benar menemukan pencarian kebenaran bukan membenarkan pencariannya.

Maka saya jadi menarik kesimpulan bahwa kita harus berfilsafat karena sejatinya filsafat itu sedikit banyak akan membentuk pola pikir kita. Hanya saja memang, jika kita belajarnya filsafat barat atau Yunani, kita bukan hanya jadi liberal, karena bisa jadi atheis. Itulah kenapa ketika akan belajar, belajar mata kuliah apapun harus tetap ingat bahwa kita menuntut ilmu adalah bagian dari tanda orang beriman. Dan orang beriman, adalah ketika yangg mendapat ilmu semakin mendekatkan dirinya dengan Allah. Semakin yakin dengan Allah, bukan sebaliknya. Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad