Melangkah Bersama

Menjaga kewarasan agar tak hilang arah, agar senyum tetap sumringah meskipun tengah berada dalam kondisi susah. Bagaimana bisa? Mari kita coba untuk lebih bijaksana, melihat segala sesuatu lebih dekat hingga antara hati dan akal tak ada sekat. Ya, hati. Kita tak lagi menggunakan mata untuk melihat sebab seringkali pandangan mata melenakan, tak jarang membuat salah pemahaman.

Siapa yang tak ingin tetap bijaksana meski masalah datang tanpa jeda? Jangankan untuk bersikap bijaksana, menjaga senyum tetap terkembang sangat berat rasanya. Mata tak kuasa membendung air yang mendorong sekuat-kuatnya. Tetapi itulah istimewanya seorang muslimah yang miliki keimanan dalam hatinya. Kesabarannya diuji tak mengenal masa, sering mendadak tanpa kabar sebelumnya. Keyakinan akan balasan dari Allah ta’ala untuk kesabarannya adalah yang membuatnya tetap tegak melangkah.

Boleh jadi hatinya tengah terluka, dengan lubang yang begitu menganga. Sangat sakit dan sangat perih terasa. Tetapi mereka tak lantas mencerca takdir Rabb-nya. Mereka pun tidak bertanya mengapa dan kenapa, mereka yang mendapat jalan cerita yang membekaskan luka. Hanya saja sebagai manusia biasa, mereka merasa begitu lemah dan ingin menyerah.

Namun wanita-wanita shalihah seperti mereka takkan menyerah begitu saja. Selalu ada keyakinan dalam hati kecilnya bahwa Allah takkan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Ada optimisme yang menancap kuat dalam sanubarinya bahwa setiap rencana yang disusun manusia, tetaplah Allah sebaik-baik Pengatur cerita. Tugas kita sebagai hamba adalah menaati-Nya, meneladani Rasul-Nya, sehingga apapun yang mendera dan terjadi dalam kehidupan, tetap berprasangka baik kepada Sang Penguasa.

Luar biasanya wanita-wanita shalihah seperti mereka, selalu punya cara menginspirasi wanita lainnya. Seakan berkata, “Mari kita melangkah bersama, saling berdoa juga saling menjaga. Semoga Allah meliputi kita senantiasa”. Saya rasa, ungkapan itu layak kita pelihara untuk hari ini dan seterusnya.

Semangatnya tak pernah padam meski mungkin sesekali redup dalam perjalanan. Mereka menjaganya, bangkit dari keterpurukannya, melawan segala yang mencederainya. Seolah berkata pada dunia, “Aku punya Allah dengan segala kuasa-Nya”. Maka, tak ada pilihan lain selain menyepakatinya. Dan kita melangkah bersama dalam naungan rahmaan dan rahiim-Nya. Selamat bermujahadah!

Depok, 20 Juli 2018
Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Ditertawakan

Saya pernah ditertawakan ketika menyampaikan harapan “menjadi sebaik-baik manusia yang memberikan manfaat untuk orang lain”. Mereka yang menertawakan itu seketika mengatakan, “Asal jangan sampe gak sadar kalo elu yang dimanfaatin sama orang lain”. Saya hanya tersenyum sambil menegaskan kepada diri sendiri untuk tetap menjaga harapan tetap dalam koridor kebaikan.

Maka sejak meyakinkan diri untuk memberi manfaat sebaik-baiknya kepada orang lain, saya selalu berdialog dengan hati “Kamu bukanlah lilin yang menerangi sekitar tapi membakar diri sendiri. Kamu adalah akar yang menghunus dan menancap kokoh ke dalam perut bumi, yang mampu menopang tanaman yang terus tumbuh mencakar langit”. Ketika mengingat itu, seperti mendapat nasehat untuk terus menebar manfaat, sekecil apapun yang saya mampu.

Dengan demikian, saya selalu punya harapan yang terus menyala dan tetap bergelora bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi baik dan berbuat kebaikan. Maka tidak ada alasan untuk menunda, tidak ada alasan untuk berhenti melakukannya. Kebaikan akan tetap ada dengan atau tanpa kita sebagai pelakunya. Namun yang menjadi tanya adalah “Apakah bekal yang kita bawa untuk menghadap Sang Pencipta?”

Depok, 19 Juli 2018
Hajiah M. Muhammad

Ketakutan

Hati, tempat pertarungan antara taat dan maksiat, tempat beradu antara mengalahkan atau memenangkan nafsu. Hati adalah tempat bermula segala tingkah polah manusia, apakah sesuai fitrah kebaikan ataukah mengikut pada kemaksiatan yang berbalut fatamorgana.

Orang beriman bukanlah orang yang tidak punya rasa takut. Sangatlah wajar jika ada rasa takut dalam hati orang-orang beriman, mereka takut tetapi tidak ragu. Sebab iman ialah yakin. Rasa takut adalah bagian dari ujian kesungguhan iman. Apakah ketakutan itu membuat kita semakin yakin terhadap Allah ataukah sebaliknya?

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”
(QS. Al Hujuraat (49) :15)

Alangkah beruntung orang-orang beriman, orang-orang yang berserah diri kepada Allah sepenuh penghambaan. Mereka diliputi ketenangan, kedamaian meskipun tak lepas dari berbagai gelombang kehidupan. Keyakinan hati kepada Allah begitu melekat, mengakar kuat di dalam jiwa-jiwanya.

Mereka adalah manusia biasa yang tak luput dari salah, yang tak luput dari keluh dan kesah. Namun ada kekuatan luar biasa yang membuatnya tetap tegak melangkah, menatap masa depan yang cerah. Kekuatan yang berasal dari Rabb Maha Kuasa atas segalanya.

Mereka tak luput dari keluh dan kesah sebab seperti itulah fitrah manusia. Tetapi karena mereka miliki sumber kekuatan yang tiada daya selain dari-Nya, maka sedahsyat apapun badai kehidupan yang menerpanya, tetap mampu bertahan sebab hanya Allah yang menjadi sandaran.

Keluhannya disampaikan bersama derai-derai air mata, di atas hamparan sajadah. Merasakan tiap belai kasih sayang Allah. Mengiba dan menghamba dengan sebenar-benarnya. Menyadari kelemahan dan kerapuhannya, maka mencari sumber daya terbaik adalah kepada Allah. Adakah dekapan dan belaian yang lebih menentramkan selain dari-Nya?

Allah itu romantis, menguji hamba tetapi tak sekalipun meninggalkannya. Memberi ujian lengkap dengan solusinya, tak jarang pun diselipkan hiburan agar hati merasakan bagaimana pertolongan dan perlindungan yang Allah berikan. Tak ada janji yang tak tertunaikan, begitulah Allah memberi jaminan kepada mereka yang beriman.

“…Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapatkan pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (S. Al Baqoroh (2) : 112)

Biarkan air mata jatuh berderaian, deras dan tak tertahankan. Biarkan kegundahan tumpah meruah di hamparan sajadah. Rasakan lembut belai dan hangat dekap kasih sayang Allah yang tak berkesudahan. Mengiba dan sepenuh hati menghamba, menjemput sumber daya yang tiada daya selain dari-Nya.

Depok, 18 Juli 2018
Hajiah M. Muhammad

Diskusi

Selalu ada yang menarik untuk kita diskusikan. Sambil duduk santai bersenda gurau pun boleh jadi ada pelajaran yang dapat kita petik, memahaminya bersama meski dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi sungguh, selalu dan selalu terkagum dengan kelompok-kelompok diskusi. Maka sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2011, ketika ada yang mengajak untuk membentuk kelompok diskusi keilmuan, saya dengan yakin menerima ajakannya. Tak ada sedikit pun keraguan untuk menolak.

Selain itu, saya sendiri membentuk diskusi ringan ala obrolan warung kopi dengan siapapun yang bersedia diajak bertukar pikiran. Bergerilya dari satu titik ke titik yang lain, dari satu warung kopi yang satu ke warung yang lain. Tidak lain adalah dengan maksud menyebarkan semangat menjaga kemurnian tauhid agar tidak terkontaminasi dengan pemikiran sekuler, liberal dan pluralis.

Saya mengajukan ke organisasi untuk mengadakan diskusi atau kajian yang dapat dirasakan manfaatnya bagi lebih banyak orang, tapi tanggapan dari sebagian mereka agak menyedihkan. “Waduh! Bahaya itu, kita kerja aman aja deh ya. Daripada organisasi kita dibubarin?”, dan sederet komentar senada yang akhirnya membuat saya bergerilya dari satu orang ke orang yang lain.

Ternyata memang, setiap medan dakwah itu punya ujiannya masing-masing. Setiap ranah dakwah memiliki titik-titik bahaya yang harus dilewati, dilalui bukan ditinggalkan. Maka saya tetap pada keyakinan untuk melangkah meski seringkali merasa sendiri, tapi keyakinan bahwa Allah yang akan berikan pertolongan dan kekuatan maka insyaallah semangat itu selalu saya bawa hingga mati.

Maka, menyambut ajakan kawan, saya ingin meneruskan ajakannya kepada rekan-rekan sekalian. Insyaallah kami akan mengadakan diskusi dwi pekanan, untuk sementara ini baru bisa diadakan wilayah Depok, tepatnya di Masjid Ukhuwah Islamiyah kampus Universitas Indonesia. Kapan mulainya? Pekan kedua bulan Juli, tanggal 14 Juli 2018 pukul 10 pagi, insyaallah. Ohya, diskusi ini khusus muslimah ya. 😀

Kita akan diskusi banyak hal. Belajar bersama, menjaga kecintaan terhadap ilmu agar tidak padam. Tidak ada kurikulum resmi tapi kita upayakan agar api semangat menuntut ilmu terus menyala. Berapa pun jumlah orang yang hadir tidak jadi persoalan, satu-dua orang lebih dari cukup untuk saling bertukar pikiran. Insyaallah.

Semoga Allah berkahi dan limpahkan kita kasih sayang yang berkepanjangan. Baarokallahufiikum.

Depok, 28 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Menjadi Seperti

Selalu ada alasan untuk bersyukur di antara aneka rupa godaan untuk kufur. Sebab Allah selalu berikan kemudahan di tiap kesulitan, selalu lapangkan segala kesempitan, dan senantiasa menentramkan jiwa-jiwa yang dilanda kegelisahan. Semua adalah buah keimanan. Maka beruntunglah mereka yang beriman sejak dalam pikiran, terwujud dalam sikap dan ucapan.

Ada rasa cemburu kepada mereka yang beriman. Diamnya adalah zikir, ucapannya adalah nasehat, sehingga perilakunya berupaya menjadi sebaik-baik akhlak. Pantang bagi mereka menyakiti maka dalam ucap dan sikapnya sangatlah berhati-hati. Namun demikian, ketegasan dan keberanian menolak kemungkaran menjadikan mereka tak takut mati sebab dengan harapannya adalah keridhoan Ilahi.

Masyaallah, tidak heran jika banyak orang yang mencintai sebab mereka tak peduli pada sanjung puji, sungguh-sungguh hanya berharap Allah meridhoi. Sudah barang tentu keadaan demikian tidak didapat dalam masa yang sebentar. Ada perjalanan panjang hingga akhirnya mereka mendapat ketenangan dalam hati, keteduhan jiwa serta baik akhlaknya.

Aqidah yang lurus lagi selamat jadi pondasi, ibadah yang shahih jadi kebutuhan, akhlak yang mulia lagi kokoh jadi keseharian, maka insyaallah perlahan tapi pasti, menjadi seperti mereka tak hanya mimpi. Dan satu yang pasti, bermohon semoga Allah tetapkan iman dalam hati.

Depok, 17 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Sapu Tangan

Kadang, saya ingin pinjam kekuatan hatinya. Ia yang gigih meskipun dalam letih. Ia yang sabar meski tampak gusar. Ia yang semangat meski penat jelas terlihat. Ia yang selalu bisa menyembunyikan air mata tapi selalu menampakan canda tawanya.

Menjadi teman perjalanan yang menyenangkan pandangan dan hati juga jiwanya. Tapi memang layaklah balasannya surga, menjadi istri sholihah adalah cita-cita bagi setiap perempuan beriman. Menjalani langkah-langkah menuju mar’atush shalihah adalah perjalanan berat yang banyak ujiannya.

Menjadi shalihah bukan semata menjadi tujuan sebab ridho dan berkah Allah jauh lebih utama. Menjadi shalihah bukanlah tujuan sebab kita selalu sedang menuju, tak pernah sampai meski langkah semakin gontai. Menjadi shalihah bukanlah pencapaian apalagi sekadar gelar sebutan, sebab ia bukanlah semat panggilan melainkan hadiah bagi perempuan beriman. Yang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, taat kepada suaminya.

Kepadamu, pinjamkan aku bahumu agar aku lebih tegar, lebih sabar. Pinjamkan aku matamu, agar mampu membendung air mata sepertimu, menyembunyikan pilu yang tengah meliputimu. Mengubah tetes-tetes syahdu menjadi simpul senyum pada wajah orang-orang di hadapanmu. Pinjamkan aku diammu, agar mampu lisanku terjaga dari kata yang percuma, dari kata yang membekaskan luka.

Kepadamu, pinjamkan aku kesungguhan dan kegigihan, agar aku mampu mendampingi lelah dan letihmu, menjadi pelipur laramu. Agar aku mampu menjadi teman perjalananmu, menghabiskan sisa usia hingga kita menutup mata dan kembali berkumpul di jannah-Nya.

Kepadamu, tiada kata yang mampu tereja, tak mampu menguraikannya tuk meluapkan segala kesyukuran telah Allah karuniakanmu dalam suka dan duka. Tiada mampu mengutarakannya selain dengan kesahajaan cinta, doa-doa yang mengangkasa, serta sejumput harap semoga Allah berkahi perjalanan kita hingga bertemu dengan-Nya di surga. Duduk bersanding di atas dipan, menikmati buah perjuangan keimanan.

Depok, 14 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad.

Bersiaplah Untuk Kecewa

Pernyataan saya ketika ada yang mengeluhkan kekecewaannya terhadap orang lain, biasa saya sampaikan kepadanya, “Gak perlu marah sama orang yang buat kamu kecewa, apalagi sampai membenci dan memusuhinya. Siapa suruh berharap sama makhluk? Kalo berharap sama makhluk, ya harus siapkan ruang untuk kecewa”. Seketika itu pula, saya ditinggal pergi atau si empunya cerita malah menangis, ada juga yang senyum kecut, ada yang tertawa. Padahal, tidak ada yang lucu dari pernyataan saya tadi.

Hal ini pun berlaku bagi para orang tua. Saya yakin, setiap orang tua pasti memiliki banyak harapan pada “bahu” anak-anaknya. Para orang tua berharap jika anaknya mendapat berbagai pencapaian, seperti mendapat peringkat terbaik di kelas misalnya. Atau mendapatkan juara dalam sebuah kompetisi.

Tidak ada yang salah dengan harapan demikian, sangat wajar karena setiap orang tua tentunya ingin jika anaknya mendapatkan nilai yang bagus, prestasi yang gemilang. Namun, ada satu hal yang terkadang hilang dari orang tua ketika segala harapan-harapan kebaikan itu dicitakan, yaitu kesiapan hati menerima segala bentuk pencapaian yang diraih oleh anaknya.

Mengapresiasi sekecil apapun prestasi yang diraih anak adalah pembiasaan yang harus dilakukan setiap orang tua agar terlatih untuk menyiapkan diri jika ada kegagalan atau kekalahan yang didapatkan oleh anak. Selanjutnya, orang tua juga perlu menyiapkan anak agar mereka pun siap menerima kekalahan, agar tetap semangat ketika mengalami kegagalan.

Juga patut kita ingat bahwa membandingkan kemampuan dan pencapaian antara satu anak dengan anak yang lain, baik saudara sekandungnya atau dengan teman-teman di sekitarnya, adalah bentuk lain dari menjatuhkan semangat belajar anak. Kita, para orang tua, semestinya memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan berbeda.

Ada yang unggul di bidang ini, ada yang unggul di bidang itu. Maka yang perlu kita tanamkan kepada anak-anak adalah kecintaan terhadap ilmu, bukan tuntutan mendapat prestasi yang menggembirakan. Bukankah menghargai kegigihan dan semangat belajar anak lebih berharga daripada nilai yang ia dapatkan?

Pernah satu waktu, saya mendapatkan kisah dari salah seorang dokter anak. Beliau bercerita tentang dialog antara nenek dan para cucunya saat berkunjung ke kampung halaman sang nenek. Mereka bergabung dengan cucu nenek yang lain, duduk di teras pagi hari sambil menyantap camilan buatan nenek.
Nenek pun bertanya, “Kemarin sudah ambil raport ya? Siapa dapat peringkat 3 besar di kelasnya?”. Dua orang cucu mengangkat tangannya penuh gairah, seakan ada pancaran harap sang nenek akan berikan hadiah. Dan benar saja, sang nenek memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepada keduanya. Melihat itu, cucu yang lain tertunduk lesu. Seketika sibuk dengan kunyahan camilan yang tak bisa mereka telan.
Maka dokter itu, coba menghidupkan suasana kembali dengan melontarkan pertanyaan begini, “Paman mau tanya juga ah. Tapi fulan dan fulan gak boleh ikutan ya, kan sudah dapat hadiah dari nenek. Oke? Pertanyaannya, siapa yang ketika ujian semester ngejawab soal sendiri, gak nyontek?”. Ada sekitar 3-5 orang yang mengangkat tangan, masih agak lesu.
Sang paman pun tidak kehabisan akal, ia kumpulkan anak-anak yang tadi mengangkat tangannya, meminta mereka menghampiri pamannya. Mereka kebingungan. Sang paman menyampaikan kepada mereka dan kepada dua orang lainnya penuh bijak, “Prestasi bisa diraih, tapi kejujuran dan kesungguhan harus dilatih. Kejujuran dan kesungguhan itulah yang kadang orang lupa. Tapi, akan jadi hal berharga di masa depan kalian nanti. Jadi, paman mau kasih hadiah juga ke kalian yang sudah jujur dan sungguh-sungguh belajarnya”

Kesatuan pemahaman antara orang tua dengan anak menjadi kunci keberhasilan mempersiapkan diri menerima apapun hasil dari usaha yang dilakukan. Dengan catatan, orang tua dan anak saling menghargai, membuka diskusi, saling berlapang hati agar tidak ada pihak yang dihakimi ketika terjadi kegagalan atau kekalahan. Maka, bersiaplah untuk setiap peristiwa. Bersiaplah untuk kecewa jika harapan disandarkan selain pada Allah. Wallahu a’lam.

Depok, 6 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad