Jangankan Dirimu

Jangankan dirimu, orang-orang sholih itu pun seperti dihujani peluru. Dikatakan begini dan begitu. Jika benar arah hidupmu hanyalah untuk Allah, mengapa risau dengan perkataan yang melemahkanmu? Urus saja amalmu, perbaiki segala compang-camping keimananmu. Sesekali tengok kembali hatimu, periksa adakah ia berdebu ataukah malah telah hitam tersebab kelalaianmu?

Jangan, jangan sibuk pada amalan orang lain. Sibuk saja dengan amalanmu, amal apa yang akan kau bawa menghadap Rabb-mu? Amalan apa yang kau yakin mendapat tempat di sisi Rabb yang menggenggam hati dan jiwamu?

Boleh saja kau melihat amalan orang lain, bercermin apakah amalanmu sudah sebaik amalan mereka? Bukan malah mencaci, menghina amalannya yang kau anggap menyelisihi agama. Setiap orang berproses dalam perjalanan hijrahnya, tak hadir seketika seolah sihir yang mengelabuhi pandangan mata. Bukan, bukan tak boleh kau mengajak pada yang haq, hanya saja ada adabnya agar mereka bisa tersentuh hatinya.

Jika kau sudah bisa asyik berkhusyuk menyimak nasehat dalam majelis ilmu, jangan patahkan semangat mereka yang mulai mencintai Islam dari tempat yang jauh dari tempat dudukmu mendengarkan nasehat guru. Biarkan mereka mengenal Islam perlahan, dalam rangkulan tali persaudaraan. Bukankah selama hayat di kandung badan masih terbuka pintu ampunan? Maka biarkan mereka, dan aku berjalan pelan dalam penghambaan, meniti langkah-langkah kecil meneguhkan iman.

Semoga Allah istiqomahkan langkah kami menjadi hamba beriman, dengan adab, ilmu dan amal menjaga kemuliaan Islam. Baarokallahufiikum

Al Faqir, Hajiah.

Depok, 18 Juli 2017

ChitChat #1

“Ummi cuma gak mau di awal jalan aja udah nolak berkah dengan hal-hal yang dianggap sepele sama orang lain, sedangkan itu penting banget buat ummi. Ummi mau meminimalisir itu Mba. Biar berkah dari awal sampai akhirnya nanti”. Seorang shalihah menuturkan kalimat agak panjang pertama kali sejak pertama bertemu. Dia memang tak banyak cakap sepertiku. Ketika menyampaikan hal itu, matanya penuh harap dan sesekali memandang langit-langit yang berwarna agak gelap di temaram lampu dalam sangkar burung khas dekorasi shabby chic.

Dalam batinku,  berbisik pelan “Kamu harus konsisten menjadikan segala kebaikan sebagai pengundang barokah, jangan sampai Allah marah”. Terlibat di agenda sakral nan khidmat sebuah akad dan resepsi pernikahan menjadi ladang amal baru bagiku. Ketika awal 2016 lalu menerima ajakan kawan merintis usaha wedding organizer, tekadku hanya satu yang kami jadikan tagline, Mudahkan Sunnah Menikah. Dengan harapan, Allah memberkahi setiap kebaikan yang coba kami tanam.

Dan siang itu, seperti sedang diuji. Diuji kesungguhan untuk menjaga agar barokah itu tetap Allah limpahkan. Masyaallah, terima kasih shalihah, semoga Allah mudahkan segala urusan kita dan menjadikan kita golongan orang yang istiqomah menjaga ketaatan kepada-Nya. Tak silau kenikmatan dunia, tak lena fatamorgananya.

Baarokallahufiikum.

Depok, 6 Juli 2017

Hajiah M. Muhammad

Hmm.

Selain skripsi dan beberapa karya tulis ilmiah yang pernah ditulis, bisa diselesaikan meski dengan durasi yang tak sebentar. Tapi saya ingat, pernah menulis tugas kuliah bisa selesai dalam sepekan karena dosennya termasuk yang menyeramkan. Kata seorang kawan, “Kita itu sebenarnya kreatif, tapi sayang harus dipecut dulu. Nah seharusnya, setiap orang punya pecut sendiri biar gak nunggu dipecut”. Saya pun meng-iya-kan tanda sepaham.

Sedikit banyak kawan tersebut memang mempengaruhi paradigma saya tentang semangat. Tentang harapan-harapan yang seakan mustahil diwujudkan. Tentang hati yang harus lebih kuat meski diterpa berbagai ujian. Termasuk juga tentang mengelola humor. Tapi untuk bagian kelola humor, saya masih jauh di bawah tingkatnya. Dia selalu punya bahan candaan ketika berjumpa, sedangkan saya masih identik dengan citra serius dan mengerutkan dahi.

Hmm.

Batas Waktu

“…..Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran [3]:185)

Hanya saja, tak seorang pun tahu batas waktu hidupnya untuk kemudian mati dan dihidupkan kembali pada keadaan yang kekal di hari akhir nanti.

Sesekali saat merenung, saya terpikir bagaimana kondisi ketika jiwa ini mengakhiri masa berlakunya di dunia. Dan ketika itu, yang ada di pikiran adalah bagaimana kehidupan anak-anak tanpa saya? Bagaimana suami mengurus dan mendidik mereka tanpa saya? Seketika itu pula saya terhentak. Adalah diri ini yang lebih patut dipikirkan, bagaimana kehidupan setelah kematian di dunia ketika sampai pada batas waktunya? Apa yang bisa dibawa sebagai bekal? Apa yang sudah dipersiapkan agar kelak tak gelap dalam kubur? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran, membuat persendian cekot-cekot, itu baru membayangkan, bagaimana jika memang sudah harus berpulang Ya Rabb, faghfirli, faghfirli Ya rabbi…

Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)

Tempa

Dalam sebuah tausiyahnya, Abdullah Gymastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym menganalogikan kehidupan orang-orang beriman dengan perjalanan sebuah kelapa menjadi santan.

Untuk menjadi santan yang putih bersih, kelapa melalui perjalanan panjang. Ditempa agar menghasilkan santan terbaik yang berkualitas. Di awal, untuk mendapatkan kelapa kita perlu memanjat pohon yang tinggi, tertiup angin ketika di atas pohon. Kita harus memastikan bahwa pijakan kita kuat, pegangan kita kokoh agar tak hanyut dalam buai lembut semilir angin di ketinggian. Begitulah seorang muslim, ketika mulai mencicipi hasil dari apa yang diharapkan harus tetap fokus pada tujuan, yaitu memetik keridhoan Allah. Tidak terbawa sanjung puji, tidak tumbang meski dicaci maki.

Setelah kelapa berhasil dipetik, ia tidak dibawa turun dengan pelan. Melainkan dijatuhkan dari ketinggian. Ada yang jatuh di tempat rerumputan yang tebal dan nyaman, ada pula yang jatuh di kubangan sisa air hujan. Belum selesai rasa sakit jatuh dari ketinggian, kelapa harus siap ditebas untuk dikupas. Ditarik serabut kelapa dari batoknya. Srek srek srek. Keras! Agar serabut tercabut bersih dari batok kelapa. Lantas yang sudah dibersihkan serabutnya, mesti dilanjutkan proses yang menyakitkan lagi. Dibelah batoknya, dicungkil kelapanya. Apakah selesai? Tidak, masih harus diparut! Dan kemudian diperas sekuat tenaga agar mengalir dari lapis-lapis parutan air santan yang siap diolah.

Sedikit banyak begitulah perjuangan menjadi seorang muslim yang kuat. Ditempa sesuai kadar kemampuannya, diuji dan dibersihkan dosa dengan peluh dan lelah payahnya. Masyaallah, begitu sayang Allah kepada orang-orang yang beriman. Disajikan ujian untuk mendapat peningkatan kualitas iman, peningkatan kualitas takwa. Semoga kita selalu menghadirkan Allah di setiap waktu, di setiap hirup napas kehidupan. Terima kasih Allah, segala ujian yang Kau berikan akan kujadikan jalan meniti keimanan.

Depok, 20 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Assalamu’alaykum, ya ukhti

Assalamu’alaykum ya ukhti, saudariku yang dirahmati Allah. Semoga hari-harimu indah, penuh cita dan cinta. Semoga hatimu damai, penuh taat yang tersemai. Adik manis yang menawan akhlaknya, yang tertunduk pandangannya, semoga kau berkenan menerima ungkapan sayang dalam tulisan yang agak panjang. Ohya, sebelum jauh menyampaikan, perkenalkan aku adalah Hajiah.

Alhamdulillah sudah menikah, alhamdulillah lagi, menikah tanpa pacaran sebelumnya. Alhamdulillah ketika menikah usiaku menginjak angka 22 tahun, usia yang cukup matang bagi seorang perempuan untuk menyelesaikan studinya di bangku kuliah. Terlalu matang, mungkin. Keinginan menikah di usia yang relatif muda mulai terpikir ketika usiaku 18 tahun. Dan ketika itu aku dikenal sebagai pribadi yang galak, serius, selera humor rendah, dan label menyebalkan lainnya. Tahu kenapa? Karena aku selalu naik pitam ketika mendapati cerita teman yang pacaran, baik pacaran dengan jelas maupun sembunyi karena malu dengan aktivitasnya di kerohanian Islam.

Tahun 2007, aku diminta untuk menulis sebuah artikel. Artikel bebas sebenarnya, hanya sebagai stimulasi agar terbiasa menulis dan mempertanggungjawabkannya di sebuah event pelajar. Entah kenapa aku membuat tulisan tentang alasan kenapa gak pacaran. Tapi hari ini, aku takkan mengulangnya. Jika ingin membacanya bisa mampir ke tulisan saya di blog ini. Sebagian orang yang mengenalku sejak pertama kali hijrah mungkin pun masih ingat betapa garangnya seorang Hajiah. Tapi itu dulu, sebelum banyak belajar, sebelum banyak mendengar. Maka hari ini, perkenankan aku ungkapkan kecintaan padamu saudariku.

Saudariku yang dirahmati Allah, tahukah betapa berharganya dirimu? Dengan segala karunia Allah yang diberikan padamu, dengan segala penjagaan Allah terhadap makhluk-Nya yang wanita? Saudariku sayang, dirimu sungguh bernilai dengan ilmu dan keindahan akhlak yang jadi perhiasanmu. Maka jangan rusak itu dengan segores rasa kagum dan takjub pada seorang yang melenakanmu. Melenakanmu dalam bujuk rayu berbalut ilmu, dalam nasehat yang katanya untuk menjaga keistiqomahanmu. Saudariku sayang, sungguh ketika itu telah berlaku, bersegeralah basahi lisan dengan dzikirmu, dengan lantunan merdu tilawahmu. Atau hal paling ringan yang mungkin bisa segera dilakukan adalah basuh dengan air wudhu, semoga tergugur maksiat yang mulai mengganggu.

Saudariku yang kusayangi karena Allah, ketika bisik-bisik syetan terasa begitu menggelayut pada hati yang mulai terpaut, bersegeralah mohon ampun pada Allah yang menguasai qalbu. Jangan biarkan keterpautan itu bersemayam tanpa ikatan yang disyariatkan. Jangan biarkan keterpautan itu bertandang lebih lama lalu kau mati terbunuh perasaan sedangkan ijab qabul belum dilaksanakan.

Saudariku yang dirahmati Allah, ketika hati mulai tak tentu arah, jadi gelisah dan pikiran pun kacau menambah masalah. Bersegeralah mengingat betapa kasih sayang Allah jauh lebih menentramkan, menenangkan. Allah tanamkan cinta dalam hati kita untuk menambah pundi pahala dengan taat, bukan mencicil dosa dengan maksiat. Meski tak seorang pun melihat, ingatlah bahwa Allah maha menyaksikan, para malaikat pun tak pernah alpa membuat catatan. Maka biarkanlah berlalu jika ada seseorang tak halal yang memberi perhatian, abaikan segala kebaikannya, jangan sampai kau terbawa pesona hingga kau lupa dan semakin terlena.

Sungguh saudariku sayang, jerat-jerat syetan begitu halus mempermainkan hati manusia. Terlebih mereka yang jauh dari ketaatan terhadap Allah. Maka jika hati mulai goyah dan mudah bersandar kepada selain Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga segala yang dilakukan hanya yang Allah ridhoi, hanya yang Allah sukai.

Saudariku yang dirahmati Allah, menikah adalah ibadah. Memulai perjalanannya adalah separuh agama. Tidakkah kau ingin meneguk segarnya dengan jalan yang penuh barokah? Tentu bukan dengan bermesra dengan lawan jenis, bukan dengan saling melempar sapa dan doa kepada ia yang bukan pasangan halalmu. Maafkan aku harus sampaikan, jangan kau umbar cintamu yang suci itu kepada orang yang mengaku mencintaimu tapi tak menikahimu. Ia adalah pengecut, ia adalah pembual. Jemputlah kenikmatan dan karunia Allah dalam pernikahan dengan jalan yang disyariatkan, ataukah kau mau jodohmu Allah lempar penuh kemurkaan?

Mohon maafkan segala yang telah kutuliskan, semoga Allah berkahi setiap upaya penjagaan bagi mereka yang bersabar menuju jenjang pernikahan tanpa pacaran. Baarokallaahufiikum.

Depok, 19 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad