Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)

Tempa

Dalam sebuah tausiyahnya, Abdullah Gymastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym menganalogikan kehidupan orang-orang beriman dengan perjalanan sebuah kelapa menjadi santan.

Untuk menjadi santan yang putih bersih, kelapa melalui perjalanan panjang. Ditempa agar menghasilkan santan terbaik yang berkualitas. Di awal, untuk mendapatkan kelapa kita perlu memanjat pohon yang tinggi, tertiup angin ketika di atas pohon. Kita harus memastikan bahwa pijakan kita kuat, pegangan kita kokoh agar tak hanyut dalam buai lembut semilir angin di ketinggian. Begitulah seorang muslim, ketika mulai mencicipi hasil dari apa yang diharapkan harus tetap fokus pada tujuan, yaitu memetik keridhoan Allah. Tidak terbawa sanjung puji, tidak tumbang meski dicaci maki.

Setelah kelapa berhasil dipetik, ia tidak dibawa turun dengan pelan. Melainkan dijatuhkan dari ketinggian. Ada yang jatuh di tempat rerumputan yang tebal dan nyaman, ada pula yang jatuh di kubangan sisa air hujan. Belum selesai rasa sakit jatuh dari ketinggian, kelapa harus siap ditebas untuk dikupas. Ditarik serabut kelapa dari batoknya. Srek srek srek. Keras! Agar serabut tercabut bersih dari batok kelapa. Lantas yang sudah dibersihkan serabutnya, mesti dilanjutkan proses yang menyakitkan lagi. Dibelah batoknya, dicungkil kelapanya. Apakah selesai? Tidak, masih harus diparut! Dan kemudian diperas sekuat tenaga agar mengalir dari lapis-lapis parutan air santan yang siap diolah.

Sedikit banyak begitulah perjuangan menjadi seorang muslim yang kuat. Ditempa sesuai kadar kemampuannya, diuji dan dibersihkan dosa dengan peluh dan lelah payahnya. Masyaallah, begitu sayang Allah kepada orang-orang yang beriman. Disajikan ujian untuk mendapat peningkatan kualitas iman, peningkatan kualitas takwa. Semoga kita selalu menghadirkan Allah di setiap waktu, di setiap hirup napas kehidupan. Terima kasih Allah, segala ujian yang Kau berikan akan kujadikan jalan meniti keimanan.

Depok, 20 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Assalamu’alaykum, ya ukhti

Assalamu’alaykum ya ukhti, saudariku yang dirahmati Allah. Semoga hari-harimu indah, penuh cita dan cinta. Semoga hatimu damai, penuh taat yang tersemai. Adik manis yang menawan akhlaknya, yang tertunduk pandangannya, semoga kau berkenan menerima ungkapan sayang dalam tulisan yang agak panjang. Ohya, sebelum jauh menyampaikan, perkenalkan aku adalah Hajiah.

Alhamdulillah sudah menikah, alhamdulillah lagi, menikah tanpa pacaran sebelumnya. Alhamdulillah ketika menikah usiaku menginjak angka 22 tahun, usia yang cukup matang bagi seorang perempuan untuk menyelesaikan studinya di bangku kuliah. Terlalu matang, mungkin. Keinginan menikah di usia yang relatif muda mulai terpikir ketika usiaku 18 tahun. Dan ketika itu aku dikenal sebagai pribadi yang galak, serius, selera humor rendah, dan label menyebalkan lainnya. Tahu kenapa? Karena aku selalu naik pitam ketika mendapati cerita teman yang pacaran, baik pacaran dengan jelas maupun sembunyi karena malu dengan aktivitasnya di kerohanian Islam.

Tahun 2007, aku diminta untuk menulis sebuah artikel. Artikel bebas sebenarnya, hanya sebagai stimulasi agar terbiasa menulis dan mempertanggungjawabkannya di sebuah event pelajar. Entah kenapa aku membuat tulisan tentang alasan kenapa gak pacaran. Tapi hari ini, aku takkan mengulangnya. Jika ingin membacanya bisa mampir ke tulisan saya di blog ini. Sebagian orang yang mengenalku sejak pertama kali hijrah mungkin pun masih ingat betapa garangnya seorang Hajiah. Tapi itu dulu, sebelum banyak belajar, sebelum banyak mendengar. Maka hari ini, perkenankan aku ungkapkan kecintaan padamu saudariku.

Saudariku yang dirahmati Allah, tahukah betapa berharganya dirimu? Dengan segala karunia Allah yang diberikan padamu, dengan segala penjagaan Allah terhadap makhluk-Nya yang wanita? Saudariku sayang, dirimu sungguh bernilai dengan ilmu dan keindahan akhlak yang jadi perhiasanmu. Maka jangan rusak itu dengan segores rasa kagum dan takjub pada seorang yang melenakanmu. Melenakanmu dalam bujuk rayu berbalut ilmu, dalam nasehat yang katanya untuk menjaga keistiqomahanmu. Saudariku sayang, sungguh ketika itu telah berlaku, bersegeralah basahi lisan dengan dzikirmu, dengan lantunan merdu tilawahmu. Atau hal paling ringan yang mungkin bisa segera dilakukan adalah basuh dengan air wudhu, semoga tergugur maksiat yang mulai mengganggu.

Saudariku yang kusayangi karena Allah, ketika bisik-bisik syetan terasa begitu menggelayut pada hati yang mulai terpaut, bersegeralah mohon ampun pada Allah yang menguasai qalbu. Jangan biarkan keterpautan itu bersemayam tanpa ikatan yang disyariatkan. Jangan biarkan keterpautan itu bertandang lebih lama lalu kau mati terbunuh perasaan sedangkan ijab qabul belum dilaksanakan.

Saudariku yang dirahmati Allah, ketika hati mulai tak tentu arah, jadi gelisah dan pikiran pun kacau menambah masalah. Bersegeralah mengingat betapa kasih sayang Allah jauh lebih menentramkan, menenangkan. Allah tanamkan cinta dalam hati kita untuk menambah pundi pahala dengan taat, bukan mencicil dosa dengan maksiat. Meski tak seorang pun melihat, ingatlah bahwa Allah maha menyaksikan, para malaikat pun tak pernah alpa membuat catatan. Maka biarkanlah berlalu jika ada seseorang tak halal yang memberi perhatian, abaikan segala kebaikannya, jangan sampai kau terbawa pesona hingga kau lupa dan semakin terlena.

Sungguh saudariku sayang, jerat-jerat syetan begitu halus mempermainkan hati manusia. Terlebih mereka yang jauh dari ketaatan terhadap Allah. Maka jika hati mulai goyah dan mudah bersandar kepada selain Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga segala yang dilakukan hanya yang Allah ridhoi, hanya yang Allah sukai.

Saudariku yang dirahmati Allah, menikah adalah ibadah. Memulai perjalanannya adalah separuh agama. Tidakkah kau ingin meneguk segarnya dengan jalan yang penuh barokah? Tentu bukan dengan bermesra dengan lawan jenis, bukan dengan saling melempar sapa dan doa kepada ia yang bukan pasangan halalmu. Maafkan aku harus sampaikan, jangan kau umbar cintamu yang suci itu kepada orang yang mengaku mencintaimu tapi tak menikahimu. Ia adalah pengecut, ia adalah pembual. Jemputlah kenikmatan dan karunia Allah dalam pernikahan dengan jalan yang disyariatkan, ataukah kau mau jodohmu Allah lempar penuh kemurkaan?

Mohon maafkan segala yang telah kutuliskan, semoga Allah berkahi setiap upaya penjagaan bagi mereka yang bersabar menuju jenjang pernikahan tanpa pacaran. Baarokallaahufiikum.

Depok, 19 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Perantara

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ketika memutuskan untuk menjadi perantara, saya berjanji kepada Allah untuk selalu menjaga hati. Bukan hanya hati sendiri, tapi juga hati-hati yang terlibat dalam sebuah proses. Hati ikhwan, hati akhwat, termasuk hati orang tua dan guru mengajinya. Komitmen itu insyaallah masih saya genggam kuat hingga detik ini. Menjaga hati tetap tenang, tetap bergantung hanya kepada Allah. Maka hampir setiap kali dilibatkan atau sengaja melibatkan diri dalam sebuah proses, saya katakan bahwa saya hanya membantu semampunya. Tidak bisa menjanjikan apa-apa, agar hati kita hanya bersandar kepada Allah, agar segala harap hanya tertuju pada Allah. Jangan desak saya untuk mengatakan hal-hal yang memang saya simpan, hanya karena ingin menjaga semua tetap mendapat percik-percik berkah meski proses yang dijalani tak sampai menikah. Ya, proses yang saya maksudkan adalah ta’aruf. 

Saudaraku, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah, kepada para guru berilmu, kepada orang tua yang kepadanya rasa takzimku. Saya hanya orang yang mengais berkah dengan menjadi perantara. Tidak ada yang meminta, tak ada yang memaksa. Maka mari jaga bersama hati kita untuk berbaik sangka, untuk menjadikan Allah tujuan utama segala niat baik yang ingin dilaksana.

Ketika sebuah proses berjalan kemudian berakhir, biasanya saya katakan kepada para ikhwan dan akhwat untuk tidak menanyakan alasan dari masing-masing pihak. Maksud hati agar tidak melukai, maksud hati agar alasan yang terkadang dan cukup sering menyakitkan itu biar saya simpan sendiri. Bagaimana saya menyampaikannya? “Bismillah, setelah istikhoroh dan diskusi dengan orang tua, pihak ikhwan tidak jadi melanjutkan prosesnya. Semoga Allah berkahi setiap kebaikan yang sudah diniatkan dan telah diikhtiarkan”, atau, “Bismillah, shalihah yang dirahmati Allah, prosesnya dicukupkan ya. Ikhwannya memutuskan untuk menghentikan proses. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita”. Kemudian biasanya akan ditanya oleh mereka, “Boleh tau alasannya?”, “Mohon maaf, saya gak bisa sampaikan alasannya. Insyaallah untuk menjaga hati”. Kalau tetap dipaksa, bahkan sampai menelepon, maka saya pastikan dulu ia telah menyiapkan hati agar tidak terluka. Setelah itu, saya sampaikan alasannya. Tapi biasanya saya memilih untuk tidak menyampaikan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, ketika kita mengikhtiarkan kebaikan, Allah menguji kesabaran, kesungguhan, ketundukpatuhan. Jalannya tak selalu menyenangkan. Jalannya tak melulu meneduhkan. Ada yang berlubang, ada yang masih perlu diperbaiki untuk bisa dilalui. Maka sabar, gigih dan tawakal menjadi keharusan bekal yang terus dibawa hingga akhir perjalanan. Semoga Allah karuniakan kita kesabaran yang lapang, kesungguhan yang kokoh dan ketawakalan yang tak berkesudahan.

Baarokallaahufiikum.

Depok. 19 Juni 2017

Penyakit Juru Dakwah

Siang tadi berkesempatan diskusi singkat dengan salah seorang adik tingkat di kampus. Cerita yang ia sampaikan seketika mengingatkan saya pada sebuah nasihat dari seorang Sa’id Hawwa. Iya, saya masih membaca intisari Ihya’ Ulumuddin yang Sa’id Hawwa susun dari karya Imam Ghazali. Tidak lain sebagai pengingat bahwa apa yang telah saya baca semoga melekat erat dalam ingatan dan mendatangkan barokah serta manfaat, terkhusus bagi pribadi yang fakir ilmu ini.

Adik tingkat tersebut menyampaikan kurang lebih begini, “Wah ka, kok jadi ingat ada kejadian serupa ya. Jadi ada kajian kemuslimahan, pembicaranya bukan dari kalangan orang yang liqo tarbiyah. Dan koordinator keputriaannya ditegur sama senior, diminta untuk membatalkan kajian tersebut. Padahal, pembicaranya hafidzah ka, udah selesai 30 juz dengan mutqin. Beliau sering ngisi kajian fiqh muslimah dan shiroh di ta’lim umum”. Sebelum ia bercerita, saya baru saja mengungkapkan kesedihan karena ada segelintir orang yang memberikan label kepada ulama, sehingga ulama yang lain diragukan keilmuannya. Mendengar cerita itu, seketika saya berujar, “Sombong banget seniornya, ngerasa lebih baik dari ibu yang sudah jadi hafidzhoh dan berani memutus kerja sama hanya karena beliau gak ngaji tarbiyah? Penyakit itu! Penyakit dakwah”.

Iya, saya katakan itu adalah penyakit dakwah. Oh bukan, itu bukan penyakit dakwah, tapi penyakit da’inya. Dan dakwah akan rapuh jika kita terbelenggu pada satu kelompok. Fanatisme golongan seakan menjadi hal lumrah yang biasa terjadi, tapi tidak semestinya begitu. Lantas, bagaimana seharusnya dengan berbagai perbedaan dari masing-masing golongan? Setidaknya ada hal sederhana yang bisa saya simpulkan dan sudah saya yakini sejak beberapa tahun terakhir.

Menerima segala kebaikan dan pelajaran yang disampaikan oleh guru, sekalipun berbeda golongan. Dengan catatan, guru tersebut memiliki aqidah yang lurus, dalil-dalil yang kokoh, akhlak yang terpuji sehingga bisa menjadi teladan bagi murid. Karena salah satu tanda orang yang sombong adalah menolak kebenaran. Mungkin juga kita perlu ingat salah satu adab murid kepada gurunya adalah tidak bersikap sombong (tidak mengambil hikmah/ilmu) dari selain gurunya. Bukankah kebenaran bisa datang dari siapa saja?

Saudaraku yang dirahmati Allah, kita berhak memilih dengan siapa kita belajar. Tapi kita pun harus ingat bahwa sebagai murid, ketika ada orang berilmu dengan kerelaan hati membagikan ilmunya, maka hendaklah kita menghormatinya. Jika pun kita tak sepakat dengan apa yang disampaikannya, jangan halangi orang-orang untuk mengambil ibroh dan ilmu dari pengajarannya. Baarokallahufiikum.

Adab, Ilmu dan Amal

Banyak orang berilmu tapi tak beradab, tak beramal. Ada yang beramal tanpa ilmu, pun tak beradab. Ada yang beradab, punya ilmu tapi tak beramal. Ada pula yang berilmu dan beramal tapi tak beradab. Kita ada di mana? Menyeimbangkan ketiganya dalam langkah menjadi keharusan. Maka akan tumbuh para ‘alim yang tawadhu, kata-katanya penuh nasehat, tindakannya penuh hikmah.

Sa’id Hawwa menuturkan bahwa selama seorang guru tidak menumbuhkan ketaatan, yang utuh dari murid, membiasakannya beribadah dan merealisasikan ketakwaan muridnya, maka sesungguhnya sang guru belum melakukan sesuatu. Titik awal hal tersebut terletak pada ihtirom (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) dari murid kepada gurunya. Maka dalam konsep tazkiyatun nafs yang disusun oleh Sa’id Hawwaa dari intisari Ihya’ Ulumuddin dibuka dengan kajian tentang adab murid dan guru. Mari kita susuri pemaparan Al Ghazali mengenai hal tersebut.

  1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada keburukan akhlak dan sifat. Ilmu adalah ibadahnya hati, sholatnya jiwa, dan peribadatan batin kepada Allah. Menjaga jiwa dari segala bentuk maksiat, sekuat jiwa untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan Allah. Kemudian berpegang teguh pada agama Allah agar tergolong orang-orang selamat yang menjaga kebaikan akhlak, dan menjauhkan diri dari segala sifat ahli maksiat.
  2. Mengurangi keterikatan hati dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukan dan memalingkan. Fokus! Kata itulah yang sering disampaikan agar setiap murid mampu mencerna ilmu secara menyeluruh. Al Ghazali mengutip perkataan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu  maka kamu berarti dalam bahaya”. Imam Ghazali menambahkan, pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian yang lain dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul.
  3. Bersikap rendah hati kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang kepada mereka. Asy Sya’bi berkata, “Zaid bin Tsabit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segela mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, “Lepaskanlah wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk bersikap kepada ulama dan tokoh”. Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berlaku kepada kerabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam”. (HR. Tabrani, al Hakim, Baihaqi dalam al Makhdal. Al Hakim berkata, shahih sanadnya berdasarkan syarat Muslim). Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongan adalah sikap tidak mau mengambil pelajaran selain dari guru yang besar dan terkenal, padahal sesungguhnya sikap itu adalah merupaakan kebodohan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Diantara hak seorang guru adalah tidak memegangi kainnya ketika ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya”.
  4. Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Karena hal tersebut akan membingungkannya, membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan telaah lebih mendalam. Bahkan, pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji baru kemudian mendengarkan berbagai pendapat (mazhab).
  5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika cukup kesempatan yang dimilikinya, maka ia harus berusaha mendalami berbagai cabang ilmu, tetapi jika harus menekuni yang paling penting di antara cabang ilmu tersebut, maka itu pun dibolehkan. Karena satu cabang ilmu dengan ilmu lain saling mendukung dan terkait satu sama lain.
  6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi dengan menjaga susunannya agar sesuai dengan maslahat yang akan didapatkan dari ilmu tersebut. Ilmu yang dimaksudkan Imam Ghazali adalah suatu bentuk keyakinan yang merupakanhasil cahaya yang Allah hujamkan ke dalam hati seorang hamba yang telah menyucikan jiwanya melalui mujahadah (perjuangan).
  7. Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang ditempuh sebelumnya. Ilmu merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Hendaklah tujuan dalam setiap ilmu yang dicari adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. Sehingga tidak mudah menghakimi ketika seorang yang lebih berilmu melakukan penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan beberapa orang dalam ilmu tersebut, menganggap kebatilan yang fatal.
  8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Kemuliaan yang dimaksud adalah kemuliaan hasil dan kekokohan dalil. Hal ini mencakup berbagai cabang ilmu, terutama ilmu agama.
  9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan memperindah batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Dengan demikian, diharapkan para penuntut ilmu berusaha menjaga ilmunya bukan hanya untuk menghasilkan kekuasaan, harta, jabatan atau membodohi orang dan membanggakannya kepada sesama orang yang berilmu. Melainkan, ilmu yang dimilikinya menjadi jalan menuju pertemuan dengan Allah dan orang-orang sholih di akhirat kelak.
  10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan mempelajarinya. Sebaik-baik ilmu yang dipelajari adalah yang mampu menjadikan kita pribadi yang mampu menghimpun antara kesenangan dunia dan kenikmatan akhirat maka kita berharap semoga ilmu yang dipelajari bukan hanya memberikan maslahat ketika hidup di dunia, tetapi juga mendatangkan rahmat di akhirat yang berkekalan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, dari uraian singkat tersebut di atas, semoga kita dapat memetik hikmahnya sehingga menambah barokah di tiap usaha kita menuntut ilmu. Sungguh beruntung orang-orang yang memadukan adab, ilmu dan amal dalam kesehariannya, menjadikannya pribadi yang berakhlak terpuji, ilmunya mumpuni, amalnya diberkahi, insyaallah.

Depok, 13 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Baper #3

Satu hari nanti, saat banyak orang larut dalam haru kebahagiaan, akulah orang yang tetap dalam diam. Memerhatikan sekitar dengan pandangan menerawang. Melepaskan pandang dan meninggikannya menuju langit. Mencegah bendungan air mata tumpah. Sebab aku tak pandai menyembunyikannya meski dalam keramaian.

Satu hari nanti, saat banyak orang larut dalam syahdu khidmat sebuah akad, akulah orang yang tetap dalam tunduk. Merenung, mengingat betapa segala perjuangan dan pengorbanan Allah beri ganjaran jauh lebih baik dari yang diharapkan.

Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda. Sebab berhasil yang sesungguhnya adalah ketika tetap berjuang meski orang lain melemahkan, sebab berhasil yang sesungguhnya adalah ketika tetap berjalan meski orang lain mematahkan. Kehidupan seorang muslim bukanlah seperti air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, yang mengikuti sifat ruangnya. Menjadi muslim punya tuntunan, punya aturan. Ada ketentuan yang mesti dilakukan, ada larangan yang harus ditinggalkan.

Depok, 7 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad