Tersambar Petir

“Kamu belum layak mengaku telah berjuang mengejar impian jika kau belum berjuang bangun di sepertiga malam. Bermunajat dalam pengharapan yang dalam. Mengiba, meminta kekuatan dari Pemilik alam raya. Memohon kucuran berkah dan keridhoan dari Dzat Maha Kuasa atas segalanya”

Waktu pagi beberapa hari yang lalu. Merenungi kalimat petir yang menyambar meski hujan tak memberikan kabar. Petir yang menggelegar, membangunkan keterpurukan, membangkitkan kelesuan perjuangan. Kalimat dari siapa itu? Dari seorang fakir yang dhoif, Hajiah. Loh kok bisa? Iya bisa. Kamu pun bisa menyemangati diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita kembali kepada Allah, menyerahkan segala keluh kesah kepada-Nya, insyaallah tanpa dicari, tanpa dikejar. Semangat itu begitu menyulutkan api semangat berkobar. Percayalah, yakinilah. Sebab, jika dengan Allah saja kita tak yakin, bagaimana mungkin bisa menaruh kepercayaan kepada selain Allah? Lemah tanpa daya selain dari-Nya.

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. (HR. Muslim)

Hajiah M. Muhammad

Depok, 26 Januari 2018

Advertisements

Pelipur Lara

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [QS. Yunus (10):57]

Membuka tulisan sederhana dengan ayat pelipur lara. Sebaik-baik bacaan, sebaik-baik teman perjalanan, ialah Al Qur’an. Sejujurnya, saya sangat malu menuliskannya disini, tapi semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada saya.

Saya bersaksi bahwa Al Qur’an adalah penawar segala penyakit yang bersarang dalam hati. Segala sakit yang muncul karena ulah tangan perbuatan manusia itu sendiri. Dalam hati-hati yang lalai, dalam hati-hati yang terluka karena kezaliman yang dilakukan oleh orang itu sendiri.

Maka ketika ada yang mengeluhkan kehidupannya, saya tekankan agar lebih dulu mendekatkan diri kembali pada Allah. Tilawah, tadabbur sedalam-dalam penghayatan. Sampai hati merasa kembali tenang. Jika sudah tilawah dan tadabbur tapi masih merasa kesakitan, artinya kita belum sepenuhnya berniat mengobati luka dalam hati. Ada ketentraman yang begitu menyejukan, ada kebahagiaan yang begitu meneduhkan ketika kita memaknai ayat-ayat dengan ketulusan, dengan ketunduk-patuhan kepada Ar Rahman. Seakan dibelai, dipeluk erat hingga kita merasa begitu dekat meski mata tak mampu melihat Dzat Yang Maha Melihat.

Masyaallah, semoga kecintaan kepada qur’an, interaksi kita dengan huruf-hurufnya menjadikan syafaat dari qur’an kelak didapatkan. Allahummarhamna bil qur’an. 

Sabar

Sikap sabar menahan amarah lebih baik di sisi Allah sekalipun kita sangat memungkinkan untuk menumpahkannya. Siapa pun punya kesempatan emas nan istimewa untuk berada disisi Allah jika dia mampu bersabar menahan amarahnya karena mengharapkan keridhoan Allah. Hal tersebut seperti sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, Tidak ada seorang pun hamba terluka hatinya sehingga tidak menjadi lebih baik di sisi Allah kecuali dia mampu bersabar menahan amarahnya karena mengharap ridha Allah semata” (HR. Ahmad dalam Musnad, 2/128; Ibnu Majah, 4189)

Masyaallah, begitu baik Allah memberikan kita peluang amal dari banyak ladang. Dan salah satunya dengan sikap sabar. Kita seperti diberi angin sejuk, bahkan mungkin lebih menentramkan daripada itu. Karena balasan yang Rasulullah jamin melalui sabdanya sangat luar biasa. Apakah perkataan dari Al Amin diragukan kebenarannya? Saya rasa tidak. Maka Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam memberikan teladan dengan sebaik-baik teladan.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 19 Januari 2018

Ketinggalan?

Sekitar tahun 2012, tahun dimana saya merasa begitu kehilangan semangat, ingin menyerah dan mengumpat segala hal. Menyalahkan orang lain tidak mungkin, menyalahkan diri sendiri pun terasa menyakitkan. Hingga akhirnya saya memilih untuk diam sesaat, ehm…, tepatnya beberapa saat karena sempat menghilang dari peredaran. Saya menghubungi orang-orang yang sekiranya dapat memberikan motivasi, menyemangati dan sengaja menghubungi orang yang tidak kenal langsung dengan saya. Saya hanya ingin dapat keobjektivitasan orang-orang tersebut tentang suasana hati saya ketika itu. Tapi nihil. Karena memang tak seharusnya saya menghubungi mereka. Pihak pertama yang seharusnya saya hubungi adalah Allah, bukan yang lain. Di saat seperti itulah saya seperti disambar petir. Mengaku tawakal tapi meletakan Allah di belakang. Mengaku beriman tapi menjadikan Allah yang terakhir jadi pilihan. Sebaik-baik tempat bersandar adalah Allah. Dan itu pelajaran paling berharga yang saya dapatkan selama diliputi perasaan lemah tak berdaya ketika itu dan insyaallah terus sampai nanti.
Baru kemudian, satu per satu solusi Allah berikan. Dan di antara satu kisah yang masih saya ingat adalah yang akan saya bagikan disini. Obrolan singkat dengan seseorang yang tetiba melintasi pikiran saya ketika itu. Semoga Allah merahmati dan menjaganya selalu.
Mba, salam kenal. Saya Hajiah. Hmm…, mungkin mba gak kenal dengan saya. Tapi sedikit banyak saya mengenal mba lewat tulisan-tulisan mba. Semoga Allah memberkahi mba dan keluarga selalu. Dan mohon maaf, jika perkenalan saya terkesan menyebalkan dan mengganggu waktunya. Saya mau tanya, gimana menjaga kesyukuran itu tetap ada dalam hati dan menjadikannya motivasi diri? Jazaakallah ahsanal jaza atas kesediaan dan jawabannya 🙂 Semoga Allah memberkahi mba & keluarga senantiasa..baarakallaahufiikum 🙂
“Saya coba membantu ya. Menjaga kesyukuran agar tetap dalam hati adalah mengingat kembali apa tujuan akhir dalam hidup kita. Jika kita akan selalu hidup dan tak pernah mati, wajar saja jika kita tak mau bersyukur. Namun jika kita menyadari bahwa apapun yang kita miliki itu atas pemberian atau kasih sayang Allah kepada kita, maka dengan sendirinya kita akan selalu bersyukur. Lain halnya dengan sesuatu yang kita miliki ataupun keberhasilan yangg kita dapati adalah atas usaha kita sendiri dan merasa tidak ada campur tangan Allah, biasanya orang tersebut akan kufur nikmat. Minder adalah sebuah pilihan dalam hidup. Jika kamu memilih untuk minder maka ambilah seluruh konsekuensi yang akan terjadi, misal selalu dijadikan bahan perbandingan negatif dengan orang-orang sukses. Tapi jika kamu tidak siap menerima konsekuensi yang ada, maka jangan minder. Semoga bisa menjadi renungan bersama, termasuk saya pribadi”
Ya, semoga bisa menjadi renungan bersama, termasuk saya pribadi. Diri sendirilah yang paling berhak menentukan akan kemana kaki dilangkahkan, akan seperti apa masa depan yang ingin dicapai kemudian. Tak peduli dengan berbagai halang rintangan, yakin Allah berikan kemudahan. Jika kita mengaku beriman, usaha dan doa haruslah beriringan. Tak mengapa jika merasa ketinggalan, tapi pastikan ketertinggalan kita tak membuat langkah henti, tak membuat langkah mati. Baarokallaahufiikum, semoga Allah mudahkan segala urusan.
Hajiah M. Muhammad
Depok, 17 Januari 2018

Khusyuk

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” [QS. Al Baqarah (2):45)

Sudah khusyuk-kah shalatku? Satu tanya yang malu untuk dijawab, pun takut jika jawaban tak sesuai dengan realita kehidupan penghambaan. Shalat yang khusyuk, sejatinya adalah masa-masa terbaik untuk bermesra dengan Allah. Ia adalah waktu teristimewa untuk menumpahkan segala rasa, suka dan duka. Kesenangan pun kesedihan yang melanda. Tak banyak orang yang mampu merasainya, tersebab khusyuk yang benar adalah ketundukan hati kepada Allah ta’ala, mengagungkan kekuasaan-Nya, takut dan malu, serta harap yang disertai permohonan ampun atas segala dosa. Penuturan yang demikian syahdu bisa kita temukan dalam kitab Ar Ruh karya Ibnu Qayyim rahimallahu ‘anhu.

Masih dalam kitab Ar Ruh, Ibnu Qayyim menerangkan sikap yang membuat kita malu dan hati semakin tunduk kepada Allah secara perlahan, saat penyesalan akan kemaksiatan yang pernah dilakukan, penuh harap ampunan dan kasih sayang Allah, maka saat itulah hati menjadi khusyuk. Adapun khusyuk yang semu, maka itulah kemunafikan iman. “Organ tubuh terlihat mengerjakan hal-hal yang dipaksakan dan hati tidak khusyuk. Salah seorang sahabat berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari khusyuk kemunafikan’. Ditanyakan kepada sahabat itu, ‘Apa itu khusyuk kemunafikan?’ Sahabat itu menjawab, ‘Tubuh terlihat khusyuk, tapi hati tidak tunduk’

Shalat yang khusyuk akan membentuk pribadi yang kokoh, pribadi dengan akhlak yang mempesona para malaikat-Nya, pribadi yang menjaga diri dari segala yang melalaikannya dari mengingat Allah. Maka itulah shalat menjadi pekerjaan yang berat, berat karena untuk mendapat kekhusyukan, bukan berat karena dianggap sebagai beban. Justru, shalat adalah yang akan meringankan segala yang berat, yang akan memudahkan segala yang sulit, yang melapangkan segala yang sempit. Dan shalat, adalah sarana kita melatih jiwa untuk jujur dengan keimanan, agar tak menjadi hamba yang munafik dalam kekhusyukan. Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 15 Januari 2018

Mematahkan Logika

Bagaimana mungkin muslimah yang dijaga dan sangat dilindungi dalam Islam dengan sengaja menjatuhkan kehormatannya? Hari ini, kita hidup di zaman yang serba canggih dengan teknologi dan beragam perangkat yang memudahkan kegiatan manusia. Hanya saja, pemikiran yang tak diimbangi dengan penghayatan nilai-nilai keislaman seperti kuda pacuan yang lepas dari ikatan. Berlari sesuka hati, menjadi lepas kendali. Pun demikian dengan manusia yang telah Allah karuniakan akal. Tapi tidak untuk menentang Allah dan Rasul-Nya, bukan juga untuk membuat ragu orang banyak agar mengikuti kesesatan pikiran mereka. Siapa yang hendak kita diskusikan?

Saya tidak tahu persis apa sebutan dan gelar yang layak untuk orang yang meragukan kemuliaan Al-Qur’an dan mengkampanyekan bahwa Al-Qur’an tidak lagi seperti pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang masih murni dan suci. Al-Qur’an perlu direvisi, ditinjau ulang kebenaran dan keabsahannya. Padahal, Al-Qur’an bukanlah naskah buku yang akan diterbitkan kemudian diedit ulang, bukan pula skripsi mahasiswa yang berulang kali revisi sebelum akhirnya dibukukan. Bukan. Jelas Al-Qur’an terjaga dari dulu hingga nanti. Allah yang menjamin, adakah jaminan yang lebih menjaga selain jaminan dari Allah?

Orang yang meragukan atau bahkan memperolok ayat-ayat Allah sudah ada sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Maka tidak heran jika dewasa ini kita dapati orang-orang seperti itu. “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang senantiasa mereka perolok-olokkan”. [QS. Al-Mukmin (40):83]. Ayat yang sedemikian tegas yang Allah sampaikan akan sulit diterima oleh mereka yang hatinya tertutup, mereka yang hatinya gelap dan sulit menemukan cahaya kebaikan yang Allah sampaikan dalam firman-firman-Nya.

“Dan tidak mungkin  Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (Al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam” [QS. Yunus (10):37]. Tidak ada keraguan di dalam Al-Qur’an, tidak sama sekali. Tapi mereka, meniupkan pikiran-pikiran jahiliyah agar umat kebingungan dan mengikuti apa yang mereka sebarkan baik lewat ucapan maupun tulisan. Ini yang kemudian menjadi renungan bagi kita yang mengaku beriman dan punya keberanian untuk menyatakan bahwa yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam Totalitas Islam yang dikutip oleh Solikhin Abu Izzudin dalam Tarbiyah Dzatiyah menyebutkan diantara keutamaan menuntut ilmu bagi orang beriman adalah sebagai sarana untuk membedakan antara yang haq dan bathil. Maka tidak cukup bagi seseorang berilmu tanpa didasari keimanan. Apalagi jika kita merujuk pada bagaimana akhlak seorang muslim ketika menuntut ilmu adalah juga diawali dengan adab sehingga ilmu yang didapat menjadi cahaya, menjadikan pemiliknya semakin dekat dengan Allah. Bukan sebaliknya, karena sering dijumpai orang berilmu yang tak beradab, mereka menjadikan ilmu sebagai senjata untuk merusak Islam dari dalam. Dan tidak menyadari sindiran Allah tentang mereka di dalam Al-Qur’an.

“Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), “Teruskanlah berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan  mengungkapkan apa yang kamu takutkan itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena bertaubat), niscaya Kami akan mengazab sebagian golongan yang lain, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa”. {QS. At-Taubah (9):64-66].

Mengapa kita perlu mematahkan logika orang-orang yang demikian Allah sebut sebagai golongan munafik? Karena kita punya amanah besar untuk menjaga risalah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tetap lurus, tidak tergerus perkembangan zaman. Muhammad bin Hasan Aqil Musa Syarif -dalam karyanya Shaleh Tapi Tak Berdaya Guna-, mengatakan bahwa diantara kemunduran peradaban Islam hari ini karena orang-orang sholeh dan dan cerdas berdiam diri. Asyik dengan kesibukannya dan membiarkan umat terombang-ambing keyakinannya terhadap ayat-ayat Allah yang dipermainkan kaum munafik dan kafir. Ketidakberdayaan, Muhammad bin Hasan menyebutkannya, bukan hanya kelemahan daya juang orang sholeh nan cerdas, tapi karena mereka tidak mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan umat. Sehingga musuh-musuh Islam bisa dengan mudah menyerang pemikiran umat dari berbagai aspek kehidupan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mematahkan logika kaum munafik? Pertama, meningkatkan kapasitas keilmuan dan keimanan agar memiliki senjata untuk melawan jika memang harus berperang. Dan jangan salah, perang kita dengan mereka hari ini bukan lagi mengangkat pedang, karena anak-anak panah bisa kita lesatkan dari tulisan, dari karya-karya yang gemilang. Imam Nawawi rahimallahu ‘anhu, adalah contoh pemuda Islam yang memiliki senjata keilmuan sehingga ia mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang hingga hari ini masih dapat kita baca dan pelajari. Tutup usia pada angka relatif muda yaitu sekitar 45 tahun (Fawatul-Wafiyat :4/264-268). Karnyanya menyebar ke segenap penjuru dunia dan membawa maslahat bagi umat. Kedua, menjaga diri dalam ketaatan dan menjauhkan dari kemaksiatan. Pemuda Islam pada masa-masa terdahulu begitu giat dan semangat memenuhi panggilan jihad. Berlomba-lomba ada di barisan terdepan membela agama Allah, menjaga kemuliaan Islam dan membuat musuh Islam lari ketakutan. Karena apa? Mereka dekat dengan Allah, menjaga hati dan jiwanya agar selalu memiliki kekuatan untuk melawan kaum kuffar. Mereka memiliki pertahanan yang kuat, tidak mudah dikalahkan. Pelindung yang mereka miliki adalah sebaik-baik Pelindung, Penjaga mereka adalah sebaik-baik Penjaga, Allah. Apakah kita telah meneladani mereka hari ini? Jika tidak, jangankan mematahkan logika kaum munafik, justru malah kita yang terbawa dan kalah oleh mereka.

Dan terakhir, hal yang bisa kita lakukan untuk melawan musuh-musuh Islam adalah tetap berpegang teguh pada agama Allah yang lurus, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di berbagai lini kehidupan. Selalu ingat bahwa Islam adalah sebaik-baik kapal yang bisa kita gunakan untuk berlayar mengarungi kehidupan dunia dan akhirat. Jangan kalah dengan bujuk rayu syetan berwujud manusia munafik kaum liberal. Mereka telah menggadaikan aqidahnya demi kesenangan dunia yang melenakan, menjual agama demi kenikmatan dunia yang tak berkekalan. Maka selisihilah mereka dengan iman yang kokoh, dengan takwa yang sebenar-benar takwa, tidak ada keraguan sedikitpun agar segala yang ada dalam diri kita dapat dipersembahkan kepada Allah untuk memeluk Islam hingga ajal menjelang.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 12 Januari 2018

 

Seperti Apa Dikenang (?)

Setiap orang berhak menentukan kemana langkah kakinya berjalan, kemana arah pikiran dan hatinya dimuarakan, tapi semoga kita adalah mereka yang digolongkan orang-orang yang meninggalkan jejak kebaikan sehingga hanya kebaikan dan kebaikan yang dikenang setelah kita berpulang. Maka menjadi keharusan bahwa setiap kita akan pulang dengan atau tanpa kebaikan. Dan itulah yang akan membedakan setelah tiada. Atau, sebelum ketiadaan itu datang pun kita dapat menakar bagaimana orang lain akan mengenang diri ini. Selayaknya bertanya kepada nurani, apakah yang hendak ditinggalkan dan layak menjadi kenangan? Tentu, kenangan yang meneduhkan, menyisakan kebaikan yang tak berkesudahan.