Untukmu, Ji

Memasuki pekan tiga puluh tujuh usia kandungan ketiga, merasa begitu sumringah. Bukan, bukan karena semakin dekat dengan hari perkiraan lahir. Melainkan, pada kehamilan yang sekarang, Allah izinkan saya untuk menjadi bagian dari beragam agenda kebaikan. Innalhamdalillah. 

Dan hari ini, hari pertama di bulan Mei 2018, sengaja mengulang nasyid dari Brothers, Untukmu Teman. Membuka lembar demi lembar kenang perjuangan dari sebelum mengenal Islam hingga hari ini.

Saya mulai hijrah pada usia yang agak telat, yaitu sekitar 18 tahun. Hijrah dalam artian benar-benar memaknai Islam sebagai keyakinan bukan sebatas agama yang dianut. Betul memang, saya terlahir di dalam keluarga yang memeluk Islam dan sangat bersyukur atas hal itu. Tapi lebih jauh, saya lebih bersyukur karena Allah menuntun langkah pencarian ini sampai bisa seperti sekarang yang insyaallah jauh lebih baik jika dulu saya tidak memilih jalan ini.

Jalan cinta para pejuang, jalan cinta orang-orang yang bukan hanya memikirkan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya melainkan juga memikirkan orang-orang yang bahkan tak mengenalnya sebagai siapa. Dan saya, lebih bahagia ketika menjadi seperti mereka. Kebaikan terus dilakukan tanpa menoleh untuk mencari penghargaan, untuk mencari penghormatan. Sebab semua dilakukan sebagai bentuk kecintaan pada agama yang mulia ini.

Meneladani perjuangan Rasulullah shallallahu álayhi wasallam dan para sahabat tentulah melelahkan tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan untuk mengambil satu atau dua kebaikan dari mereka untuk dijadikan panutan. Menjadikan semangat perjuangan dari mereka sebagai pecut ketika langkah mulai lemah, ketika melaksanakan amanah terasa begitu menjemukan.

Lelah boleh, menyerah jangan. Itulah yang seringkali saya tekankan ke dalam diri sendiri ketika ingin mundur dan seakan beban terasa begitu memberatkan. Tapi ternyata, di antara sebab perasaan seperti itu hadir adalah karena kurangnya interaksi kita kepada Allah. Adapun shalat dan amalan-amalan yang dilakukan baru sampai diujung lisan sehingga tidak memberikan kekuatan, tidak memberikan kesejukan pada hati yang mungkin gersang.

Advertisements

Monolog #3

Menikmati dengan segala dinamika menjadi seperti ini. Saya tidak tahu amalan unggulan apa yang akan dijadikan pemberat amal di hari perhitungan, maka sekecil apapun kebaikan yang dapat dilakukan, sebaik-baiknya ditunaikan. Sungguh, ada kebahagiaan yang tak dapat dijelaskan, tak dapat dijawantahkan dalam kata. Semua terasa begitu menyejukan meski terkadang ada rasa ingin berhenti dan mundur perlahan. Tapi kemudian melangkah lagi meskipun pelan, tertatih dan mencari kekuatan. Dan kekuatan itu bersandar pada Allah sebaik-baik sandaran.

Tidak ada yang mampu menghentikanmu hingga Allah mencukupkan waktumu. Memanggilmu pulang dalam berbagai keadaan, dalam ketundukan sebagai hamba ataukah dalam keingkaran.

Tetaplah berprasangka baik pada Allah, teruslah memberikan yang terbaik sebagai hamba-Nya. Sejatinya, perjalanan hari ini dan kemarin adalah apa yang bisa kita nikmati di akhirat nanti.

Ungkapan Rindu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ahad itu tampak mendung seperti melukiskan keadaan hati yang tampak murung. Kepada hati, ku berbisik pelan, “Niatkan perjalanan hari ini untuk kebaikan”. Perjalanan yang sebenarnya menuju ke resepsi pernikahan kawan lama dan salah seorang yang berjasa di perjalanan hidup seorang Hajiah.

Pukul sepuluh kurang lima belas menit, merapikan keping-keping hati sebelum akhirnya memulai perjalanan, menghadiri resepsi pernikahan seorang yang pernah melukai hati dan juga pernah saya sakiti. Sampai sekitar tahun 2012 kami bertemu kembali seperti tidak pernah ada luka di hati. Saling rangkul, saling mendekap, larut dalam haru kerinduan setelah terakhir bertemu tahun 2005 dengan luka yang masih begitu terasa. Tapi tidak ketika kami bertemu kembali di tahun 2012.

Segala luka seakan menguap, seiring perjalanan yang membuat kami lebih dewasa menyikapi segala masalah. Lega sekali rasanya, saling melempar senyum dengan hati yang tak kalah sumringahnya. Manis dan terasa sangat menyejukan. Sampai disini, saya tak tahu kosa kata apa yang harus diketik untuk mendeskripsikan perasaan hati yang begitu bahagia. Innalhamdalillah, sungguh segala pujian hanya bagi Allah.

Dan kemarin, pada hari pernikahannya. Haru biru itu begitu terasa. Dengan balutan gaun putih khas pengantin, dengan mahkota kecil dan senyuman serta sapaan khas darinya yang tumpah bersama tetes-tetes sejuk di mata. Kami kembali melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Memanfaatkan waktu yang tak lama itu untuk mendekapnya lebih erat, mendoakan semoga barokah dan barokah senantiasa Allah limpahkan untuknya, untuk keluarga yang akan ia mulai dan juga untuk segala kebaikan yang ia lakukan.

Ia pernah begitu melukai hati, tapi lebih banyak kebaikan yang ia beri. Ia pernah begitu mengesalkan, tapi lebih banyak saya tersenyum juga melepas berbagai kegundahan. Manis pahit kisah kami menjadi pelajaran yang hingga kini, bagi kami seperti bentuk kasih sayang Allah yang tak berkesudahan. Sungguh, saya masih rindu. Dan ingin sekali mendekapnya lebih erat dari hari Ahad yang lalu. Semoga Allah memberkahi ia selalu.

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imron (3) : 133-134)

**********

Depok, 23 April 2018

Hajiah M. Muhammad

Alasan Kedatangan

Ada sebuah riwayat tentang salah seorang sahabat yang sudah tidak muda namun memiliki semangat menuntut ilmu yang begitu menggebu. Sahabat itu adalah Qubaishah bin Al Makhariq radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya, dikisahkan perjumpaan Qubaishah dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam sebuah majelis ilmu.

Qubaishah radhiyallahu ‘anhu ditanya oleh baginda shallallahu ‘alayhi wasallam, “Wahai Qubaishah, apa yang menyebabkan engkau datang?”. Qubaishah menjawab, “Usiaku telah tua, tulangku juga telah lemah, aku mendatangimu (wahai Rasulullah) agar engkau ajarkan aku sesuatu yang Allah ta’ala berikan manfaatnya bagiku”. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Wahai Qubaishah, tidaklah engkau melewati batu, pohon ataupun lembah melainkan semuanya beristighfar (memohonkan ampunan) untukmu. Wahai Qubaishah, jika engkau telah melaksanakan shalat shubuh maka bacalah subhanallahil ‘azhiim wa bi hamdih (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala pujian bagi-Nya), niscaya engkau akan terhindar dari kebutaan (rabun), lepra, dan kelumpuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melanjutkan sabdanya, “Wahai Qubaishah, bacalah doa ini, 

اللهم انى اسالك مما عندك فأفض على من فضلك, وانسر على رحمتك, وانزل على من بركا تك

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon apa yang ada di sisi-Mu, limpahkanlah karunia-Mu kepadaku, tebarkanlah rahmat-Mu kepadaku, curahkanlah keberkahan-Mu kepadaku” (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

*********

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At Tirmidzi no: 3895)

Hadits tersebut disampaikan sebagai pembuka bahasan siraman ruh siang itu, sebagai prolog dari materi yang kemudian lebih banyak menyinggung bagaimana suami dan istri agar memiliki akhlak yang baik, sekalipun hadits tersebut lebih ditekankan kepada kaum adam sebagai suami.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai teladan terbaik bagi umat Islam, memiliki akhlak yang begitu mulia baik di dalam maupun di luar rumahnya. Salah seorang sahabat yang bernama Aswad bin Yazid mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tidak segan melayani keluarganya sekalipun ia adalah seorang pemimpin bahkan seorang utusan Allah. Beliau menambahkan bahwa tidak ada beda sikap antara Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika di luar atau di dalam rumahnya. Akhlaknya tetap menawan seperti al-qur’an berjalan.

Kebanyakan orang, bisa menjaga akhlaknya ketika di luar rumah bersosialisasi dengan masyarakat luas, tetapi menjadi hilang kendali ketika sudah sampai rumah dan berhadapan dengan keluarganya. Inilah contoh munafik ijtima’i atau munafik sosial. Maka untuk mengetahui kesungguhan akhlak yang dimiliki seseorang dapat kita lihat pada dua hal yang menurut jumhur ulama, dari dua hal tersebut akan terlihat baik-buruknya akhlak yang dimiliki seseorang. Pertama, ketika sedang marah dan kedua ketika seorang diri.

Bagi suami dan istri, sudah pasti dapat melihat bagaimana sikap pasangannya ketika sedang marah. Apakah akhlaknya tetap baik ataukah sebaliknya. Maka yang perlu dilakukan adalah senantiasa berzikir.

وَعَنْ كَعْبٍ بْنِ عُجْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ :(( مُعَقِّباتٌ لاَ يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ – أَوْ فَاعِلُهُنَّ – دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلاثٌ وَثَلاثونَ تَسْبِيحَةً. وَثَلاثٌ وثَلاَثونَ تَحْمِيدَةً ، وَأرْبَعٌ وَثَلاَثونَ تَكْبِيرَةً )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada beberapa kalimat pengikut yang tidak akan merugikan orang yang mengucapkannya—atau melakukannya—di akhir setiap shalat wajib (yaitu), tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir.” (HR. Muslim) (HR. Muslim, No. 597).

Hadits tersebut di atas merupakan salah satu dalil yang merupakan keistimewaan zikir. Dalam melakukan aktivitas harian sebagai ibu rumah tangga misalnya, kita bisa melafazkan zikir dan insyaallah akan meredam amarah. Entah amarah kepada suami atau istri, atau dari orang tua ke anak.

Ada kisah menarik dari Ummul Mukminiin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau cemburu kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang bernama Shafiyah binti Huyay bin Akhtab. Dari Aisyah, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang pandai masak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasulullah SAW, yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar kerena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata,”Wahai Rasulullah, apa tebusan atas apa yang aku lakukan ini?”. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam  menjawab, “Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama”, (ditakhrij dari Abu Daud dan An-Nasa’i).

Di antara hal yang mampu meredam amarah kepada pasangan adalah juga dengan memberikan panggilan kecintaan sehingga ketika amarah mulai muncul, panggil suami atau istri dengan penuh kelembutan. Jangan sampai syetan tertawa menyaksikan kita kalah mengendalikan amarah.

**********

Anak-anak di masa yang akan datang adalah bagaimana orang tua mendidiknya di masa sekarang. Berikut merupakan upaya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua dalam mendidik.

  1. Memperdengarkan ayat-ayat qur’an.

    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


    Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al Jumu’ah ayat 2)

  2.  Menanamkan keimanan.

    آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ


    Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS. Al Baqarah ayat 285)

  3.  Memperdengarkan hal-hal yang membawa kebaikan.

     لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus ayat 26)

**********

Demikian resume dari taujih yang disampaikan Ustadz Ahmad Fikri, Lc., pada kesempatan silaturahim kami di Pabrik Peradaban. Sekilas tentang Pabrik Peradaban, ini adalah ruang maya di platform WhatsApp yang kami dirikan sekitar tahun 2013 dan alhamdulillah masih bertahan dengan segala dinamikanya hingga hari ini.

 

Depok, 16 April 2018

Hajiah M. Muhammad

 

Curhat Kesekian

Saya tidak tahu sampai kapan dengan “pekerjaan” seperti ini. Meski tak jarang dicaci maki atau dianggap mempermainkan hati, hanya bermohon semoga setiap kekhilafan diri Allah ampuni. Sungguh, apa yang selama ini dijalani adalah bagian dari upaya merancang masa nanti dengan amalan yang seadanya ini. Ya, saya ingin menjadi bagian dari perjalanan orang-orang mendapatkan pasangan hidupnya, menemukan pelengkap separuh agamanya dengan jalan yang semoga Allah ridhoi.

Menjadi perantara tidak ada yang menyuruh, pun tidak ada yang meminta. Saya menjalaninya dengan harapan bahwa ini menjadi amal shalih yang dapat memberatkan timbangan kebaikan di yaumil hisab kelak. Kadang ada perasaan ingin berhenti, berkata dalam hati dan menegaskan pada diri sendiri “Sudah cukup! Berhentilah! Janji ini untuk terakhir kali”. Tapi nyatanya, sampai saat ini masih menikmati perjalanan yang cukup menyita pikiran dan hati *ceileh* >.<

Cadar Dilarang Beredar (?)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan segala hormat, sebelumnya saya hendak sampaikan permohonan maaf jika dalam kesempatan ini akan terkesan seperti orang yang lancang kepada para orang berilmu di UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta. Semoga Allah membukakan mata hati kita agar dapat melihat lebih terang, agar dapat menyerap hikmah lebih dalam. Pun permohonan maaf saya sampaikan kepada saudari muslimah sekalian yang mengenakan cadar dalam kesehariannya, sungguh, tulisan ini bukan untuk menjatuhkan salah satu pihak atau malah kedua pihak. Tulisan ini dipersembahkan sebagai bahan renungan bagi semua, tak terkecuali saya pribadi.

Sebelum lebih jauh pada pembahasan, hal seperti ini memang sangat disayangkan karena terjadi di kampus yang memakai nama Islam di dalamnya. Namun, kita pun perlu bijak menyikapi promblema ini agar tidak salah langkah atau justru memperkeruh suasana. Maka, ada baiknya kita memperbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah, semoga dengan istighfar itu menjadikan hati dan pikiran lebih tenang.

Saya sempat dikejutkan dengan sebaran informasi yang berisi larangan penggunaan cadar di kampus UIN Suka Yogyakarta, dengan perihal surat mengenai pembinaan kepada mahasiswi yang menggunakan cadar di kampus. Sambil coba mengingat-ingat siapa kawan yang masih berkuliah disana, saya pun mencoba cari kebenaran informasi tersebut dan boom! Beliau membenarkan bahwa ada pembinaan yang akan diberikan kepada mahasiswi bercadar. Dibina seperti apa? Dibina agar mau melepaskan cadarnya di dalam kelas dan jika tidak, terpaksa mahasiswi itu dipecat dan dipersilakan mencari kampus lain yang membolehkan mahasiswinya bercadar. Hal itu sesuai dengan surat rektor dengan nomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018.

Bagaimana bisa kampus Islam melarang mahasiswinya bercadar? Wakil Rektor UIN Suka, Sahiron Syamsuddin, mengungkapkan, pelarangan cadar tersebut tak terlepas dari alasan pedagogis. Menurut dia, jika mahasiswinya tetap menggunakan cadar di dalam kelas, para dosen tentu tidak bisa membimbingnya dengan baik dan pendidiknya tidak dapat mengenali wajah mahasiswinya. Alasan yang menurut saya sangat lucu karena keluar dari lisan seorang yang berilmu. Dan alasan tersebut adalah alasan yang juga mengundang banyak pro dan kontra.

UIN Suka Yogyakarta memang mengusung Islam moderat dalam prakteknya, akan tetapi apakah alasan pedagogis tersebut bisa dibenarkan? Mengingat, kampus lain seperti UGM, UII dan UMY tidak mempermasalahkan mahasiswi yang bercadar dengan alasan apapun. Di UII, ada salah seorang alumni dari fakultas kedokteran yang mengenakan cadar hingga hari ini. Beliau adalah dr. Ferihana. Beliau adalah sosok muslimah berilmu yang mengenakan cadar dan tetap bisa memberikan maslahat kepada masyarakat sebagai hasil pendidikannya selama kuliah di UII. Beliau adalah pemilik Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa Yogyakarta, Dokter Muslimah Beauty Clinic, Mudarrisah di Madrosah Uwais Al Qorniy Yogyakarta.

Maka jika saya ada di pihak berwenang UIN Suka, akan tetap membiarkan mahasiswi bercadar di kelas dan belajar sebagaimana mahasiswa yang lain. Bukankah UIN Suka adalah pencetak cendikiawan Islam yang moderat? Artinya, terbuka dan tidak menjadi masalah jika hanya alasan pedagogis sehingga tidak ada pelarangan cadar di sana.

Jika saya adalah mahasiswi bercadar, saya akan tetap mempertahankan apa yang menjadi pemahaman dan keyakinan. Tidak goyah, tidak pula gentar dengan larangan atau ancaman akan dikeluarkan dari kampus. Jika memang tujuan kuliah adalah menuntut ilmu, maka dimana pun tempat belajarnya, meskipun bukan di kampus Islam seperti UIN, insyaallah akan tetap bisa meraih apa yang dicita-citakan. Insyaallah.

Dan sebagai penutup, besar harapan saya ini hanya terjadi di UIN Suka Yogyakarta, tidak dengan UIN di kota lain atau perguruan tinggi yang lain. Salam.

Hajiah M. Muhamad

Depok, 9 Maret 2018

 

Tuntutan dalam Aksi Women’s March 2018

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan mengharap berkah dan keridhoan dari Allah, saya dedikasikan tulisan ini kepada saudari muslimah yang dirahmati Allah, muslimah yang tak kenal henti untuk menjadi hamba yang taat, muslimah yang senantiasa ingin menjadi lebih baik dan tentu kepada muslimah yang membuka ruang pikirnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Menyikapi aksi Women’s March Jakarta 2018 pada tanggal 3 Maret lalu, agaknya kita memang perlu saling mendinginkan kepala agar yang mengiringi alur pikir adalah pikiran yang tenang, dan tidak saling serang. Berbeda pendapat itu sangat wajar selama kita saling menghargai satu dengan yang lain. Beda pemahaman pun sangat wajar karena setiap orang berhak menentukan dari arah mana mereka menentukan kemana arah pikirannya. Namun yang perlu diingat, dalam Islam sudah ditentukan kebebasan mengungkapkan pendapat agar sesuai dengan al qur’an dan sunnah sehingga tidak membuat kita hilang arah, apalagi sampai menantang aturan Tuhan. Mari kita mulai mengkritisi 8 (delapan) tuntutan perempuan dalam aksi Women’s March Jakarta pekan kemarin.

1.  Menghapus kebijakan yang diskriminatif dan melanggengkan kekerasan berbasis gender. 

Kebijakan yang dianggap diskriminatif dan diangkat dalam aksi adalah pasal 484 ayat (1) huruf e yang berbunyi; Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan; ayat (2) “Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan penuntutan kecuali atas pengaduan suami, istri atau pihak ketiga yang tercemar”. Permasalahan yang kemudian ingin diangkat dalam Women’s March karena dua pasal tersebut justru akan menimbulkan beragam masalah baru, di antaranya, potensi penggerebekan atas tuduhan zina. Sebelum saya tanggapi, saya ingin ingatkan bahwa yang menjadi rujukan saya adalah qur’an dan hadits juga ijma’ ulama sehingga memang diperuntukan bagi penganut agama Islam. Maka, jika pun ada tuduhan atau fitnah zina kepada seseorang, pihak yang menuduh atau melaporkan harus menghadirkan empat orang saksi (laki-laki) jika tidak bisa menghadirkan empat orang saksi, maka yang menuduh harus didera sebanyak 80 kali. Hal ini seperti firman Allah dalam surat An Nuur ayat 4, “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik berzina, dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Maka jika ada pihak-pihak yang merasa terganggu, tercemar dengan adanya perzinaan, mereka tetap tidak boleh main hakim sendiri apalagi menyebarkan berita yang belum tentu terjamin kebenarannya. Sehingga dua pasal yang dianggap bermasalah tersebut tidak merugikan siapapun. Akan tetapi menjadi payung hukum yang justru melindungi perempuan juga laki-laki agar jangan sampai tercebur ke dalam persetubuhan yang dilarang baik dari hukum negara apalagi hukum agama.

Sebagai seorang muslim dan muslimah, Allah memberikan kita perlindungan dan penjagaan dengan perintah menutup aurat. Maka sudah semestinya, baik laki-laki maupun perempuan menutup aurat, menjaga pandangan dan menjaga kemaluannya agar tidak terperosok dalam pelecehan seksual atau malah dengan sengaja melakukan persetubuhan yang memang dilarang agama. Dalam aksi Women’s March di beberapa kota, dapat kita temukan poster-poster yang diklaim sebagai aspirasi kaum perempuan. Kaum perempuan yang bingung akan identitas keislamannya. Berikut beberapa poster yang mereka bawa.

Hasil gambar untuk womens march indonesia

Gambar terkait

2. Mengesahkan hukum dan kebijakan yang melindungi perempuan, anak, masyarakat adat, kelompok difabel, kelompok minoritas gender dan seksual dari diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. 

Melindungi perempuan, anak, masyarakat adat, kelompok difabel sudah menjadi fokus kegiatan pemerintah dari tingkat kota sampai negara. Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (pasal 1 ayat 2 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Setiap Anak Penyandang Disabilitas berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial (pasal 12 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Jika kita mau mengingat kembali UUD Tahun 1945, negara sudah melindungi anak-anak. Laki-laki dan perempuan punya hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, untuk menganut kepercayaan yang diyakini. Maka sebenarnya, hukum dan kebijakan yang melindungi perempuan, masyarakat adat, anak-anak termasuk kelompok difabel sudah dilindungi oleh negara. Contoh sederhana sebagai bentuk perlindungan bagi kelompok difabel adalah dengan tersedianya toilet khusus penyandang disabilitas di tempat-tempat umum seperti trotoar, rumah sakit, terminal, dan stasiun. Dan hal yang menjadi kritisi saya adalah perlindungan bagi kelompok minoritas gender dan seksual dari diskriminasi dan kekerasan. Antara lucu tapi kesal dengan tuntutan ini karena sepertinya inilah yang lebih menjadi fokus aksi Women’s March. Hal ini bisa kita temukan pada foto-foto kegiatan aksi yang diunggah pada pelbagai akun Instagram Women’s March di beberapa kota di Indonesia.

Gambar terkait

Hasil gambar untuk womens march indonesia

Kelompok minoritas gender dan seksual yang dimaksud itu siapa? LGBT? Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, dimana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya menyesuaikan dengan sila tersebut, kan? Nah, kaum feminis mah gitu, suka buat bingung dan aneh cara berpikirnya. Mereka menolak aturan dari agama, karena katanya Indonesia bukan negara yang pakai syariat Islam sebagai dasar hukumnya. Giliran dibuat undang-undang yang gak sesuai dengan mau mereka pun ditolak. Jadi sebenarnya, kalian itu mau kemana wahai penganut feminisme? Hah?! Ini Indonesia, negara dimana keberagaman ada dan Indonesia menjadi indah dengannya. Akan tetapi, bukan berarti kita membiarkan adat ketimuran Indonesia tercemar karena segelintir golongan seperti LGBT dan atau semacamnya.

3. Menyediakan akses keadilan dan pemulihan terhadap korban kekerasan berbasis gender

Seperti telah saya sebutkan di atas, bahwa negara melindungi setiap warganya secara adil. Akan tetapi, saat ini hukum seperti tak punya nyali. Tajam ke kalangan bawah, dan tumpul ke kalangan atas. Keadilan yang sering digaungkan seakan hanya jadi isapan jempol, hanya menjadi wacana. Rakyat kecil tidak boleh tersandung kasus hukum karena akan sulit mendapatkan pembelaan jika berhadapan dengan orang berduit. Di Indonesia ada Komnas Perempuan untuk akses keadilan dan pemulihan korban kekerasan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau biasa disebut Komnas Perempuan adalah lembaga negara yang independen untuk penegakkan hak asasi manusia perempuan Indonesia. Lembaga ini dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 181 Tahun 1998, pada 9 Oktober 1998, yang diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2005. Mungkin yang menginisiasi aksi Women’s March belum tahu tentang informasi mengenai Komnas Perempuan ini, sehingga masih dijadikan tuntutan kepada pemerintah, padahal sejak lama sudah ada, hehehe.

4. Menghentikan intervensi negara dan masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas warga negara

Saya mengernyitkan dahi ketika membaca poin yang ini. Memangnya apa yang dilakukan negara kepada warganya sehingga disebut mengintervensi masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas? Kalau kamu bingung, saya juga. Hahaha. Eh mohon maaf, beneran ini saya yang terlalu polos atau bagaimana? Indonesia dengan mayoritas penganut agama Islam, membebaskan warga negaranya berpakaian seperti apa. Hanya saja, memang diharapkan setiap warga negara bertanggung jawab dengan dirinya masing-masing. Nah, yang disuarakan dalam aksi Women’s March kemarin itu sebenarnya gimana? Saya coba menangkap dari poster yang mereka angkat.

Hasil gambar untuk womens march indonesia

Saya curiga, yang mereka tuntut sebenarnya bukan pemerintah, tapi Allah sebagai Tuhan. Aturan menutup aurat, menjaga pandangan dan kemaluan itu dari Allah, bukan dari aturan negara. Termasuk tentang seksualitas. Itupun adalah ketentuan dari Allah. Fitrah laki-laki adalah menyukai perempuan, dan sebaliknya. Maka jika ada warga negara yang merasa negara mengintervensi masyarakat terhadap tubuh dan seksualitasnya, barangkali warga itu adalah bagian dari golongan yang menyimpang pemikiran dan pemahamannya.

5. Menghapus stigma dan diskriminasi berbasis gender, seksualitas dan status kesehatan

Lagi-lagi, saya menaruh curiga bahwa aksi Women’s March ini memang sengaja membela kelompok tertentu yang mendukung dan berharap ada ruang bebas bagi masyarakat LGBT. Di rumah sakit atau Puskesmas, disediakan pelayanan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan. Kaum LGBT merasa didiskriminasi karena tidak mendapat pelayanan? Coba disesuaikan lebih dahulu identitasnya agar bisa mendapat layanan kesehatan dan diakui keberadaannya oleh tenaga-tenaga kesehatan. Jadi, kita menyesuaikan diri dengan aturan yang ada. Masih ingat tidak? Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Bukan aturan yang menyesuaikan dengan keinginan masyarakat, tetapi masyarakatlah yang harus menyesuaikan diri dengan norma dan aturan yang berlaku.

6. Menghapus praktik dan budaya kekerasan berbasis gender di lingkungan hukum, kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan, dan pekerjaan

Pertama, di lingkungan hukum, sudah ada Komnas Perempuan untuk mengajukan aduan jika terjadi kekerasan. Sekarang pun sudah banyak berdiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang akan membela masyarakat yang kesulitan mendapat akses keadilan di hadapan hukum negara. Kedua, kesehatan, kegiatan mal praktik mendapat perhatian khusus dari pemerintah, termasuk adanya pidana bagi tenaga kesehatan yang terbukti melakukan kekerasan atau pelecehan kepada pasiennya. Dengan adanya ahli-ahli medis dengan berbagai spesialisasi dan diisi oleh kaum perempuan, setidaknya membuktikan bahwa pemerintah memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk menjadi ahli di bidangnya. Maka, dari pendidikan dan pekerjaan pun demikian. Secara khusus, Dr. Ali Al Ghamidi dalam bukunya memberikan sebuah pesan agar kaum muslimah mempelajari berbagai cabang ilmu dengan tetap memperhatikan kesesuaian antara kemampuan dan kondisi perempuan. Maka perempuan pun bisa tetap menjadi seorang ahli di berbagai bidang yang memang memberi kemaslahatan khusus bagi kaum perempuan.

Ketiga, kita kembali kepada aturan agama, kewajiban mencari nafkah ada di punggung laki-laki meskipun perempuan diperbolehkan mencari penghasilan sendiri. Istri Abdullah bin Mas’ud, Zainab, ikut suaminya bekerja di tempat pemintalan benang karena ingin mengeluarkan zakat maal dan menyambung silaturahim kepada suami dan yatim yang diasuh olehnya. Zainab memiliki pekerjaan, penghasilan dan menyalurkannya sebagai zakat. Ini adalah contoh hak wanita dalam pekerjaan yang bisa diteladani. Ketika seorang muslimah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sejatinya itu memang menjadi milik ia sepenuhnya. Dan bernilai ibadah jika disedekahkan atau disalurkan sebagai zakat. Inilah yang sepatutnya juga dilakukan muslimah hari ini, jadi ketika memiliki penghasilan, bukan untuk dihamburkan apalagi untuk menyaingi penghasilan yang dimiliki suami. Kaum feminis mengkampanyekan isu bahwa erempuan dianggap terbelakang karena hanya mendapat sedikit bagian. Padahal, jika mau dicermati lebih dalam, pekerjaan besar diberikan kepada laki-laki karena laki-laki memiliki tanggungan. Tidak seperti muslimah, karena muslimah berada dalam tanggungan. Jika masih gadis dan ada ayah, maka muslimah menjadi tanggungan ayahnya. Jika ayahnya sudah tidak ada, maka saudara laki-laki mukallaf yang bertanggung jawab terhadapnya. Jika sudah menikah, maka muslimah menjadi tanggungan suaminya. Dengan demikian, perempuan bisa terhindar dari tindak kekerasan atau berbagai tindak kriminalitas yang mungkin saja terjadi ketika sedang bekerja dan atau sedang dalam perjalanan berangkat dan pulang bekerja.

Jika kita mau belajar, sebenarnya saat ini tersedia banyak kesempatan bagi perempuan untuk tetap berkarya dan mengaktualisasikan kemampuannya. Bisa dengan membuka usaha dari rumah atau ikut serta kegiatan bermanfaat lainnya yang tidak mengundang orang lain berbuat kejahatan. Karena kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku tapi karena ada kesempatan pada diri calon korban.

7. Menyelesaikan akar kekerasan yaitu pemiskinan perempuan, khususnya perempuan buruh industri, konflik SDA, transpuan, pekerja migran, pekerja seks dan pekerja domestik

Semakin ke poin akhir dari tuntutan pada aksi Women’s March, kita seperti dibukakan mata bahwa aksi ini tidak sepenuhnya membela dan menyuarakan aspirasi perempuan melainkan hanya sebagian golongan yang merasa kenyamanannya terancam dengan RKUHP yang menjadi tuntutan mereka. Ada Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Bab III
Pasal 5 “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan” dan Pasal 6 “Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha”. Atau ada bab yang khusus membahas tentang perlindungan, pengupahan dan kesejahteraan dalam Bab X UU No. 13 Tahun 2003. Artinya, sudah ada payung hukum dan perempuan mempunyai hak yang sama dari perusahaan, tanpa diskriminasi.

8. Mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif menghapus praktik dan budaya kekerasan berbasis gender di lingkungan hukum, lingkungan hidup, pendidikan, dan pekerjaan

Dan terakhir, poin kedelapan yang menjadi tuntutan aksi Women’s March, masyarakat diajak berperan aktif menghapus praktik dan budaya kekerasan. Saya sepakat tapi tidak dengan kalimat setelahnya. Sedikit banyak sudah disampaikan pada poin-poin sebelumnya jika aksi ini lebih mengedepankan kepentingan kelompok minoritas seperti LGBT dan orang-orang liberal yang terbiasa melawan aturan-aturan Tuhan untuk kepentingan dan kesenangan mereka.

Itulah kedelapan tuntutan kepada pemerintah yang disuarakan Women’s March pada tahun 2018 ini. Dari kesemua tuntutan tersebut di atas, berulang kali basis gender dijadikan fokusnya. Istilah gender dapat diartikan sebagai konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin, sehingga banyak orang yang mengatasnamakan gender sebagai pembelaan atas perlakuan yang tidak diharapkan. Entah itu berupa kekerasan, pelecehan, atau dalam bentuk diskriminasi di berbagai ranah kehidupan sosial masyarakat.

Mohon maaf kepada rekan sekalian yang memiliki pandangan berbeda dengan apa-apa yang telah saya utarakan. Sejatinya, saya hanya ingin beropini dan opini tentu saja akan mengundang pro dan kontra. Maka silakan bagi yang ingin menyampaikan tanggapan balasan dari tulisan ini. Semoga Allah merahmati kita dalam iman selalu agar pikiran dan hati damai selalu.

Salam hormat,

Hajiah M. Muhammad

Depok, 8 Maret 2018