Alasan Kedatangan

Ada sebuah riwayat tentang salah seorang sahabat yang sudah tidak muda namun memiliki semangat menuntut ilmu yang begitu menggebu. Sahabat itu adalah Qubaishah bin Al Makhariq radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya, dikisahkan perjumpaan Qubaishah dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam sebuah majelis ilmu.

Qubaishah radhiyallahu ‘anhu ditanya oleh baginda shallallahu ‘alayhi wasallam, “Wahai Qubaishah, apa yang menyebabkan engkau datang?”. Qubaishah menjawab, “Usiaku telah tua, tulangku juga telah lemah, aku mendatangimu (wahai Rasulullah) agar engkau ajarkan aku sesuatu yang Allah ta’ala berikan manfaatnya bagiku”. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Wahai Qubaishah, tidaklah engkau melewati batu, pohon ataupun lembah melainkan semuanya beristighfar (memohonkan ampunan) untukmu. Wahai Qubaishah, jika engkau telah melaksanakan shalat shubuh maka bacalah subhanallahil ‘azhiim wa bi hamdih (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala pujian bagi-Nya), niscaya engkau akan terhindar dari kebutaan (rabun), lepra, dan kelumpuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melanjutkan sabdanya, “Wahai Qubaishah, bacalah doa ini, 

اللهم انى اسالك مما عندك فأفض على من فضلك, وانسر على رحمتك, وانزل على من بركا تك

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon apa yang ada di sisi-Mu, limpahkanlah karunia-Mu kepadaku, tebarkanlah rahmat-Mu kepadaku, curahkanlah keberkahan-Mu kepadaku” (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

*********

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At Tirmidzi no: 3895)

Hadits tersebut disampaikan sebagai pembuka bahasan siraman ruh siang itu, sebagai prolog dari materi yang kemudian lebih banyak menyinggung bagaimana suami dan istri agar memiliki akhlak yang baik, sekalipun hadits tersebut lebih ditekankan kepada kaum adam sebagai suami.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai teladan terbaik bagi umat Islam, memiliki akhlak yang begitu mulia baik di dalam maupun di luar rumahnya. Salah seorang sahabat yang bernama Aswad bin Yazid mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tidak segan melayani keluarganya sekalipun ia adalah seorang pemimpin bahkan seorang utusan Allah. Beliau menambahkan bahwa tidak ada beda sikap antara Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika di luar atau di dalam rumahnya. Akhlaknya tetap menawan seperti al-qur’an berjalan.

Kebanyakan orang, bisa menjaga akhlaknya ketika di luar rumah bersosialisasi dengan masyarakat luas, tetapi menjadi hilang kendali ketika sudah sampai rumah dan berhadapan dengan keluarganya. Inilah contoh munafik ijtima’i atau munafik sosial. Maka untuk mengetahui kesungguhan akhlak yang dimiliki seseorang dapat kita lihat pada dua hal yang menurut jumhur ulama, dari dua hal tersebut akan terlihat baik-buruknya akhlak yang dimiliki seseorang. Pertama, ketika sedang marah dan kedua ketika seorang diri.

Bagi suami dan istri, sudah pasti dapat melihat bagaimana sikap pasangannya ketika sedang marah. Apakah akhlaknya tetap baik ataukah sebaliknya. Maka yang perlu dilakukan adalah senantiasa berzikir.

وَعَنْ كَعْبٍ بْنِ عُجْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ :(( مُعَقِّباتٌ لاَ يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ – أَوْ فَاعِلُهُنَّ – دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلاثٌ وَثَلاثونَ تَسْبِيحَةً. وَثَلاثٌ وثَلاَثونَ تَحْمِيدَةً ، وَأرْبَعٌ وَثَلاَثونَ تَكْبِيرَةً )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada beberapa kalimat pengikut yang tidak akan merugikan orang yang mengucapkannya—atau melakukannya—di akhir setiap shalat wajib (yaitu), tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir.” (HR. Muslim) (HR. Muslim, No. 597).

Hadits tersebut di atas merupakan salah satu dalil yang merupakan keistimewaan zikir. Dalam melakukan aktivitas harian sebagai ibu rumah tangga misalnya, kita bisa melafazkan zikir dan insyaallah akan meredam amarah. Entah amarah kepada suami atau istri, atau dari orang tua ke anak.

Ada kisah menarik dari Ummul Mukminiin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau cemburu kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang bernama Shafiyah binti Huyay bin Akhtab. Dari Aisyah, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang pandai masak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasulullah SAW, yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar kerena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata,”Wahai Rasulullah, apa tebusan atas apa yang aku lakukan ini?”. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam  menjawab, “Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama”, (ditakhrij dari Abu Daud dan An-Nasa’i).

Di antara hal yang mampu meredam amarah kepada pasangan adalah juga dengan memberikan panggilan kecintaan sehingga ketika amarah mulai muncul, panggil suami atau istri dengan penuh kelembutan. Jangan sampai syetan tertawa menyaksikan kita kalah mengendalikan amarah.

**********

Anak-anak di masa yang akan datang adalah bagaimana orang tua mendidiknya di masa sekarang. Berikut merupakan upaya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua dalam mendidik.

  1. Memperdengarkan ayat-ayat qur’an.

    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


    Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al Jumu’ah ayat 2)

  2.  Menanamkan keimanan.

    آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ


    Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS. Al Baqarah ayat 285)

  3.  Memperdengarkan hal-hal yang membawa kebaikan.

     لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus ayat 26)

**********

Demikian resume dari taujih yang disampaikan Ustadz Ahmad Fikri, Lc., pada kesempatan silaturahim kami di Pabrik Peradaban. Sekilas tentang Pabrik Peradaban, ini adalah ruang maya di platform WhatsApp yang kami dirikan sekitar tahun 2013 dan alhamdulillah masih bertahan dengan segala dinamikanya hingga hari ini.

 

Depok, 16 April 2018

Hajiah M. Muhammad

 

Advertisements

Curhat Kesekian

Saya tidak tahu sampai kapan dengan “pekerjaan” seperti ini. Meski tak jarang dicaci maki atau dianggap mempermainkan hati, hanya bermohon semoga setiap kekhilafan diri Allah ampuni. Sungguh, apa yang selama ini dijalani adalah bagian dari upaya merancang masa nanti dengan amalan yang seadanya ini. Ya, saya ingin menjadi bagian dari perjalanan orang-orang mendapatkan pasangan hidupnya, menemukan pelengkap separuh agamanya dengan jalan yang semoga Allah ridhoi.

Menjadi perantara tidak ada yang menyuruh, pun tidak ada yang meminta. Saya menjalaninya dengan harapan bahwa ini menjadi amal shalih yang dapat memberatkan timbangan kebaikan di yaumil hisab kelak. Kadang ada perasaan ingin berhenti, berkata dalam hati dan menegaskan pada diri sendiri “Sudah cukup! Berhentilah! Janji ini untuk terakhir kali”. Tapi nyatanya, sampai saat ini masih menikmati perjalanan yang cukup menyita pikiran dan hati *ceileh* >.<

Cadar Dilarang Beredar (?)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan segala hormat, sebelumnya saya hendak sampaikan permohonan maaf jika dalam kesempatan ini akan terkesan seperti orang yang lancang kepada para orang berilmu di UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta. Semoga Allah membukakan mata hati kita agar dapat melihat lebih terang, agar dapat menyerap hikmah lebih dalam. Pun permohonan maaf saya sampaikan kepada saudari muslimah sekalian yang mengenakan cadar dalam kesehariannya, sungguh, tulisan ini bukan untuk menjatuhkan salah satu pihak atau malah kedua pihak. Tulisan ini dipersembahkan sebagai bahan renungan bagi semua, tak terkecuali saya pribadi.

Sebelum lebih jauh pada pembahasan, hal seperti ini memang sangat disayangkan karena terjadi di kampus yang memakai nama Islam di dalamnya. Namun, kita pun perlu bijak menyikapi promblema ini agar tidak salah langkah atau justru memperkeruh suasana. Maka, ada baiknya kita memperbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah, semoga dengan istighfar itu menjadikan hati dan pikiran lebih tenang.

Saya sempat dikejutkan dengan sebaran informasi yang berisi larangan penggunaan cadar di kampus UIN Suka Yogyakarta, dengan perihal surat mengenai pembinaan kepada mahasiswi yang menggunakan cadar di kampus. Sambil coba mengingat-ingat siapa kawan yang masih berkuliah disana, saya pun mencoba cari kebenaran informasi tersebut dan boom! Beliau membenarkan bahwa ada pembinaan yang akan diberikan kepada mahasiswi bercadar. Dibina seperti apa? Dibina agar mau melepaskan cadarnya di dalam kelas dan jika tidak, terpaksa mahasiswi itu dipecat dan dipersilakan mencari kampus lain yang membolehkan mahasiswinya bercadar. Hal itu sesuai dengan surat rektor dengan nomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018.

Bagaimana bisa kampus Islam melarang mahasiswinya bercadar? Wakil Rektor UIN Suka, Sahiron Syamsuddin, mengungkapkan, pelarangan cadar tersebut tak terlepas dari alasan pedagogis. Menurut dia, jika mahasiswinya tetap menggunakan cadar di dalam kelas, para dosen tentu tidak bisa membimbingnya dengan baik dan pendidiknya tidak dapat mengenali wajah mahasiswinya. Alasan yang menurut saya sangat lucu karena keluar dari lisan seorang yang berilmu. Dan alasan tersebut adalah alasan yang juga mengundang banyak pro dan kontra.

UIN Suka Yogyakarta memang mengusung Islam moderat dalam prakteknya, akan tetapi apakah alasan pedagogis tersebut bisa dibenarkan? Mengingat, kampus lain seperti UGM, UII dan UMY tidak mempermasalahkan mahasiswi yang bercadar dengan alasan apapun. Di UII, ada salah seorang alumni dari fakultas kedokteran yang mengenakan cadar hingga hari ini. Beliau adalah dr. Ferihana. Beliau adalah sosok muslimah berilmu yang mengenakan cadar dan tetap bisa memberikan maslahat kepada masyarakat sebagai hasil pendidikannya selama kuliah di UII. Beliau adalah pemilik Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa Yogyakarta, Dokter Muslimah Beauty Clinic, Mudarrisah di Madrosah Uwais Al Qorniy Yogyakarta.

Maka jika saya ada di pihak berwenang UIN Suka, akan tetap membiarkan mahasiswi bercadar di kelas dan belajar sebagaimana mahasiswa yang lain. Bukankah UIN Suka adalah pencetak cendikiawan Islam yang moderat? Artinya, terbuka dan tidak menjadi masalah jika hanya alasan pedagogis sehingga tidak ada pelarangan cadar di sana.

Jika saya adalah mahasiswi bercadar, saya akan tetap mempertahankan apa yang menjadi pemahaman dan keyakinan. Tidak goyah, tidak pula gentar dengan larangan atau ancaman akan dikeluarkan dari kampus. Jika memang tujuan kuliah adalah menuntut ilmu, maka dimana pun tempat belajarnya, meskipun bukan di kampus Islam seperti UIN, insyaallah akan tetap bisa meraih apa yang dicita-citakan. Insyaallah.

Dan sebagai penutup, besar harapan saya ini hanya terjadi di UIN Suka Yogyakarta, tidak dengan UIN di kota lain atau perguruan tinggi yang lain. Salam.

Hajiah M. Muhamad

Depok, 9 Maret 2018

 

Tuntutan dalam Aksi Women’s March 2018

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan mengharap berkah dan keridhoan dari Allah, saya dedikasikan tulisan ini kepada saudari muslimah yang dirahmati Allah, muslimah yang tak kenal henti untuk menjadi hamba yang taat, muslimah yang senantiasa ingin menjadi lebih baik dan tentu kepada muslimah yang membuka ruang pikirnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Menyikapi aksi Women’s March Jakarta 2018 pada tanggal 3 Maret lalu, agaknya kita memang perlu saling mendinginkan kepala agar yang mengiringi alur pikir adalah pikiran yang tenang, dan tidak saling serang. Berbeda pendapat itu sangat wajar selama kita saling menghargai satu dengan yang lain. Beda pemahaman pun sangat wajar karena setiap orang berhak menentukan dari arah mana mereka menentukan kemana arah pikirannya. Namun yang perlu diingat, dalam Islam sudah ditentukan kebebasan mengungkapkan pendapat agar sesuai dengan al qur’an dan sunnah sehingga tidak membuat kita hilang arah, apalagi sampai menantang aturan Tuhan. Mari kita mulai mengkritisi 8 (delapan) tuntutan perempuan dalam aksi Women’s March Jakarta pekan kemarin.

1.  Menghapus kebijakan yang diskriminatif dan melanggengkan kekerasan berbasis gender. 

Kebijakan yang dianggap diskriminatif dan diangkat dalam aksi adalah pasal 484 ayat (1) huruf e yang berbunyi; Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan; ayat (2) “Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan penuntutan kecuali atas pengaduan suami, istri atau pihak ketiga yang tercemar”. Permasalahan yang kemudian ingin diangkat dalam Women’s March karena dua pasal tersebut justru akan menimbulkan beragam masalah baru, di antaranya, potensi penggerebekan atas tuduhan zina. Sebelum saya tanggapi, saya ingin ingatkan bahwa yang menjadi rujukan saya adalah qur’an dan hadits juga ijma’ ulama sehingga memang diperuntukan bagi penganut agama Islam. Maka, jika pun ada tuduhan atau fitnah zina kepada seseorang, pihak yang menuduh atau melaporkan harus menghadirkan empat orang saksi (laki-laki) jika tidak bisa menghadirkan empat orang saksi, maka yang menuduh harus didera sebanyak 80 kali. Hal ini seperti firman Allah dalam surat An Nuur ayat 4, “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik berzina, dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Maka jika ada pihak-pihak yang merasa terganggu, tercemar dengan adanya perzinaan, mereka tetap tidak boleh main hakim sendiri apalagi menyebarkan berita yang belum tentu terjamin kebenarannya. Sehingga dua pasal yang dianggap bermasalah tersebut tidak merugikan siapapun. Akan tetapi menjadi payung hukum yang justru melindungi perempuan juga laki-laki agar jangan sampai tercebur ke dalam persetubuhan yang dilarang baik dari hukum negara apalagi hukum agama.

Sebagai seorang muslim dan muslimah, Allah memberikan kita perlindungan dan penjagaan dengan perintah menutup aurat. Maka sudah semestinya, baik laki-laki maupun perempuan menutup aurat, menjaga pandangan dan menjaga kemaluannya agar tidak terperosok dalam pelecehan seksual atau malah dengan sengaja melakukan persetubuhan yang memang dilarang agama. Dalam aksi Women’s March di beberapa kota, dapat kita temukan poster-poster yang diklaim sebagai aspirasi kaum perempuan. Kaum perempuan yang bingung akan identitas keislamannya. Berikut beberapa poster yang mereka bawa.

Hasil gambar untuk womens march indonesia

Gambar terkait

2. Mengesahkan hukum dan kebijakan yang melindungi perempuan, anak, masyarakat adat, kelompok difabel, kelompok minoritas gender dan seksual dari diskriminasi dan kekerasan berbasis gender. 

Melindungi perempuan, anak, masyarakat adat, kelompok difabel sudah menjadi fokus kegiatan pemerintah dari tingkat kota sampai negara. Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (pasal 1 ayat 2 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Setiap Anak Penyandang Disabilitas berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial (pasal 12 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Jika kita mau mengingat kembali UUD Tahun 1945, negara sudah melindungi anak-anak. Laki-laki dan perempuan punya hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, untuk menganut kepercayaan yang diyakini. Maka sebenarnya, hukum dan kebijakan yang melindungi perempuan, masyarakat adat, anak-anak termasuk kelompok difabel sudah dilindungi oleh negara. Contoh sederhana sebagai bentuk perlindungan bagi kelompok difabel adalah dengan tersedianya toilet khusus penyandang disabilitas di tempat-tempat umum seperti trotoar, rumah sakit, terminal, dan stasiun. Dan hal yang menjadi kritisi saya adalah perlindungan bagi kelompok minoritas gender dan seksual dari diskriminasi dan kekerasan. Antara lucu tapi kesal dengan tuntutan ini karena sepertinya inilah yang lebih menjadi fokus aksi Women’s March. Hal ini bisa kita temukan pada foto-foto kegiatan aksi yang diunggah pada pelbagai akun Instagram Women’s March di beberapa kota di Indonesia.

Gambar terkait

Hasil gambar untuk womens march indonesia

Kelompok minoritas gender dan seksual yang dimaksud itu siapa? LGBT? Indonesia sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, dimana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya menyesuaikan dengan sila tersebut, kan? Nah, kaum feminis mah gitu, suka buat bingung dan aneh cara berpikirnya. Mereka menolak aturan dari agama, karena katanya Indonesia bukan negara yang pakai syariat Islam sebagai dasar hukumnya. Giliran dibuat undang-undang yang gak sesuai dengan mau mereka pun ditolak. Jadi sebenarnya, kalian itu mau kemana wahai penganut feminisme? Hah?! Ini Indonesia, negara dimana keberagaman ada dan Indonesia menjadi indah dengannya. Akan tetapi, bukan berarti kita membiarkan adat ketimuran Indonesia tercemar karena segelintir golongan seperti LGBT dan atau semacamnya.

3. Menyediakan akses keadilan dan pemulihan terhadap korban kekerasan berbasis gender

Seperti telah saya sebutkan di atas, bahwa negara melindungi setiap warganya secara adil. Akan tetapi, saat ini hukum seperti tak punya nyali. Tajam ke kalangan bawah, dan tumpul ke kalangan atas. Keadilan yang sering digaungkan seakan hanya jadi isapan jempol, hanya menjadi wacana. Rakyat kecil tidak boleh tersandung kasus hukum karena akan sulit mendapatkan pembelaan jika berhadapan dengan orang berduit. Di Indonesia ada Komnas Perempuan untuk akses keadilan dan pemulihan korban kekerasan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau biasa disebut Komnas Perempuan adalah lembaga negara yang independen untuk penegakkan hak asasi manusia perempuan Indonesia. Lembaga ini dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 181 Tahun 1998, pada 9 Oktober 1998, yang diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2005. Mungkin yang menginisiasi aksi Women’s March belum tahu tentang informasi mengenai Komnas Perempuan ini, sehingga masih dijadikan tuntutan kepada pemerintah, padahal sejak lama sudah ada, hehehe.

4. Menghentikan intervensi negara dan masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas warga negara

Saya mengernyitkan dahi ketika membaca poin yang ini. Memangnya apa yang dilakukan negara kepada warganya sehingga disebut mengintervensi masyarakat terhadap tubuh dan seksualitas? Kalau kamu bingung, saya juga. Hahaha. Eh mohon maaf, beneran ini saya yang terlalu polos atau bagaimana? Indonesia dengan mayoritas penganut agama Islam, membebaskan warga negaranya berpakaian seperti apa. Hanya saja, memang diharapkan setiap warga negara bertanggung jawab dengan dirinya masing-masing. Nah, yang disuarakan dalam aksi Women’s March kemarin itu sebenarnya gimana? Saya coba menangkap dari poster yang mereka angkat.

Hasil gambar untuk womens march indonesia

Saya curiga, yang mereka tuntut sebenarnya bukan pemerintah, tapi Allah sebagai Tuhan. Aturan menutup aurat, menjaga pandangan dan kemaluan itu dari Allah, bukan dari aturan negara. Termasuk tentang seksualitas. Itupun adalah ketentuan dari Allah. Fitrah laki-laki adalah menyukai perempuan, dan sebaliknya. Maka jika ada warga negara yang merasa negara mengintervensi masyarakat terhadap tubuh dan seksualitasnya, barangkali warga itu adalah bagian dari golongan yang menyimpang pemikiran dan pemahamannya.

5. Menghapus stigma dan diskriminasi berbasis gender, seksualitas dan status kesehatan

Lagi-lagi, saya menaruh curiga bahwa aksi Women’s March ini memang sengaja membela kelompok tertentu yang mendukung dan berharap ada ruang bebas bagi masyarakat LGBT. Di rumah sakit atau Puskesmas, disediakan pelayanan kesehatan bagi laki-laki dan perempuan. Kaum LGBT merasa didiskriminasi karena tidak mendapat pelayanan? Coba disesuaikan lebih dahulu identitasnya agar bisa mendapat layanan kesehatan dan diakui keberadaannya oleh tenaga-tenaga kesehatan. Jadi, kita menyesuaikan diri dengan aturan yang ada. Masih ingat tidak? Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Bukan aturan yang menyesuaikan dengan keinginan masyarakat, tetapi masyarakatlah yang harus menyesuaikan diri dengan norma dan aturan yang berlaku.

6. Menghapus praktik dan budaya kekerasan berbasis gender di lingkungan hukum, kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan, dan pekerjaan

Pertama, di lingkungan hukum, sudah ada Komnas Perempuan untuk mengajukan aduan jika terjadi kekerasan. Sekarang pun sudah banyak berdiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang akan membela masyarakat yang kesulitan mendapat akses keadilan di hadapan hukum negara. Kedua, kesehatan, kegiatan mal praktik mendapat perhatian khusus dari pemerintah, termasuk adanya pidana bagi tenaga kesehatan yang terbukti melakukan kekerasan atau pelecehan kepada pasiennya. Dengan adanya ahli-ahli medis dengan berbagai spesialisasi dan diisi oleh kaum perempuan, setidaknya membuktikan bahwa pemerintah memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk menjadi ahli di bidangnya. Maka, dari pendidikan dan pekerjaan pun demikian. Secara khusus, Dr. Ali Al Ghamidi dalam bukunya memberikan sebuah pesan agar kaum muslimah mempelajari berbagai cabang ilmu dengan tetap memperhatikan kesesuaian antara kemampuan dan kondisi perempuan. Maka perempuan pun bisa tetap menjadi seorang ahli di berbagai bidang yang memang memberi kemaslahatan khusus bagi kaum perempuan.

Ketiga, kita kembali kepada aturan agama, kewajiban mencari nafkah ada di punggung laki-laki meskipun perempuan diperbolehkan mencari penghasilan sendiri. Istri Abdullah bin Mas’ud, Zainab, ikut suaminya bekerja di tempat pemintalan benang karena ingin mengeluarkan zakat maal dan menyambung silaturahim kepada suami dan yatim yang diasuh olehnya. Zainab memiliki pekerjaan, penghasilan dan menyalurkannya sebagai zakat. Ini adalah contoh hak wanita dalam pekerjaan yang bisa diteladani. Ketika seorang muslimah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sejatinya itu memang menjadi milik ia sepenuhnya. Dan bernilai ibadah jika disedekahkan atau disalurkan sebagai zakat. Inilah yang sepatutnya juga dilakukan muslimah hari ini, jadi ketika memiliki penghasilan, bukan untuk dihamburkan apalagi untuk menyaingi penghasilan yang dimiliki suami. Kaum feminis mengkampanyekan isu bahwa erempuan dianggap terbelakang karena hanya mendapat sedikit bagian. Padahal, jika mau dicermati lebih dalam, pekerjaan besar diberikan kepada laki-laki karena laki-laki memiliki tanggungan. Tidak seperti muslimah, karena muslimah berada dalam tanggungan. Jika masih gadis dan ada ayah, maka muslimah menjadi tanggungan ayahnya. Jika ayahnya sudah tidak ada, maka saudara laki-laki mukallaf yang bertanggung jawab terhadapnya. Jika sudah menikah, maka muslimah menjadi tanggungan suaminya. Dengan demikian, perempuan bisa terhindar dari tindak kekerasan atau berbagai tindak kriminalitas yang mungkin saja terjadi ketika sedang bekerja dan atau sedang dalam perjalanan berangkat dan pulang bekerja.

Jika kita mau belajar, sebenarnya saat ini tersedia banyak kesempatan bagi perempuan untuk tetap berkarya dan mengaktualisasikan kemampuannya. Bisa dengan membuka usaha dari rumah atau ikut serta kegiatan bermanfaat lainnya yang tidak mengundang orang lain berbuat kejahatan. Karena kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku tapi karena ada kesempatan pada diri calon korban.

7. Menyelesaikan akar kekerasan yaitu pemiskinan perempuan, khususnya perempuan buruh industri, konflik SDA, transpuan, pekerja migran, pekerja seks dan pekerja domestik

Semakin ke poin akhir dari tuntutan pada aksi Women’s March, kita seperti dibukakan mata bahwa aksi ini tidak sepenuhnya membela dan menyuarakan aspirasi perempuan melainkan hanya sebagian golongan yang merasa kenyamanannya terancam dengan RKUHP yang menjadi tuntutan mereka. Ada Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Bab III
Pasal 5 “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan” dan Pasal 6 “Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha”. Atau ada bab yang khusus membahas tentang perlindungan, pengupahan dan kesejahteraan dalam Bab X UU No. 13 Tahun 2003. Artinya, sudah ada payung hukum dan perempuan mempunyai hak yang sama dari perusahaan, tanpa diskriminasi.

8. Mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif menghapus praktik dan budaya kekerasan berbasis gender di lingkungan hukum, lingkungan hidup, pendidikan, dan pekerjaan

Dan terakhir, poin kedelapan yang menjadi tuntutan aksi Women’s March, masyarakat diajak berperan aktif menghapus praktik dan budaya kekerasan. Saya sepakat tapi tidak dengan kalimat setelahnya. Sedikit banyak sudah disampaikan pada poin-poin sebelumnya jika aksi ini lebih mengedepankan kepentingan kelompok minoritas seperti LGBT dan orang-orang liberal yang terbiasa melawan aturan-aturan Tuhan untuk kepentingan dan kesenangan mereka.

Itulah kedelapan tuntutan kepada pemerintah yang disuarakan Women’s March pada tahun 2018 ini. Dari kesemua tuntutan tersebut di atas, berulang kali basis gender dijadikan fokusnya. Istilah gender dapat diartikan sebagai konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin, sehingga banyak orang yang mengatasnamakan gender sebagai pembelaan atas perlakuan yang tidak diharapkan. Entah itu berupa kekerasan, pelecehan, atau dalam bentuk diskriminasi di berbagai ranah kehidupan sosial masyarakat.

Mohon maaf kepada rekan sekalian yang memiliki pandangan berbeda dengan apa-apa yang telah saya utarakan. Sejatinya, saya hanya ingin beropini dan opini tentu saja akan mengundang pro dan kontra. Maka silakan bagi yang ingin menyampaikan tanggapan balasan dari tulisan ini. Semoga Allah merahmati kita dalam iman selalu agar pikiran dan hati damai selalu.

Salam hormat,

Hajiah M. Muhammad

Depok, 8 Maret 2018

#LawanBersama

Kamu muslimah tapi ikut kaum feminisme? Sini yuk duduk bareng. Sambil ngobrol asik di taman kota atau di warung kopi juga boleh. Tapi kamu harus janji untuk kembali. Kembali berpegang teguh pada agama yang Allah ridhoi. Kembali meyakini dan menaati perintah Allah yang menguasai hati.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

Duhai yang cantik hati dan parasnya, sebagai seorang muslimah artinya kita punya kedudukan lebih mulia sebab Islam hadir di tengah kehinaan kaum perempuan yang dilecehkan, direndahkan bahkan tak sedikit yang harus meregang nyawa dalam penderitaan. Tetapi Islam dengan kasih sayang Allah yang disampaikan dalam ayat-ayat qur’an menjadi cahaya, petunjuk dan membuka banyak harapan bagi kaum perempuan. Menjadi muslimah adalah keistimewaan tanpa harus menuntut apapun sebagai pembelaan atas pengingkaran terhadap aturan dalam qur’an. Apa yang sebenarnya hendak dicari? Kesetaraan? Kedudukan? Pengakuan? Penghormatan dan kebebasan? Semoga bukan itu yang menjadi tujuan sebab tugas kita sebagai hamba yang beriman adalah beribadah kepada Allah dengan setulus-tulus penghambaan.

Kaum feminisme hadir mencabik-cabik keistimewaan perempuan dalam Islam. Memunculkan keraguan dalam keimanan, menimbulkan keresahan dan ketakutan dari logika yang diputarbalikan. Maka jangan heran jika mereka (kaum feminisme) sering menuntut kesetaraan, pengakuan dan kebebasan. Mereka sebenarnya tak memahami apa yang mereka suarakan. Hanya menampakan kedunguan pikiran yang lahir dari hati yang tak beriman. Mereka tak yakin dengan aturan yang telah Allah tetapkan dalam qur’an sehingga mencari beragam pembelaan seolah Islam mendiskreditkan kaum perempuan, seolah Islam mengesampingkan kedudukan perempuan. Padahal, sama sekali tidak demikian. Maka di ruang yang sangat terbatas ini, izinkan saya sampaikan bagaimana Islam memuliakan perempuan tanpa sedikit pun melepaskan hak-hak sebagai hamba Tuhan.

Sumber penetapan hak adalah syariat, yaitu apa yang ditetapkan Allah dalam ayat-ayat qur’an, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam juga dari ijma’ ulama. Dengan demikian, penerapan hak semestinya harus sesuai dengan syariat, bukan dari sembarang rekayasa manusia. Jika kita mau cerna lebih jauh, tidak ada syariat Islam yang merugikan salah satu pihak karena baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk jadi hamba yang bertakwa, menjadi hamba yang mendapat ampunan, hamba yang dinaungi kasih sayang Allah jika beriman dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allah Maha Bijaksana maka takkan berlaku zalim kepada manusia, justru manusialah yang seringkali berbuat zalim terhadap Allah, bahkan terhadap diri mereka sendiri.

Syariat menyamakan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan, hal ini seperti ayat yang begitu rinci memperhatikan kedudukan muslim dan muslimah dalam Islam.

Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Ahzab : 35)

Kesetaraan. Dari ayat tersebut di atas, itulah kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Allah tidak membedakan apakah dari kaum adam ataukah kaum hawa yang akan mendapat ampunan dan pahala, tetapi Allah memberikan kepada yang menjalankan perintah-perintah-Nya. Pahala diberikan kepada yang sungguh-sungguh beramal dan beribadah kepada-Nya. Tentang kewajiban pun demikian. Baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk taat. Mau cari pembelaan karena belum sepenuhnya taat? Soal menutup aurat misalnya. Apakah menurutmu kewajiban menutup aurat hanya untuk perempuan? Eits, mungkin kamu lupa sama ayat ini.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nuur : 30)

Aturan yang Allah perintahkan semata-mata sebagai bentuk kasih sayang, pun kepada perempuan. Bahkan Allah menjaga kaum hawa dari ujung kepala hingga ujung kakinya dengan aturan menutup aurat ini. Tidak lain adalah sebagai bentuk memuliakan perempuan agar tak dipandang rendah, agar tak dianggap hina untuk kemudian dijadikan pemuas nafsu belaka. Lantas, apa yang membuat perempuan merasa tak dianggap dan tak dimuliakan dalam Islam?

Kebebasan. Di antara poin yang sering digaungkan kaum liberal adalah tentang kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan berkeyakinan, kebebasan hak asasi manusia dan lain sebagainya yang merupakan bentukan dari pikiran rancu yang ragu terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam Islam, Allah membebaskan hamba-Nya dengan memenuhi hak-hak sebagai ciptaan Tuhan. Diberi rezeki, diberi waktu luang, diberi berbagai kenikmatan yang dapat diperoleh dengan mudah meskipun juga ada yang perlu diraih dengan susah payah. Tapi sekalipun Allah tidak pernah berlaku zalim kepada manusia. Allah memberikan kebebasan untuk berpikir tapi tetap dalam keimanan, Allah membebaskan hamba-Nya untuk bertebaran di muka bumi tapi tetap dalam ketakwaannya. Maka Allah firmankan agar kebebasan kita tidak melampaui batas, agar kebebasan kita tidak melanggar syariat Islam.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al Baqarah : 190)

Kebebasan untuk melindungi hak-hak pribadi juga masyarakat diperbolehkan. Kita bahkan dipersilakan jika ingin melakukan perlawanan kepada orang-orang yang memerangi kita. Kita diperbolehkan melakukan perlawanan jika hak-hak sebagai seorang muslimah dihinakan. Kita diperbolehkan melakukan perlawanan jika hak-hak sebagai perempuan dilecehkan. Maka tidak ada alasan untuk menuntut kebebasan yang lain. Betul memang, adalah hak setiap orang untuk bebas sesuai syariat atau bebas kebablasan, semua akan menanggung apa yang dilakukannya. Tapi perlulah kita saling mengingatkan agar kita tidak menjadi golongan yang melampaui batas. Larangan Allah dianggap penjara dan merasa merdeka dengan pemikiran-pemikiran yang tak tentu arahnya.

Adapun kebebasan berpendapat, ini pun diatur dalam Islam. Tidak ada paksaan dalam Islam, setiap orang diberi kebebasan meyakini atau mengingkari. Tetapi Islam memberi batasan dan pedoman bagi yang beriman dan berpegang teguh pada aqidah yang lurus, memberi peringatan bagi yang lalai dan ancaman bagi yang mengingkarinya, serta tidak membenci orang-orang yang berbuat zalim terhadap umat Islam. Seorang muslimah dituntut untuk menunaikan kewajiban dan akan mendapatkan hak-haknya, tanpa terkecuali dalam mengemukakan pendapat.

Pada suatu ketika, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sedang berkhutbah. Dia berkata, “Ingatlah! Janganlah kalian berlebihan dalam memberi mahar kepada wanita”. Kemudian salah seorang wanita berdiri dan berkata, “Wahai Umar! Allah telah memberikannya kepada kami dan kau mengharamkannya? Bukankah Allah telah berfirman, “….Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak maka janganlah kamu mengambil kempadi daripadanya barang sedikit pun” (QS. An Nisa’ :20). Umar lantas berkata, “Wanita ini benar dan Umar salah” (Ali bin Sa’id bin Ali Al Ghamidi, Daliilul Mar’atil Muslimah, hal. 177)

Jika pun berbeda  pendapat dan pemahaman terhadap sesuatu hal, itu tidak dilarang selama masih diiringi sikap saling menghormati dan menghargai. Namun, sebagai seorang muslimah harus tetap berhati-hati agar pendapat yang disampaikan tidak menyulut permusuhan, tidak mengundang pertikaian, dan sebaiknya disampaikan dengan ilmu bukan sebatas luapan emosi karena merasa pendapatnya diabaikan.

Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang memberi penerangan. Sambil memalingkan lambungnya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat kehinaan di dunia, dan pada hari kiamat Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya), “Itu karena perbuatan yang dilakukan dahulu olehmu dan Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-Nya” (QS. Al Hajj : 8-10)

Secara khusus, Dr. Ali Al Ghamidi dalam bukunya memberikan sebuah pesan agar kaum muslimah mempelajari berbagai cabang ilmu dengan tetap memperhatikan kesesuaian antara kemampuan dan kondisi perempuan. Maka perempuan pun bisa tetap menjadi seorang ahli di berbagai bidang yang memang memberi kemaslahatan khusus bagi kaum perempuan.

Kepemilikan. Istri Abdullah bin Mas’ud, Zainab, ikut suaminya bekerja di tempat pemintalan benang karena ingin mengeluarkan zakat maal dan menyambung silaturahim kepada suami dan yatim yang diasuh olehnya. Zainab memiliki pekerjaan, penghasilan dan menyalurkannya sebagai zakat. Ini adalah contoh hak kepemilikan wanita yang bisa diteladani. Ketika seorang muslimah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sejatinya itu memang menjadi milik ia sepenuhnya. Dan bernilai ibadah jika disedekahkan atau disalurkan sebagai zakat. Inilah yang sepatutnya juga dilakukan muslimah hari ini, jadi ketika memiliki penghasilan, bukan untuk dihamburkan apalagi untuk menyaingi penghasilan yang dimiliki suami. Kaum feminis mengkampanyekan isu kepemilikan dari aturan Islam tentang hukum waris. Perempuan dianggap terbelakang karena hanya mendapat sedikit bagian. Padahal, jika mau dicermati lebih dalam, hak waris lebih besar diberikan kepada laki-laki karena laki-laki memiliki tanggungan. Tidak seperti muslimah, karena muslimah berada dalam tanggungan. Jika masih gadis dan ada ayah, maka muslimah menjadi tanggungan ayahnya. Jika ayahnya sudah tidak ada, maka saudara laki-laki mukallaf yang bertanggung jawab terhadapnya. Jika sudah menikah, maka muslimah menjadi tanggungan suaminya. Seperti itulah, sehingga tidak ada pembelaan untuk membenarkan kepemilikan perempuan disamaratakan dengan kepemilikan laki-laki. Dalam Islam, muslimah diberi hak penuh atas penghasilan yang ia dapat dari pekerjaan atau usaha yang ditekuni, diberi hak penuh atas warisan yang didapatkan, diberi hak penuh untuk mengatur harta yang dimilikinya tanpa kewajiban menanggung orang lain seperti laki-laki. Maka, sudah sepatutnya muslimah menerima dengan lapang tanpa menuntut hak kepemilikan agar disetarakan dengan kaum adam.

Terakhir tapi bukan paling akhir, kedudukan muslimah dalam pernikahan. Adakah perempuan dirugikan dan menjadi objek kekerasan? Itu oknum, bukan Islam. Islam itu sempurna, tapi penganutnya tidak. Ungkapan itulah yang kemudian seperti menjadi kalimat penutup untuk membungkam dan mengakhiri perselisihan dengan kaum liberal. Perempuan dalam pernikahan memiliki kedudukan yang istimewa. Mereka menjadi tanggungan suami, mereka tidak diberi kewajiban memberi nafkah, bahkan bisa masuk surga dari pintu manapun seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam,  

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Tentunya, taat dalam kebaikan karena tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Setelah menikah, perempuan punya istana yaitu rumahnya. Setiap suami dan istri yang memahami kewajiban masing-masing, insyaallah akan Allah jaga pernikahannya dalam kebaikan yang berlipat ganda. Maka hak-hak di antara keduanya otomatis terpenuhi tanpa ada pihak-pihak yang dizalimi. Kaum feminis seakan tidak kenal bosan untuk membuat perempuan kebingungan akan identitas yang sesuai dengan fitrahnya. Maka sebagai seorang muslimah, kita pun punya kesempatan untuk memberi edukasi bahwa menjadi muslimah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya sudah lebih dari cukup istimewa sehingga tidak perlu lagi menuntut apapun dari orang lain.

Hak dan kewajiban seorang muslimah sudah diatur sedemikian rapi dan penuh kasih sayang dalam Islam, maka seyogyanya kita pun mematuhi aturan itu dengan ketulusan, dengan kerelaan sebagai tanda iman. Mereka yang memusuhi Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, jadikan pemicu semangat beriman dan meningkatkan ketakwaaan agar kita tak ikut pemikiran yang menyesatkan. Jika mereka punya jutaan cara untuk menimbulkan kekacauan dan kebingungan, kita cukup berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan dalam Al Qur’an. Semoga Allah menjaga kita selalu dalam sebaik-baik penjagaan, dalam balutan iman, dalam keteguhan hati berislam. Baarokallahufiikum.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 5 Maret 2018

Tersambar Petir

“Kamu belum layak mengaku telah berjuang mengejar impian jika kau belum berjuang bangun di sepertiga malam. Bermunajat dalam pengharapan yang dalam. Mengiba, meminta kekuatan dari Pemilik alam raya. Memohon kucuran berkah dan keridhoan dari Dzat Maha Kuasa atas segalanya”

Waktu pagi beberapa hari yang lalu. Merenungi kalimat petir yang menyambar meski hujan tak memberikan kabar. Petir yang menggelegar, membangunkan keterpurukan, membangkitkan kelesuan perjuangan. Kalimat dari siapa itu? Dari seorang fakir yang dhoif, Hajiah. Loh kok bisa? Iya bisa. Kamu pun bisa menyemangati diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita kembali kepada Allah, menyerahkan segala keluh kesah kepada-Nya, insyaallah tanpa dicari, tanpa dikejar. Semangat itu begitu menyulutkan api semangat berkobar. Percayalah, yakinilah. Sebab, jika dengan Allah saja kita tak yakin, bagaimana mungkin bisa menaruh kepercayaan kepada selain Allah? Lemah tanpa daya selain dari-Nya.

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. (HR. Muslim)

Hajiah M. Muhammad

Depok, 26 Januari 2018

Pelipur Lara

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [QS. Yunus (10):57]

Membuka tulisan sederhana dengan ayat pelipur lara. Sebaik-baik bacaan, sebaik-baik teman perjalanan, ialah Al Qur’an. Sejujurnya, saya sangat malu menuliskannya disini, tapi semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada saya.

Saya bersaksi bahwa Al Qur’an adalah penawar segala penyakit yang bersarang dalam hati. Segala sakit yang muncul karena ulah tangan perbuatan manusia itu sendiri. Dalam hati-hati yang lalai, dalam hati-hati yang terluka karena kezaliman yang dilakukan oleh orang itu sendiri.

Maka ketika ada yang mengeluhkan kehidupannya, saya tekankan agar lebih dulu mendekatkan diri kembali pada Allah. Tilawah, tadabbur sedalam-dalam penghayatan. Sampai hati merasa kembali tenang. Jika sudah tilawah dan tadabbur tapi masih merasa kesakitan, artinya kita belum sepenuhnya berniat mengobati luka dalam hati. Ada ketentraman yang begitu menyejukan, ada kebahagiaan yang begitu meneduhkan ketika kita memaknai ayat-ayat dengan ketulusan, dengan ketunduk-patuhan kepada Ar Rahman. Seakan dibelai, dipeluk erat hingga kita merasa begitu dekat meski mata tak mampu melihat Dzat Yang Maha Melihat.

Masyaallah, semoga kecintaan kepada qur’an, interaksi kita dengan huruf-hurufnya menjadikan syafaat dari qur’an kelak didapatkan. Allahummarhamna bil qur’an.