Menjadi Seperti

Selalu ada alasan untuk bersyukur di antara aneka rupa godaan untuk kufur. Sebab Allah selalu berikan kemudahan di tiap kesulitan, selalu lapangkan segala kesempitan, dan senantiasa menentramkan jiwa-jiwa yang dilanda kegelisahan. Semua adalah buah keimanan. Maka beruntunglah mereka yang beriman sejak dalam pikiran, terwujud dalam sikap dan ucapan.

Ada rasa cemburu kepada mereka yang beriman. Diamnya adalah zikir, ucapannya adalah nasehat, sehingga perilakunya berupaya menjadi sebaik-baik akhlak. Pantang bagi mereka menyakiti maka dalam ucap dan sikapnya sangatlah berhati-hati. Namun demikian, ketegasan dan keberanian menolak kemungkaran menjadikan mereka tak takut mati sebab dengan harapannya adalah keridhoan Ilahi.

Masyaallah, tidak heran jika banyak orang yang mencintai sebab mereka tak peduli pada sanjung puji, sungguh-sungguh hanya berharap Allah meridhoi. Sudah barang tentu keadaan demikian tidak didapat dalam masa yang sebentar. Ada perjalanan panjang hingga akhirnya mereka mendapat ketenangan dalam hati, keteduhan jiwa serta baik akhlaknya.

Aqidah yang lurus lagi selamat jadi pondasi, ibadah yang shahih jadi kebutuhan, akhlak yang mulia lagi kokoh jadi keseharian, maka insyaallah perlahan tapi pasti, menjadi seperti mereka tak hanya mimpi. Dan satu yang pasti, bermohon semoga Allah tetapkan iman dalam hati.

Depok, 17 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Sapu Tangan

Kadang, saya ingin pinjam kekuatan hatinya. Ia yang gigih meskipun dalam letih. Ia yang sabar meski tampak gusar. Ia yang semangat meski penat jelas terlihat. Ia yang selalu bisa menyembunyikan air mata tapi selalu menampakan canda tawanya.

Menjadi teman perjalanan yang menyenangkan pandangan dan hati juga jiwanya. Tapi memang layaklah balasannya surga, menjadi istri sholihah adalah cita-cita bagi setiap perempuan beriman. Menjalani langkah-langkah menuju mar’atush shalihah adalah perjalanan berat yang banyak ujiannya.

Menjadi shalihah bukan semata menjadi tujuan sebab ridho dan berkah Allah jauh lebih utama. Menjadi shalihah bukanlah tujuan sebab kita selalu sedang menuju, tak pernah sampai meski langkah semakin gontai. Menjadi shalihah bukanlah pencapaian apalagi sekadar gelar sebutan, sebab ia bukanlah semat panggilan melainkan hadiah bagi perempuan beriman. Yang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, taat kepada suaminya.

Kepadamu, pinjamkan aku bahumu agar aku lebih tegar, lebih sabar. Pinjamkan aku matamu, agar mampu membendung air mata sepertimu, menyembunyikan pilu yang tengah meliputimu. Mengubah tetes-tetes syahdu menjadi simpul senyum pada wajah orang-orang di hadapanmu. Pinjamkan aku diammu, agar mampu lisanku terjaga dari kata yang percuma, dari kata yang membekaskan luka.

Kepadamu, pinjamkan aku kesungguhan dan kegigihan, agar aku mampu mendampingi lelah dan letihmu, menjadi pelipur laramu. Agar aku mampu menjadi teman perjalananmu, menghabiskan sisa usia hingga kita menutup mata dan kembali berkumpul di jannah-Nya.

Kepadamu, tiada kata yang mampu tereja, tak mampu menguraikannya tuk meluapkan segala kesyukuran telah Allah karuniakanmu dalam suka dan duka. Tiada mampu mengutarakannya selain dengan kesahajaan cinta, doa-doa yang mengangkasa, serta sejumput harap semoga Allah berkahi perjalanan kita hingga bertemu dengan-Nya di surga. Duduk bersanding di atas dipan, menikmati buah perjuangan keimanan.

Depok, 14 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad.

Bersiaplah Untuk Kecewa

Pernyataan saya ketika ada yang mengeluhkan kekecewaannya terhadap orang lain, biasa saya sampaikan kepadanya, “Gak perlu marah sama orang yang buat kamu kecewa, apalagi sampai membenci dan memusuhinya. Siapa suruh berharap sama makhluk? Kalo berharap sama makhluk, ya harus siapkan ruang untuk kecewa”. Seketika itu pula, saya ditinggal pergi atau si empunya cerita malah menangis, ada juga yang senyum kecut, ada yang tertawa. Padahal, tidak ada yang lucu dari pernyataan saya tadi.

Hal ini pun berlaku bagi para orang tua. Saya yakin, setiap orang tua pasti memiliki banyak harapan pada “bahu” anak-anaknya. Para orang tua berharap jika anaknya mendapat berbagai pencapaian, seperti mendapat peringkat terbaik di kelas misalnya. Atau mendapatkan juara dalam sebuah kompetisi.

Tidak ada yang salah dengan harapan demikian, sangat wajar karena setiap orang tua tentunya ingin jika anaknya mendapatkan nilai yang bagus, prestasi yang gemilang. Namun, ada satu hal yang terkadang hilang dari orang tua ketika segala harapan-harapan kebaikan itu dicitakan, yaitu kesiapan hati menerima segala bentuk pencapaian yang diraih oleh anaknya.

Mengapresiasi sekecil apapun prestasi yang diraih anak adalah pembiasaan yang harus dilakukan setiap orang tua agar terlatih untuk menyiapkan diri jika ada kegagalan atau kekalahan yang didapatkan oleh anak. Selanjutnya, orang tua juga perlu menyiapkan anak agar mereka pun siap menerima kekalahan, agar tetap semangat ketika mengalami kegagalan.

Juga patut kita ingat bahwa membandingkan kemampuan dan pencapaian antara satu anak dengan anak yang lain, baik saudara sekandungnya atau dengan teman-teman di sekitarnya, adalah bentuk lain dari menjatuhkan semangat belajar anak. Kita, para orang tua, semestinya memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan berbeda.

Ada yang unggul di bidang ini, ada yang unggul di bidang itu. Maka yang perlu kita tanamkan kepada anak-anak adalah kecintaan terhadap ilmu, bukan tuntutan mendapat prestasi yang menggembirakan. Bukankah menghargai kegigihan dan semangat belajar anak lebih berharga daripada nilai yang ia dapatkan?

Pernah satu waktu, saya mendapatkan kisah dari salah seorang dokter anak. Beliau bercerita tentang dialog antara nenek dan para cucunya saat berkunjung ke kampung halaman sang nenek. Mereka bergabung dengan cucu nenek yang lain, duduk di teras pagi hari sambil menyantap camilan buatan nenek.
Nenek pun bertanya, “Kemarin sudah ambil raport ya? Siapa dapat peringkat 3 besar di kelasnya?”. Dua orang cucu mengangkat tangannya penuh gairah, seakan ada pancaran harap sang nenek akan berikan hadiah. Dan benar saja, sang nenek memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepada keduanya. Melihat itu, cucu yang lain tertunduk lesu. Seketika sibuk dengan kunyahan camilan yang tak bisa mereka telan.
Maka dokter itu, coba menghidupkan suasana kembali dengan melontarkan pertanyaan begini, “Paman mau tanya juga ah. Tapi fulan dan fulan gak boleh ikutan ya, kan sudah dapat hadiah dari nenek. Oke? Pertanyaannya, siapa yang ketika ujian semester ngejawab soal sendiri, gak nyontek?”. Ada sekitar 3-5 orang yang mengangkat tangan, masih agak lesu.
Sang paman pun tidak kehabisan akal, ia kumpulkan anak-anak yang tadi mengangkat tangannya, meminta mereka menghampiri pamannya. Mereka kebingungan. Sang paman menyampaikan kepada mereka dan kepada dua orang lainnya penuh bijak, “Prestasi bisa diraih, tapi kejujuran dan kesungguhan harus dilatih. Kejujuran dan kesungguhan itulah yang kadang orang lupa. Tapi, akan jadi hal berharga di masa depan kalian nanti. Jadi, paman mau kasih hadiah juga ke kalian yang sudah jujur dan sungguh-sungguh belajarnya”

Kesatuan pemahaman antara orang tua dengan anak menjadi kunci keberhasilan mempersiapkan diri menerima apapun hasil dari usaha yang dilakukan. Dengan catatan, orang tua dan anak saling menghargai, membuka diskusi, saling berlapang hati agar tidak ada pihak yang dihakimi ketika terjadi kegagalan atau kekalahan. Maka, bersiaplah untuk setiap peristiwa. Bersiaplah untuk kecewa jika harapan disandarkan selain pada Allah. Wallahu a’lam.

Depok, 6 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Dalam Doa

Duhai Allah, anugerahkan pada kami kesabaran yang tiada batasan. Lapangkan hati-hati kami menjalani segala ketetapan, lapangkan hati-hati kami melewati segala kepahitan. Duhai Allah, anugerahkan pada kami kesabaran yang tiada batasan. Jadikan hati-hati kami seteguh Ibrohim ‘alayhi sallam, juga setegar Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. 

Duhai Allah, anugerahkan pada kami rahmat dan barokah yang jadi pelepas dahaga menghadapi beragam ujian. Duhai Allah, anugerahkan pada kami kasih sayang, kelembutan dan kebijaksanaan, agar hati-hati kami senantiasa Kau liputi kedamaian, ketenangan serta keteduhan iman.

Jadikan hati-hati kami Ya Rabb, hati yang hanya bersandar kepada-Mu, hati yang hanya berharap kepada-Mu. Tunjukilah hati kami pada segala hal yang Kau ridhoi, agar hati kami senantiasa merasa cukup dengan pemberian-Mu. Jadikan kami Ya Rabb, hamba yang selalu bersyukur, bertafakur. Bimbing hat-hati kami di jalan-Mu. Di jalan orang-orang shalih yang mencintai-Mu, di jalan orang-orang takwa yang senantiasa memuji-Mu.

Duhai Allah, sungguh jika bukan karena rahmaan dan rahiim-Mu, kami termasuk orang-orang yang sengsara di dunia, entah bagaimana di akhirat sana. Maka Ya Rabb, jadikanlah kami hamba yang penuh kasih dan sayang agar hati senantiasa tenang. Jadikanlah kami Ya Rabb, hamba yang penuh kelembutan agar hati senantiasa diliputi kedamaian. Jadikan Ya Rabb, kami sebagai hamba yang pandai bersyukur, senantiasa bersabar dan beristighfar. Kami harapkan ampunan, keberkahan dan keridhoan dari-Mu, selalu.

Depok, 5 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Kemudian Istiqomah

Don’t be a servant of Ramadhan, be a servant of Allah. Be consistent even after Ramadhan.
#muslimpro

Dari sekian banyak bulan pada tahun Hijriyah, Ramadhan menjadi ruang persiapan bekal perjalanan di bulan-bulan berikutnya. Maka semangat kebaikan dan perbaikan selama Ramadhan seyogyanya dilanjutkan sekalipun Ramadhan telah berakhir. Namun memang, atmosfer keimanan dalam diri seperti mendapat letupan-letupan yang menjadikan semangat beribadah terus berkobar. Itulah kemudian yang menjadi harapan dan cita kita selepas Ramadhan sebab istiqomah, konsistensi dalam beribadah adalah upaya menyempurnakan keimanan.

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’ (HR. Muslim)

Istiqomah menjadi terasa istimewa karena tidak semua orang mampu menjalaninya. Ada beragam ujian kesungguhan, sebab istiqomah artinya kita bersungguh-sungguh dalam keimanaan. Meningkatkan kualitas ibadah, melaksanakan yang wajib, membiasakan yang sunnah. Maka menjadi keniscayaan kita dapat mencapai istiqomah dan tetap bermujahadah, berjuang menjaga keimanan dengan segala daya upaya dengan harapan Allah limpahkan kebaikan yang terus mengalir, keberkahan dan keridhoan-Nya yang tak pernah berakhir.  Jika sudah mendapat kenikmatan sedemikian syahdu, maka apalagi yang membuat kita ragu?

Tidak ada alasan untuk menunda kebaikan, maka menyegerakannya adalah keharusan. Pun dengan keistiqomahan. Meski berat, meski terasa melelahkan, apakah tidak cukup menjadi penyemangat segala kenikmatan dan kepastian janji Ar Rahman bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam menghambakan diri pada-Nya?

Nasihat ini sejatinya adalah untuk pengingat diri sendiri, berharap ada kebaikan yang bisa dibagi melalui tulisan nan sahaja ini.

Depok, 4 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Ketiga

Bismillaahirrahmaanirrahiim

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. An Nahl (16) ayat 78)

Bertemu dengan dr. Mima (dr. Andi Fatimah, Sp.OG.), -beliau praktek di RSIA Aulia Jagakarsa dan BWCC (Bintaro Women and Children Clinic) Jagakarsa-, baru bertemu beliau pada kehamilan ketiga ini. Sebenarnya masih ingin berkonsultasi dengan dr. Dian (dr. Dian Indah Purnama, Sp.OG.) seperti anak pertama dan kedua. Qadarullah, beliau pun sedang hamil, ditambah antrian pasien yang masyaallah saya selalu kehabisan slot ahahah. Alhasil, memutuskan untuk konsultasi ke dr. Mima di BWCC.

Saya tidak akan membandingkan keduanya, hanya membuat sedikit review dan semoga membantu yang membacanya. Kenapa keukeuh mau ke dr. Dian? Pertama, karena merasa sudah klop sejak kehamilan sebelumnya. Kedua, rumah beliau dekat dengan klinik, ya meskipun mungkin ketika lahiran bisa saja berjodoh atau tidak dengan beliau. Mengingat, beliau praktek di RS. Bunda Margonda dan RSIA Andhika Ciganjur. Saya pun tahu BWCC dari beliau melalui akun Facebook-nya. Ketiga, bagi orang yang pernah konsultasi dengan beliau mungkin pun sepakat bahwa keramahan dan ke-khas-an sapaannya kepada pasien yang super welcome, ngebuat saya merasa mendapat perhatian dari dokter meskipun dokternya dicari banyak orang.

Kenapa beralih ke dr. Mima? Saya agak malu mengungkapkannya, tapi melihat tempat praktek beliau yang tidak jauh dari rumah pun membuat kami akhirnya memutuskan untuk konsultasi ke beliau. Alasan berikutnya, beliau pun ramah meskipun memang pembawaannya lebih serius. Tetapi, jika kita mengajukan pertanyaan, baik secara tatap muka maupun by text (lewat WhatsApp), jawabannya mudah dipahami dan tidak menghakimi jika kita menyampaikan keluhan. Komunikatif dan kita sebagai pasien sebaiknya pro aktif agar waktu yang dipakai untuk mengantri tidak terlalu membosankan karena terbayar dengan durasi konsultasi yang lumayan lama. Berikutnya, jadwal prakteknya cukup banyak jadi kita lebih fleksibel untuk menyesuaikan dengan waktu luang kita.

_______________________________

Pada kehamilan ketiga ini saya lebih sering cek kandungan ke dr. Mima tapi partus dibantu sama dr. Dian. Hahaha. Itu pun keputusan diambil pagi hari di saat kontraksi sudah semakin teratur dan bidan jaga bilang sudah pembukaan 5! Kontraksi teratur berjarak 10-15 menit sekali dengan lama sekitar 1-2 menit setiap kontraksi, mulai saya rasakan sejak pukul 00.30 dini hari. Mencoba untuk memejamkan mata karena rasa kantuk pun kalah dengan nyeri-nyeri sedap yang masyaallah. Akhirnya memutuskan untuk shalat dan tilawah beberapa lembar. Alhamdulillah, jadi lebih tenang meskipun rasa sakit semakin tak tertahankan. Pukul 02.30 keluarlah cairan lendir berwarna agak merah muda, dan saya ingat, itu artinya memang sudah ada pembukaan jalan lahir tapi saya gak tau pembukaan berapa. Sedikit bingung apakah akan berangkat ke klinik sesaat setelah keluar lendir itu atau menundanya sampai beberapa jam ke depan. Tapi akhirnya, saya baru memberitahukan ke suami untuk berangkat ke klinik setelah shalat shubuh.

Pukul 05.10 kami berangkat ke klinik, membawa perlengkapan persalinan yang sudah saya siapkan jauh hari sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir ya, bukan Hari Pasti Lahiran :D). Sesampainya di klinik, langsung diarahkan ke ruang bersalin dan cek tensi darah, ditanya tentang kontraksi dan tanda-tanda persalinan lainnya. Saya pun menjawab dengan kronologi sampai akhirnya memutuskan untuk berangkat ke klinik. Dan ternyata setelah periksa dalam, sudah pembukaan 5.

Kalau tidak salah ingat, jarak dari pembukaan 5 ke pembukaan selanjutnya sekitar 1 jam dan pukul 07.30 masuk pembukaan 7. Tidak sampai 15 menit setelahnya, terasa air hangat mengalir didahului dorongan dari dalam. Sejak saat itu, tidak sampai pukul 08.00, masuk pembukaan 9 disertai dengan kontraksi yang semakin aduhai. Diminta untuk tetap tidak mengejan karena pembukaan belum lengkap, tapi rasanya janin mendorong dengan sangat kuat. Dengan tetap mengikuti instruksi bidan jaga untuk mengatur napas, pembukaan lengkap dan bayi keluar dibantu dokter dan beberapa orang bidan, alhamdulillah suara tangis bayi melenyapkan sakit yang sedari tadi mengiringi persalinan.  Untungnya, melahirkan itu sakit! Sakit yang dirindukan, eh 😀

Ahad pagi, 27 Mei 2018, pukul 08.06 lahirlah bayi laki-laki. Dengan berat 4.075 gram dan panjang 50 cm, lahir lewat 2 hari dari HPL-nya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menambah rasa syukur dan tafakur dengan setiap peristiwa dalam episode kehidupan. Audley Arsy Binaardi, adalah nama yang kami sematkan padanya, semoga ia tumbuh menjadi orang terhormat yang memiliki kedudukan dalam singgasana takwa, dalam keberkahan dan keridhaan Allah ta’ala.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih sempurna.”
[HR. Ibnu Majah]

 

Depok, 31 Mei 2018
Hajiah M. Muhammad
Penuh kesyukuran

Untukmu, Ji

Memasuki pekan tiga puluh tujuh usia kandungan ketiga, merasa begitu sumringah. Bukan, bukan karena semakin dekat dengan hari perkiraan lahir. Melainkan, pada kehamilan yang sekarang, Allah izinkan saya untuk menjadi bagian dari beragam agenda kebaikan. Innalhamdalillah. 

Dan hari ini, hari pertama di bulan Mei 2018, sengaja mengulang nasyid dari Brothers, Untukmu Teman. Membuka lembar demi lembar kenang perjuangan dari sebelum mengenal Islam hingga hari ini.

Saya mulai hijrah pada usia yang agak telat, yaitu sekitar 18 tahun. Hijrah dalam artian benar-benar memaknai Islam sebagai keyakinan bukan sebatas agama yang dianut. Betul memang, saya terlahir di dalam keluarga yang memeluk Islam dan sangat bersyukur atas hal itu. Tapi lebih jauh, saya lebih bersyukur karena Allah menuntun langkah pencarian ini sampai bisa seperti sekarang yang insyaallah jauh lebih baik jika dulu saya tidak memilih jalan ini.

Jalan cinta para pejuang, jalan cinta orang-orang yang bukan hanya memikirkan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya melainkan juga memikirkan orang-orang yang bahkan tak mengenalnya sebagai siapa. Dan saya, lebih bahagia ketika menjadi seperti mereka. Kebaikan terus dilakukan tanpa menoleh untuk mencari penghargaan, untuk mencari penghormatan. Sebab semua dilakukan sebagai bentuk kecintaan pada agama yang mulia ini.

Meneladani perjuangan Rasulullah shallallahu álayhi wasallam dan para sahabat tentulah melelahkan tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan untuk mengambil satu atau dua kebaikan dari mereka untuk dijadikan panutan. Menjadikan semangat perjuangan dari mereka sebagai pecut ketika langkah mulai lemah, ketika melaksanakan amanah terasa begitu menjemukan.

Lelah boleh, menyerah jangan. Itulah yang seringkali saya tekankan ke dalam diri sendiri ketika ingin mundur dan seakan beban terasa begitu memberatkan. Tapi ternyata, di antara sebab perasaan seperti itu hadir adalah karena kurangnya interaksi kita kepada Allah. Adapun shalat dan amalan-amalan yang dilakukan baru sampai diujung lisan sehingga tidak memberikan kekuatan, tidak memberikan kesejukan pada hati yang mungkin gersang.